40. Bahagia dan ... Sesak?

2.5K 157 48
                                        

Sinar matahari terselip di balik gorden mengenai ruangan yang terisi dua pemuda di dalamnya, yang masih tertidur di atas kasur dengan salah satu memeluk raga seseorang.

Hadsa membuka mata, kesadarannya kini perlahan mulai datang, saat kedua bola mata menatap tepat kepada sosok pemuda yang entah sejak kapan lebih dahulu tersadar.

Senyuman tipis diberikan Marley, tangan yang ditindih oleh Hadsa perlahan ia keluarkan, terasa keram dan pegal. Sedangkan lengan yang memeluk pinggang Hadsa dibiarkan tetap di sana.

"Good morning hubby,"

Hadsa ingin kembali tertidur saja jika pada akhirnya akan seperti ini, panggilan Marley juga usapan lembut yang diberikan pemuda itu di surai-nya, sungguhan tidak baik untuk kesehatan jantungnya.

"Nyenyak?" tanya Marley yang jemarinya tetap menyusuri rambut-rambut milik Hadsa.

Jika Hadsa diberi pilihan, ia akan dengan senang hati memilih dengan perilaku Marley yang kerasa padanya dibandingkan sekarang, jauh lebih menyusahkan.

Belum selesai sampai di sana, Hadsa belum mampu menjawab, namun Marley lebih dahulu mengecup keningnya. "Hai?" ucapnya, telapak tangan digoyangkan di depan wajah Hadsa.

"Aneh lu," maki Hadsa. Lalu tubuh Hadsa mulai bergerak menjauh, terlalu dekat dengan Marley tidak baik untuk pernafasan.

Hadsa beranjak dari tidurnya, lantas terduduk sembari meregangkan otot-ototnya. "Kenapa gak dibangunin dari tadi, sih?" protes Hadsa. Jam telah bergulir ke angka 9 pagi, sudah banyaknya waktu Hadsa dengan tertidur.

Dan itu membuatnya pusing, ingin kembali merebahkan tetapi perutnya sudah meminta untuk segera diisi.

Namun Hadsa bersyukur, semakin hari keadaannya semakin membaik. Kejadian hari lampau sedikit demi sedikit menghilang diterpa angin.

Marley ikut terduduk, "Mau sarapan apa?" tanyanya.

"Gak nyambung lu," Kedua bola mata Hadsa berputar, sedikit kesal dengan sosok pemuda yang kini menatapnya begitu teduh. Hadsa seperti seseorang yang sangat amat disayang, namun mengapa ia justru merindukan seseorang?

"Ayo, cari sarapan," ajak Marley.

"Emang bunda enggak masak?"

Marley mengidik bahu, "Enggak tau, emang tiap pagi sering buat sarapan?"

"Enggak," jawabnya.

"Ya udah, ayo cari bubur ayam."

"Emang masih ada jam segini?" tanya Hadsa yang dijawab oleh Marley dengan, "Masih, aku ada kenalan dan buburnya aku yakin kamu suka."

Mendengar penuturan kata dari seberang membuat perut Hadsa begitu mulas. Hadsa alihkan tatapan ke sembarang arah, agar tidak terpusat pada satu titik yang membuatnya salah tingkah.

"Mau mandi dulu, lo tunggu di bawah aja."

"Aku juga belum, mandi bareng?"

"MESUM!!" teriak Hadsa tepat di wajah pemuda yang kini tawanya menggelegar.

"Padahal udah pernah liat." Ah, Hadsa jadi teringat waktu lalu, yang dengan bodohnya memperlihatkan bagian belakang tubuhnya. Kini, ia merasakan malu yang luar biasa.

Tawa Marley belum berhenti, yang semakin membuat Hadsa sudah tidak bisa menampung rasa malunya. Hingga setelahnya, selimut yang berada di antara kakinya dibawa dan menutup mulut menyebalkan itu.

"Berhenti gak?!" ancam Hadsa.

Kelopak mata Marley mulai basah, sebab menurutnya hari itu sangat lucu. Apalagi ditambah wajah Hadsa terpampang jelas sekali merahnya, bahkan kini selimut itu sudah berpindah dan menutup wajah Hadsa sendiri.

"Malu...," lirih Hadsa, hingga tawa Marley mulai mereda.

"Gak usah malu," kekehan Marley terdengar.

Marley kembali berbicara, "Gak usah mandi, cuci muka aja, nanti takutnya makin siang."

Kain yang menutupi wajahnya perlahan diturunkan, menampakkan wajah Hadsa yang sudah seperti kepiting rebus. Bagi Marley begitu lucu. "Ayo," ajak Marley yang lebih dahulu turun dari ranjang kasur milik Hadsa.

Lalu diikuti oleh Hadsa segera, kini keduanya jalan bersisian dengan Hadsa yang masih menahan malu.

"Ada apa sih? Kedengaran sampai sini lho ketawanya," ujar Adira yang tengah menonton televisi.

Dalam hati Adira, saat mendengar kericuhan di dalam kamar Hadsa, membuatnya tersenyum hangat. Dia kira, perjalanan hidup sang anak tidak akan berjalan seperti sekarang.

Syukurlah, Hadsa bahagia bersama Marley, walaupun belum sepenuhnya melupakan rasa sakit hari lalu.

"Gak ada Bun," kilah Hadsa.

Marley hendak membuka suara namun dipelototi oleh Hadsa, takutnya Marley akan memberitahu Ibunda tentang perilaku memalukannya itu.

"Hadsa mau cari sarapan," ujar Hadsa sebelum diberi tanya.

"Sekalian makan siang aja nanti."

"Kasian perut Hadsa, udah teriak lapar dari tadi," ucap Marley yang kembali seseorang yang menyebalkan.

"Gue gak sedoyan itu!"

Marley menghiraukan, lantas meminta izin untuk membawa Hadsa pergi keluar. "Marley izin bawa Hadsa."

Adira mengangguk, "Iya, hati-hati bawa mobilnya."

Lalu keduanya pun kembali melangkah, menyusuri pijakan hingga sampai di samping mobil Marley yang dipinjam dari sang Papa kemarin.

Hadsa lebih dahulu masuk ke dalam mobil dan diikuti oleh Marley setelahnya, mesin mobil dinyalakan lalu melajukan dengan pelan.

Tanpa memerlukan waktu yang lama, kini mobil pun berhenti di depan gerobak yang tutup. "Yah.., tutup." ujar Marley.

Sedangkan Hadsa terdiam saat menyusuri jalan yang sudah ia hafal di luar kepala, yakni menuju rumah sang mantan kekasih.

Bahkan saat Marley sudah turun dari mobil dan menghampiri seseorang, Hadsa tetap terdiam di tempatnya.

Marley pun kembali memasuki tempat pengemudi itu, tatap mata Hadsa dengan rasa bersalah. "Tadi aku samperin yang jualan bubur, katanya hari ini gak jualan. Soalnya ada tetangga yang meninggal."

Belum selesai mendengar kalimat yang diucapkan Marley, Hadsa lebih dahulu keluar dari mobil tanpa membalas sepatah kata, dipanggil beberapa kali pun tak membuat Hadsa kembali.

Hingga, Marley menemukan jawabannya. Di sana, Hadsa tengah memeluk sosok yang sempat singgah di hidup Hadsa.

Jenggala, dipeluk oleh Hadsa begitu erat, keadaan Jenggala terlihat begitu menyedihkan, wajah kusam yang di segala tubuhnya terdapat bekas tanah berwarna merah.

Ada rasa sakit saat melihat Hadsa semakin mengeratkan pelukan, sebab Jenggala membalas sembari menangis.

Hingga suara lirih dari Jenggala terdengar begitu parau dan sakit.

"Hadsa, Bapak udah enggak ada."

Haruskah ia mengacaukan semuanya? Dan mengambil Hadsa untuk kembali pulang bersamanya?

Namun, apakah Hadsa akan memilihnya?

°°°

(a/n)

guys... bosen gak...? T_____T

takut kalian bosennn, dan terlalu panjang alur ceritanya. Maafffff

Reply siniii ya! mau segera ending atau ikutin alur yang udah aku buat?

anyways, thanks udah mampir dan kasih feedback berupa voment, walau sejujurnya aku gak terlalu mengharapkan ceritaku banyak yang baca..

Tapi... setelah melihat antusias kalian ngebuat aku terharu sekali T______T makasih untuk itu.

Maaf kalau lama nunggunya..

Destiny [ MARKHYUCK ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang