Tempat Baru

5.5K 311 30
                                        

Happy Reading :)

Jangan lupa Vote dan Komen.

Kritik dan Saran dipersilahkan :)

*****

4 jam perjalanan sudah ditempuh. Pesawat yang dinaikinya akan segera landing. Di kota ini dia akan memulai awal yang baru.

"Kai sama Nini pasti terkejut melihat kedatanganku," ucapnya sedih.

Sekeluar dari bandara, Kia menghirup udara segar perkotaan Kalimantan Selatan. Ya, disinilah dia sekarang, di Kalimantan.

Tempat kelahiran sang bunda menjadi tempat pelariannya. Rasanya, kurang tepat jika disebut pelarian, lebih tepatnya tempat untuk menenangkan diri.

Kia kembali memesan taksi online untuk menuju rumah Kai dan Nininya. Rumahnya terletak di Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Membutuhkan waktu 3 jam untuk sampai di kabupaten itu.

"Sepertinya Mbak bukan orang sini ya?" tanya Pak Sopir ramah.

"Iya pak, saya dari Yogyakarta."

"Ada keluarga ya Mbak?"

"Ada pak, Kai dan Nini saya asli disini,"

Setelah menjawab beberapa pertanyaan umum dari sopir taksi, Kia menikmati perjalanannya dengan melihat gedung-gedung tinggi Kalimantan Selatan yang tidak jauh beda dari Yogyakarta.

Dia ingin mengabadikan setiap momen perjalanannya tapi, HP nya lowbatt. Dan dia malas mengecasnya. Sengaja dia membiarkan mati sekalian. Setibanya di rumah Kainya dia akan mengecas HP.

Baru satu jam perjalanan, mata Kia mulai berat, kantuk menyerangnya. Akhir-akhir ini dia sering sekali lelah. Kia memutuskan untuk tidur selama sisa perjalanan.

*****

Sepanjang perjalan menunju Kota Istimewa, Tsaqib terus memikirkan ucapan Kia. Apakah istrinya itu sudah menyerah? Jika iya, Tsaqib tidak akan membiarkannya.

Apapun dan bagaimanapun respon mertuanya, dia akan menanggungnya.

Malam ini kota Istimewa diguyur hujan begitu lebat tapi, tidak menyurutkan niat Tsaqib untuk menemui istrinya.

Saat tiba di rumah Kia, gerbangnya sudah di tutup. Tsaqib melirik jam tangannya, masih jam 8 malam, masih belum terlalu larut, pikirnya.

Ting tong


Ceklek.

"Assalamualaikum, Bunda,"

"Wa 'alaikumussalam, Tsaqib, ada perlu apa nak? Apa semua baik-baik saja?"

Bunda Rahma cukup terkejut melihat kedatangan Tsaqib yang tiba-tiba.

"Ada siapa Bun?" sahut Barok, dibelakang istrinya.

"Ada Tsaqib yah,"

"Loh, ayo masuk nak," ajak Barok penuh perhatian.

Melihat kasih sayang kedua orang tua Kia, Tsaqib merasa sangat bersalah.

"Bagaimana kabarmu nak? Dimana Kia? Apa dia tidak kangen sama kami?" cerca Barok heran.

Tidak biasanya putrinya menolak untuk bertemu dengan dia dan istrinya.

AmorTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang