Happy Reading :)
Jangan lupa Vote dan Komen.
Kritik dan Saran dipersilahkan :)
---
Garis polisi melintang di lokasi kecelakaan. Jalanan macet panjang. Sirene ambulans dan mobil polisi saling bersahutan. Klakson kendaraan terdengar tak sabar. Beberapa tim medis berlari, memberi pertolongan pertama.
“Pak, maaf, sebenarnya ada apa di depan sana?”
Dengan peluh menetes, penjual koran itu menjawab, “Kecelakaan, Mas. Kelihatannya parah,” jelasnya.
“Emang apa, Pak, yang kecelakaan?”
“Truk ditabrak mobil, Mas. Orang perempuan. Maneng geulis pisan orangnya. Sudah ya, saya mau lanjut jualan.”
Tsaqib mengangguk. “Iya, Pak, terima kasih.”
Penjual koran itu berlalu, melanjutkan langkahnya menjajakan dagangan. Teriknya matahari tak mengurangi semangatnya mencari sepeser rupiah demi keluarga.
Pikiran negatif perlahan menyelinap ke benak Tsaqib. Ia menepisnya, mencoba meyakinkan diri bahwa Kia baik-baik saja. Ia tahu istrinya bisa menyetir, tapi belum pernah melihatnya melakukannya.
Perlahan mobil di depannya mulai bergerak. Tsaqib menatap ke depan, pikirannya menerawang jauh. Ia mencurigai seseorang sekarang. Dugaannya makin kuat setelah sahabatnya memberi kabar bahwa orang itu telah kembali. Ia pun meminta sahabatnya ikut membantu mencari Maira.
---
“Bundaaa... bundaaa... hikss...”
“DIAM! Bundamu tak akan datang. Dia sudah mati,” ucap orang itu kejam.
Maira menangis ketakutan. Ia takut kata-kata orang asing itu benar.
“Om jahat... Om jelek!”
“BUNDAAA! BUNDAAA!”
Orang itu membawa Maira ke sebuah gudang di pinggiran kota. Ia berniat menjual bocah itu.
“AYO CEPAT TURUN!”
“Hikss... hikss...”
Ciiittt!
Suara rem mobil terdengar nyaring. Sebuah mobil berhenti tak jauh dari mereka.
“Maira!” ucap seseorang khawatir.
Tsaqib menepikan mobil pada jarak aman. Ia segera menelpon sahabatnya untuk datang.
Setelah memberi tahu lokasi, ia turun dan berjalan cepat ke arah penculik itu.
“ADAM! LEPASKAN PUTRIKU!”
Orang yang dipanggil Adam menoleh. Ia menurunkan Maira, tapi tak melepaskan cengkeramannya.
“Wow, pahlawan kecilmu datang, Bocah,” ejeknya.
Maira menatap mata Abinya, tapi tak berani memanggil. Ia terlalu takut.
“Lepaskan dia, Adam. Sekarang!”
Adam terbahak. “Hahaha! Sayangnya aku tak takut dengan ancamanmu, Qib.”
Tsaqib maju selangkah—
Bugh!
Satu bogem mendarat mulus di pipi Adam hingga tersungkur. Darah segar mengalir di sudut bibirnya.
Adam bangkit. “Kurang ajar!”
Bugh! Bugh! Bugh!
Adam membalas pukulan bertubi-tubi. Keduanya saling menghantam, babak belur tanpa ampun.
KAMU SEDANG MEMBACA
Amor
Teen FictionBukan tentang memiliki atau dimiliki. Tapi, tentang ketetapan hati. ⚠ PLAGIAT GAUSAH MAMPIR! Highest Rank : 2 Kia ---- 12/ 06/ 2022 2 Ning -- 22/ 11/ 2022 1 Ning -- 26/ 11/ 2022 6 Poligami -- 02/ 12/ 2022 4 Poligami -- 05/ 12/ 2022 3 Poligami -- 06...
