Kemarin setelah perbincangan dengan Derza, Hadsa tak mampu memberi tahu pada kekasihnya perihal dirinya akan dikenalkan dengan kerabat sang Ayah.
Sejujurnya ia takut akan mengecewakan Jenggala— Kekasihnya. Hubungan mereka terjalin sudah cukup lama, sudah genap tiga tahun sedari dia berada di kelas 9 SMP.
Di lain sisi Hadsa ingin bercerita, puncaknya kala jarum jam tunjukkan pukul 1 dini hari, Jenggala baru pulang dari kerjanya dua jam sebelum mengabarinya.
Sembari tanya kabar juga kesehariannya, Hadsa dengan berani bercerita tentang kejadian kemarin sore. Awalnya tak ada balasan dari seberang, Hadsa mengecek apa sambungan teleponnya terputus.
Namun panggilan itu masih terhubung, Jenggala dari seberang pun seketika berbicara setelah berdiam diri cukup lama.
Ujar Jenggala semalam membuatnya kembali teringat dan itu cukup mengesalkan, Jenggala berkata bahwa ia harus datang, padahal bisa saja dirinya untuk kabur.
Jenggala tak mau mengambil risiko, Hadsa pun sama halnya. Ia cukup takut untuk tidak menuruti perintah Ayahnya.
Di sinilah dirinya sekarang di dalam mobil yang dikemudikan oleh Derza dengan di sebelahnya di duduki Adira, sedangkan kursi belakang diisi olehnya dan Selina.
Selina dengan dirinya hanya terpaut usia dua tahun saja, adiknya itu sekarang berada di bangku kelas 9 SMP. Sedangkan dia lebih dahulu masuk tempat kanak-kanak oleh Bundanya.
Tak terasa perjalanan yang terasa singkat menurut Hadsa kini sudah berhenti di sebuah parkiran restoran.
Restoran tersebut bernuansa klasik dengan beberapa pahatan kayu, menambah kesan indah setiap kali memandanginya, apalagi dilihat ketika di malam hari.
Hadsa segera turun terlebih dahulu diikuti Selina juga kedua orangtuanya. "Nanti aku nyusul." Ujarnya, Derza mengangguk tanpa menaruh rasa curiga sedikitpun pada anaknya. Sebab Derza sempat melihat handphone Hadsa berdering.
Di lain sisi dari keluarga Wilangga sudah datang lebih cepat, mereka tengah menunggu di tempat yang telah disediakan dengan minum sebagai sajian.
Marley tengah sibuk dengan handphone pada genggamannya, jarinya dengan lincah menekan beberapa huruf kemudian mengirimnya.
Sesekali ia tersenyum sebab teman-temannya mengirimi sebuah pesan yang menurut mereka sangat lucu. Namun sesekali juga ia mengecek roomchat-nya dengan Anindya, takut-takut gadis itu sudah membalas pesannya.
Terlalu asyik dengan ponselnya Marley mendapatkan sebuah tepukan pelan di paha dari Mamanya. Sontak ia mendongak ternyata keluarga yang dijanjikan oleh Jaden telah tiba.
Yang Marley yakini sebagai sosok kepala keluarga itu berujar dengan tak enak hati pada Papanya. "Maaf Ja, baru dateng." Dibalas gelengan dari Jaden. "Santai aja Der."
Keluarga Artama pun dipersilahkan duduk oleh Jaden, di satu sisi Marley terus fokuskan tatapannya pada gadis yang sedari tadi tak bersuara.
Kursi kosong di depannya belum terisi, Marley bertanya dalam benak mungkin pelayan di sini tidak tahu bahwa kelebihan bangku.
Namun ternyata prasangka-nya salah, sosok pemuda yang baru saja bergabung itu langsung duduk di depannya seraya ucap maaf karena sudah telat.
Pemuda di hadapannya tidak membalas tatapan Marley melainkan sibuk dengan handphone, padahal Hadsa baru saja bergabung.
Seketika tubuhnya menegang untuk beberapa saat, Hadsa membalas tatapan Marley dengan tiba-tiba sebab ia merasa tengah di tatap oleh anak dari keluarga Wilangga itu.
Lantas ia menaikkan satu alis seolah bertanya pada Marley, jika diartikan Hadsa berujar demikian melalui bahasa tubuh. "Apa?"
Jaden mematahkan keheningan yang tiba-tiba saja datang setelah Hadsa bergabung, "Pesan makan dulu aja." Sarannya, dan disetujui oleh semua orang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Destiny [ MARKHYUCK ]
FanfictionBukan hanya sekadar perihal perjodohan saja, namun juga tentang bagaimana bahwa dirinya dijatuhkan ke dalam lingkungan yang tak pernah ia bayangkan akan terjadi di hidupnya. Garis takdir yang bahkan beberapa orang tidak menginginkannya, semua orang...
![Destiny [ MARKHYUCK ]](https://img.wattpad.com/cover/326902270-64-k550231.jpg)