Kedatangan Muh

4.1K 293 22
                                        

Happy Reading :)

Jangan lupa Vote dan Komen.

Kritik dan Saran dipersilahkan :)

---

Kabar kecelakaan yang menimpa Kia akhirnya sampai ke telinga Kai dan Nininya. Bahkan Muh pun mengetahuinya. Ia begitu shock ketika mendengar kabar buruk itu, dan tanpa berpikir panjang, ia segera terbang ke Indonesia untuk memastikan keadaan Kia.

---

“Bunda! Ayo pulang!” teriak seorang anak kecil yang memanggilnya Bunda.
Anak itu — Maira — berlari ke arah Bundanya yang sedang duduk di taman penuh bunga bersama Ning Zira. Keduanya mengenakan pakaian serba putih.

Kia tersenyum pilu. “Nak, maafkan Bunda… Bunda nggak bisa pulang bersama Maira, Sayang.”

Maira menangis mendengar ucapan itu. “Mila mau ikut Bunda… hikss…”

Kesedihan Maira adalah kesedihan Kia, tapi ia tak bisa menuruti permintaan putrinya.

“Tidak, Sayang. Maira nggak boleh ikut Bunda.”

Ning Zira menggenggam tangan Kia lembut. “Pergilah bersama putrimu, Ki. Dia sangat membutuhkanmu — begitu pun Anna. Bukan hanya mereka, tapi semua orang masih menyayangimu, Ki.”

“Tapi, Ning…”

“Ki, duniamu belum waktunya berada di sini. Masih banyak amanah yang belum selesai, tanggung jawab yang menunggu. Kau juga harus bahagia. Jadi… ikutlah putrimu. Kembalilah. Mas Tsaqib menunggumu, Ki.”

Kia menatap Ning Zira. Ada damai, ada luka, dan ada pasrah.
Ia menggenggam tangan Maira, berjalan menuju cahaya putih yang bersinar lembut di hadapan mereka.

Maira sempat menoleh ke belakang, ke arah Ning Zira yang tersenyum padanya. Bocah itu melambaikan tangan. Ning Zira membalas dengan senyum penuh keikhlasan.

---

Jari-jari tangan Kia bergerak pelan. Kelopak matanya terbuka sedikit demi sedikit. Aroma khas obat-obatan langsung menyeruak ke indra penciumannya.

“A… air…” ucapnya parau.

Mendengar rintihan itu, Bunda Rahmah yang sedang berjaga sontak kaget. “MasyaaAllah… Alhamdulillah, Sayang, kamu sudah sadar.”

Dengan tergesa, beliau menuangkan air ke gelas dan membantu Kia minum.

Setelah meneguk beberapa teguk, Kia kembali memejamkan mata.

“Ada yang sakit, Ki? Katakan, mana yang sakit?” tanya Bunda Rahmah cemas.

“Bun… da…” lirih Kia.

Bunda Rahmah tersenyum lembut, mengelus kepala Kia yang tertutup hijab. Sentuhan hangat itu membuat Kia tenang. “Tunggu sebentar ya, Bunda panggil dokter dulu,” pesannya.

Sepeninggal sang bunda, Kia kembali membuka mata. Air mata menetes pelan.

Jika aku tahu sakitnya dipoligami seperti ini, aku tak akan pernah menerimanya. Kukira aku bisa sekuat Zainab, istri Harun Ar-Rasyid, yang kebal dari cemburu. Tapi ternyata, tidak semudah itu…

Ceklek.

Pintu terbuka. Seorang dokter masuk. Namanya Ibnu Nafis — tertulis gagah di name tag putihnya. Nama itu mengingatkan Kia pada seorang dokter legendaris di masa Abbasiyah, penemu sistem peredaran darah manusia.

“Selamat siang. Apa ada yang masih dikeluhkan?” sapa dokter itu ramah.

Ia bersiap memeriksa mata Kia, tapi tangannya terhenti saat mendengar suara tegas Kia.

AmorTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang