Cerai?

4.8K 301 57
                                        

Happy Reading :)

Jangan lupa Vote dan Komen.

Kritik dan saran dipersilahkan :)

*****

Yogya terbuat dari rindu, pulang, dan angkringan.”

— Joko Pinurbo

Kia menghirup udara segar pagi hari di taman rumahnya. Sudah terasa lama ia meninggalkan kota kelahirannya. Kini, berada di rumah sendiri, ia merasa tak lagi memikul beban di pundaknya.

Kia memilih duduk di bangku taman—tempat favoritnya ketika membaca buku. Sebuah bacaan sudah ia bawa untuk mengisi pagi.

Maira masih terlelap, memberinya waktu lebih lama untuk menikmati me time.

Ia begitu larut dalam bacaannya. Matanya teliti memindai setiap kata. Sesekali ia menggarisbawahi kalimat yang menurutnya indah, dan bibirnya melengkungkan senyum kecil ketika menemukan makna yang menyentuh.
Karena terlalu larut, Kia tak menyadari kehadiran seseorang yang sudah berdiri di sampingnya.

“Ekhem.”

Deham itu menyadarkannya. Merasa waktunya terganggu, Kia mendongak.

“Serius sekali, Nona?”

“Jangan jangan dulu, janganlah diganggu. Biarkan saja, biar duduk dengan tenang,” jawab Kia santai.

Muh tertawa mendengarnya.

“Ketawa aja? Goyang dong, Tuan.”

Muh mengernyit bingung. “Apanya yang digoyang?”

Kia mendengus kesal. Ia kira Muh paham maksudnya.

“Joget, Tuan. Kan nyanyi,” jawab Kia dengan wajah sedih yang dibuat-buat.

“Haha, nggak ngeh kalau itu lagu,” sahut Muh tanpa dosa.

Kia hanya bisa menghela napas gemas.
Ia beristighfar. “Astaghfirullah… tega sekali. Ngebiarin saya ngereceh sendirian.”

“Hahaha. Saya memang nggak paham lagu. Lagu apa pun. Soalnya nggak suka lagu.”

Kia mendengus. Muh benar-benar menjengkelkan.

“Iya, paham. Nggak suka lagu—kan sukanya aku,” godanya dengan wajah tengil.

Melihat raut Muh berubah, Kia langsung terkekeh.

“Hehe, bercanda,” ujarnya sambil mengangkat jari membentuk tanda peace.

Muh mendengus kesal lalu memilih duduk agak menjauh.

“Di balik gombal nanti baper,” sergahnya sewot.

“Apa itu baper? Nggak tahu sama sekali,” goda Kia lagi.

Muh tersenyum tipis. Ia menyukai tawa Kia—itulah yang selalu ia rindukan.
“Keputusanmu sudah benar-benar bulat, Nona?”

“Hm. Sudah. Aku juga sudah mengurus pengajuannya ke hakim bersama Ayah.”

“Apakah suamimu menyetujuinya?”

“Dia harus setu—”

“TIDAK.”

Jawaban tegas itu memotong ucapan Kia. Kia dan Muh menoleh bersamaan.
Tsaqib mendekat. Kia pun berdiri, menunggu apa yang akan dilakukan suaminya.

“Apa maksudnya ini, Ki?” Sebuah map teracung tepat di depan wajah Kia.

“Bukankah isinya sudah jelas, Kak? Kenapa Kia harus menjelaskan lagi?”

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jan 18 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

AmorTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang