Happy Reading :)
Jangan lupa Vote dan Komen.
Kritik dan Saran dipersilahkan :)
*****
Enam hari sudah dilalui Muh dan Kia. Enam hari penuh perjalanan, doa, dan cerita yang mereka rangkai bersama. Namun, hari ini adalah hari terakhir sebelum keberangkatan Muh. Hati Kia ingin menolak kenyataan itu, tapi ia tahu, ia tak punya hak menahannya.
Seperti biasa, Maira ikut serta menemani Kia dan Muh. Bedanya, kali ini mereka tidak berangkat sepagi biasanya. Hari sudah agak siang ketika mobil Muh melaju di jalanan, sebab tujuan terakhir memang tak begitu jauh.
"Jadi, kemana tujuan terakhir kita?" tanya Kia sambil menoleh.
"Nanti kau akan tahu sendiri, Nona," jawab Muh dengan tenang.
"Yayaya, jawabanmu memang selalu begitu," Kia mendengus, pura-pura kesal.
Maira ikut menyahut dari kursi belakang, "Bunda, besok kita jalan-jalan lagi kan?"
Kia menoleh, mengusap lembut kepala putrinya. "Besok kita istirahat, sayang. Sudah enam hari Maira ikut jalan-jalan. Badanmu harus istirahat dulu."
"Ayah, besok jalan-jalan yaa," rengeknya berganti pada Muh.
Muh menatap Kia sejenak, lalu berkata lembut, "Sayang, bunda benar. Kalau terus-terusan jalan-jalan nanti Maira sakit. Besok kita istirahat, ya."
Maira terdiam, wajahnya merengut. Ia lalu menelungkupkan kepala di pelukan bundanya.
"Heii... dengar ya, Maira nanti akan punya banyak waktu untuk main sepuasnya. Tapi kalau sakit, Maira malah nggak bisa main sama sekali. Bunda nggak mau lihat tuan putri cantik sakit, hmm," bujuk Kia sambil mengusap pipi mungilnya.
Mata Maira berkaca-kaca, tapi akhirnya ia mengangguk kecil.
---
"Tuan, kau berhutang banyak cerita padaku," ancam Kia dengan senyum nakal ketika mereka turun dari mobil.
Mereka sudah sampai di Martapura, hendak bertabarruk ke makam Abah Guru Sekumpul setelah sebelumnya ke makam Habib Ibrahim al-Habsy dan Datuk Kalampayan.
"Iya, iya. Mana mungkin aku lupa. Kau selalu menagih di setiap perjalanan," jawab Muh pasrah.
Kia tertawa kecil. Ia memang tidak pernah kehabisan pertanyaan, dan Muh tahu itu. Sering kali pertanyaan Kia membuatnya pening, tapi ia tidak pernah benar-benar marah. Justru, diam-diam ia merasa pertanyaan Kia membuatnya lebih hidup.
Suasana makam Abah Guru Sekumpul begitu ramai. Deretan penziarah datang silih berganti, wajah penuh doa dan harapan. Begitu menapakkan kaki, hati Kia langsung bergetar.
Abah Guru Sekumpul, Muhammad Zaini Abdul Ghani, ulama karismatik yang menjadi teladan umat.
Muh memimpin doa, bacaan yasin, dan tahlil. Kia mengikutinya dengan khusyu’. Air matanya jatuh, seakan beban yang lama ia simpan luruh setiap kali ia mencurahkan keluh kesah di hadapan wali Allah.
Muh pun tenggelam dalam doanya. Hanya ia dan Rabb-nya yang tahu isi hatinya.
---
Dalam perjalanan pulang, Muh bercerita lagi. Tentang karamah Habib Ibrahim yang bisa mengubah air menjadi bahan bakar. Tentang kisah beliau yang rela kembali dari Hadramaut hanya untuk mengembalikan sebuah pena yang bukan miliknya. Tentang karomah Datuk Kalampayan yang bisa memperlihatkan Ka’bah dari balik lengan jubahnya.
Kia mendengarkan penuh takjub, sesekali menyelipkan komentar. Senyumnya tulus, matanya berbinar.
"Terima kasih. Ceritamu memberiku banyak pelajaran, Tuan," ucap Kia lembut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Amor
Fiksi RemajaBukan tentang memiliki atau dimiliki. Tapi, tentang ketetapan hati. ⚠ PLAGIAT GAUSAH MAMPIR! Highest Rank : 2 Kia ---- 12/ 06/ 2022 2 Ning -- 22/ 11/ 2022 1 Ning -- 26/ 11/ 2022 6 Poligami -- 02/ 12/ 2022 4 Poligami -- 05/ 12/ 2022 3 Poligami -- 06...
