Happy Reading :)
Jangan lupa Vote dan Komen.
Kritik dan Saran dipersilahkan :)
*****
Malam semakin larut, namun Kia masih enggan beranjak dari ranjang. Ia seolah melupakan pesan Nininya yang tadi sempat mengingatkan agar segera bebersih. Jarum jam dinding sudah menunjuk pukul sembilan malam—waktunya ia bangun untuk melaksanakan kewajiban sholat Isya sebelum kembali memejamkan mata.
Karena letak kamar mandi berada di luar kamar, Kia terpaksa keluar. Suasana rumah sudah begitu sepi; beberapa ruangan gelap karena lampu telah dimatikan oleh Kai. Kia menduga, Kai dan Nininya sudah lebih dulu terlelap.
Di luar, nyanyian alam terdengar jelas. Suara jangkrik bersahutan membentuk irama khas malam yang membuat telinga geli sekaligus tenang.
Tanpa menunda lagi, Kia segera mengambil air wudhu. Siraman air dingin membuat tubuhnya menggigil, maklum saja—rumah Kai Arul berada di daerah perbukitan, tempat udara malam terasa menusuk tulang.
Selesai berwudhu, ia melangkah ke musholla kecil rumah itu untuk sholat. Keheningan malam benar-benar menyergap hati, menghadirkan rasa damai yang menenangkan. Musholla itu tak terlalu besar, tapi cukup nyaman, mampu menampung dua orang bila berjamaah. Lampu temaram di dalamnya menambah suasana khusyuk.
Cukup lama Kia berdiam di sana, menikmati sunyi, hingga sebuah suara memecah lamunannya.
“Ki,” panggil seseorang lembut. Ternyata Kai Arul.
Kia lekas melepas mukena, lalu menghampiri. “Iya, Kai.”
Kai menepuk kursi kosong di ruang tamu, mengisyaratkan agar cucunya duduk di sana. Namun Kia memilih duduk di bawah, menyandarkan kepala pada lutut Kainya.
“Ceritakanlah, Nak. Kai akan mendengarkan,” ucap Kai Arul penuh pengertian.
Kelembutan Kai selalu membuat Kia merasa aman untuk berbagi. “Kai… apa salah kalau Kia minta cerai sama suami Kia?” suaranya lirih, nyaris bergetar.
Kai Arul sontak menghentikan elusan tangannya. Raut wajahnya terkejut. “Apa alasanmu, Nak?”
Kia terdiam sejenak sebelum akhirnya berbisik, “Kia… dipoligami, Kai.”
Kai menarik napas panjang. “Sabar, Nak. Itu ujian dari Allah. Ingat, Allah takkan memberi cobaan di luar batas kemampuan hamba-Nya. Kai tanya, hukum poligami itu apa?”
“Diperbolehkan, Kai… asal suami bisa adil,” jawab Kia, masih menunduk.
“Lalu, suamimu termasuk orang yang adil?” tanya Kai menelisik.
Kia terdiam. Pertanyaan itu terlalu sulit ia jawab.
Kai melanjutkan, “Nak, poligami memang diperbolehkan, tapi tidak dianjurkan, apalagi diwajibkan. Melakukannya bukan perkara ringan. Seorang laki-laki boleh menikah lagi, tapi idealnya ia meminta izin istri pertamanya.”
Sejenak Kai berhenti, lalu berkata lebih tenang, “Namun dalam syariat, sekalipun tanpa izin istri pertama, poligami tetap sah. Nah, di situlah ujian bagi sang istri. Bisa ikhlas atau tidak. Kau tahu, pahala istri yang taat itu luar biasa. Ia bisa masuk surga dari pintu mana saja. Lalu, bayangkan pahala seorang istri yang tidak hanya taat, tapi juga sabar ketika dipoligami. Lipat ganda, Nak.”
Air mata Kia tak terbendung. Ia merasa gagal. Gagal jadi istri taat, gagal pula jadi istri sabar.
“Sudah, jangan menangis,” Kai mencoba menenangkan. “Kai hanya mau tanya satu hal. Ayah dan Bunda tahu kamu ke sini?”
KAMU SEDANG MEMBACA
Amor
Teen FictionBukan tentang memiliki atau dimiliki. Tapi, tentang ketetapan hati. ⚠ PLAGIAT GAUSAH MAMPIR! Highest Rank : 2 Kia ---- 12/ 06/ 2022 2 Ning -- 22/ 11/ 2022 1 Ning -- 26/ 11/ 2022 6 Poligami -- 02/ 12/ 2022 4 Poligami -- 05/ 12/ 2022 3 Poligami -- 06...
