Kejutan Tak Terduga!

4.2K 289 19
                                        

Happy Reading :)

Jangan lupa Vote dan Komen.

Kritik dan Saran dipersilahkan :)

*****
F

lashback On.

"Apa sesulit itu melupakannya?"

"Kenangan kita tidak sedikit, Tuan. Memang, kedekatan kita hanya setahun, tapi setahun sangat cukup untuk membentuk kisah, bukan?"

"Apa kau tidak berniat membuka hati?"

"Andai saja kau tahu, Tuan… aku sekarang berada di titik mati rasa. Cintaku sudah habis bersamanya."

"Apa jika aku mencintaimu, kau akan membuka hati?"

Deg.

"Apa maksudmu, Tuan?"

"Sama sepertimu yang pertama kali merasakannya. Rasaku juga mampir tiba-tiba dan tanpa bisa kucegah. Awalnya kukira ini hal biasa, layaknya kasih seorang kakak pada adiknya. Tapi tidak, aku salah. Aku benar-benar jatuh, Nona."

Kia terdiam. Terkejut. Sungguh ia tidak pernah menyangka kata-kata itu keluar dari bibir Muh.

"Tuan…" suaranya bergetar.

"Tak perlu kau jawab, Nona."

Flashback Off.

---

Pengakuan Muh terus menghantui Kia. Ucapannya seakan berulang di kepalanya. Tatapan Muh saat mengatakannya—bersungguh-sungguh, tanpa kebohongan. Kia tahu, lelaki itu tidak sedang bermain-main.

Namun justru itulah yang membuat dadanya sesak. Hatinya berontak. Cinta? Tidak mungkin. Ia tidak bisa, tidak boleh.

Bukan hanya karena cintanya telah ia titipkan pada Tsaqib, suaminya—lelaki yang ia rindukan setiap malam, sosok yang selalu hadir dalam doanya. Tapi juga karena sesuatu yang jauh lebih besar.

Kia teringat jelas malam itu, ketika Kai Arul—kakeknya—memanggilnya untuk berbicara di serambi rumah.

---

Flashback POV Kia.

"Aku lihat caramu menatap Muh beberapa waktu lalu," ucap Kai Arul pelan.

Kia mengerutkan kening. "Apa maksud Kai?"

Kai Arul menghela napas panjang, lalu menatap cucunya dengan mata teduh namun penuh wibawa. "Nak… ada hal yang harus kau ketahui. Hal yang mungkin selama ini tidak pernah terucap."

Kia menunggu, jantungnya berdegup tak karuan.

"Muh… dia adalah saudara sesusuanmu."

Deg. Dunia Kia seakan runtuh seketika. "A-apa?"

"Ibumu dulu menyusui Muh ketika dia masih bayi. Itu sebabnya, dalam hukum Allah, kalian adalah saudara. Dan itu berarti… tidak ada ruang bagi kalian untuk saling mencintai dengan cara laki-laki dan perempuan."

Kia tercekat, tak mampu berkata apa-apa. Suaranya hilang, hanya air mata yang menetes tanpa ia sadari.

"Kai tahu Muh anak baik," lanjut Kai Arul dengan suara berat, "tapi cinta yang dia simpan itu adalah cinta yang terlarang. Kai tidak ingin engkau terluka, Nak. Tidak ingin engkau terjebak dalam perasaan yang akan menodai garis ketentuan Allah."

Kia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Sakit. Bahkan lebih sakit daripada luka lama yang pernah ia rasakan.

---

AmorTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang