Happy Reading :)
Jangan lupa Vote.
Komen Kritik dan Saran di persilahkan :)
——🌹🌹🌹——
Semburat wajah bahagia tercetak jelas di wajah Kia. Pagi- pagi sekali dia sudah bangun membantu bundanya membereskan pekerjaan rumah. Dimulai dari menyapu, mengepel, membersihkan halaman, bahkan sampai memasak, Kia bantu semuanya.
"Tumben sekali, anak Bunda. Lagi belajar jadi istri, ya?"
"Ishh, Bunda, kok gituuu.." rengek Kia.
"Bunda, salah? Kia kan habis ini nikah, jadi harus belajar mulai sekarang," tutur Bundanya sabar.
Sebenarnya nikah adalah pembahasan yang sedikit sensitif bagi Kia. Sebisa mungkin dia selalu mencari alasan agar tidak membahas hal yang berbau kehidupan pernikahan tapi, kali ini bundanya membahas hal itu.
"Bunda ga salah tapi, Kia kan masih belum mau nikah Bun," jawab Kia jujur.
Bundanya tersenyum simpul, "Kia, jodoh ga ada yang tau kapan datangnya. Siapa tau, jodoh Kia datang hari ini, hmm?"
Kia diam. Lagi- lagi perkataan bundanya benar. Sampai kapan Kia akan mengatakan dia belum siap. Jika jodohnya datang hari ini, siap ataupun tidak dia tetap harus siap.
"Sudah jangan dipikirkan, mending sekarang kamu mandi. Sebentar lagi Bibi datang."
Kia mengangguk dan menuruti ucapan Bundanya.
"Kenapa, Bun?" tanya Barok yang baru saja keluar dari kamar.
Rahma menghela napas pelan. Semalam setelah makan dia sudah menceritakan maksud kedatangan Fatma pada suaminya. Namun, dia belum bisa berbicara pada Kia.
Barok yang mengerti keadaan istrinya berusaha mengatakan bahwa semua akan baik- baik saja.
"Tenang, biar aku nanti yang akan bicara sama Kia," ucap Barok.
Sebenarnya Barok pun tidak yakin tapi, dia harus melakukannya.
——🌹🌹🌹——
Deru mesin mobil memasuki pekarang rumah keluarga Barok. Kia yang mendengarnya lari ke arah jendela kamar, melihat siapa yang datang. Dia menduga jika itu mobil keluarga bibinya dan ternyata benar.
Sontak saja Kia keluar dari dalam kamar dan berlari menuruni tangga menyambut kedatangan sang bibi yang sudah ditunggu nya.
"Kia, jangan lari- lari," tegur Rahma mengingatkan Kia.
Kia sering kali ceroboh. Dia sering terjatuh karena kecerobohannya itu. Pernah sekali dirinya terjatuh karena tersandung kakinya sendiri saat berlari. Akhirnya kedua lututnya terluka.
"Maaf Bunda, terlalu seneng," jawab Kia dengan cengengesan.
Barok menggeleng heran. Tak habis pikir dengan tingkah pola putri semata wayangnya.
"Hei, Kia, apa kabar?" sapa Fatma pada Kia.
"Kia sehat, Bi. Bibi, apa kabar?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Amor
Fiksi RemajaBukan tentang memiliki atau dimiliki. Tapi, tentang ketetapan hati. ⚠ PLAGIAT GAUSAH MAMPIR! Highest Rank : 2 Kia ---- 12/ 06/ 2022 2 Ning -- 22/ 11/ 2022 1 Ning -- 26/ 11/ 2022 6 Poligami -- 02/ 12/ 2022 4 Poligami -- 05/ 12/ 2022 3 Poligami -- 06...
