Bukannya mengikuti Adira ke dalam kamar, Derza melainkan melangkah keluar rumah, katanya guna mencari angin sebentar.
Bangku panjang dengan meja di depannya, Derza dudukkan tubuhnya di sana. Lengannya menumpu di atas meja sembari usap wajah dengan telapak tangan yang sudah kasar.
Helaan nafas entah sudah berapa kali dia hembuskan, Derza sangat amat tengah diselimuti oleh penyesalan.
Perginya Hadsa satu minggu setelah keributan di rumah keluarga Wilangga, Derza baru menyesal.
Perilaku pada anaknya ia tahu, jika itu semua seharusnya tidak berhak dirinya lampiaskan semua rasa sakit kepada Hadsa.
Derza tahu dirinya bodoh, tetapi jika sudah kepalang emosi semuanya terjadi begitu saja tanpa dipikir terlebih dahulu.
Kilasan masa lalu kini berputar di dalam benak, begitu sulit untuk dilupakan, rasa sakitnya masih terasa sama hingga sekarang.
Entah sejak kapan Ibundanya Derza berada di sini, begitu datang Ibunda langsung menampar kekasihnya. —PLAK!!
"Kurang ajar!" Ucap Ibunda pada Arki.
"Kamu ini bawa pengaruh buruk kepada anak saya!!" Teriaknya nyaring, Arki begitu sakit kala mendengarnya.
"Ibu!!" Teriak Derza, dia sangat marah sekarang, rasa perih yang diterima oleh Arki begitu terasa sampai ke relung hatinya.
"Jauhi anak saya, Derza sudah saya jodohkan dengan perempuan cantik, tidak seperti kamu." Arki tersenyum mendengarnya, dia menahu, jika dirinya bukanlah perempuan cantik yang Ibunda Derza inginkan.
Dia ini seorang laki-laki yang ingin sekali menjadi sosok perempuan yang gemulai dan begitu anggun, namun dirinya masih punya akal untuk tidak mengubah itu semua hanya karena sebuah keinginan.
Arki masih mempunyai Ibu, Arki tidak mau mengecewakan perempuan sebaik dan sesuci seperti Ibunya.
Dan sejak saat itu Arki tak lagi menampakkan dirinya di hadapan Derza, tanpa mengabari dan memutuskan sebuah hubungan yang masih terjalin.
Begitu satu bulan terlewat, seseorang yang Derza harapkan akan segera datang, mengirimkannya sebuah SMS.
Pesan itu dibaca olehnya; Halo Derza, apa kabar? Aku harap kabar kamu baik, ya. Kalau kamu bertanya bagaimana kabarku satu bulan kebelakang ini, aku sangat baik.
Setelah satu bulan terlewat, dan aku membutuhkan banyak waktu untuk sembuhkan sakit hati.
Derza, aku memilih untuk menyerah. Maaf, ya? Kabar yang kamu tunggu-tunggu mungkin buat kamu marah dan kecewa.
Hubungan kita selesai di sini. Untuk perjodohannya tolong diterima, dan hidup bahagia setelahnya. Kalau nanti kita bertemu tanpa sengaja, aku harap masing-masing dari kita sudah sama-sama bahagia yang dimaui.
Pesan panjang itu masih Derza hafal di luar kepala hingga sekarang, rasa sakitnya ditinggalkan begitu amat perih.
Setetes air mata Derza kembali keluar setelah selama beberapa tahun tidak menangis.
Namun, Derza sungguhan sudah mengikhlaskan, lahirnya Hadsa saat itu adalah tanda cinta Derza begitu nyata untuk Adira.
Kisah cinta yang begitu pilu, hingga mendapatkan sebuah rasa yang ingin Derza ucap terima kasih berkali-kali.
Kini, Derza bahagia, walau bukan dengan pilihannya. Derza sangat menyayangi Adira lebih dari apapun. Biarkan masa lalu hanya menjadi sebuah kenangan saja, di masa sekarang hingga nanti, Derza berharap cintanya pada Adira akan abadi selamanya.
Ini alasan mengapa Derza memperlakukan Hadsa begitu buruk, bahwa rasa sakitnya seharusnya dirasakan juga oleh sang anak.
Ayah yang begitu bodoh, Derza baru menyesal sekarang saat tanggal pernikahan sudah di depan mata, mau dibatalkan pun sudah kepalang tanggung dan terlanjur.
Bukan itu saja permasalahannya, ada satu hal yang membuat Derza menjodohkan Hadsa dengan anak dari teman semasa sekolahnya, yakni Jaden.
Bahwa terjalinnya hubungan Hadsa dengan Jenggala, tidak direstui oleh Ranti— Ibunya Jenggala.
Derza masih mengingat beberapa tahun yang lalu, Ranti yang datang ke kantornya dan bersimpuh di bawah kakinya, serta menghina hubungan yang terjalin antara Hadsa dan Jenggala.
Jika, pacaran sesama gender itu begitu buruk.
"Tapi ini menyangkut masa depan anak saya! Maaf kalau sekiranya saya tidak sopan, tapi saya mohon Pak, Jenggala anak saya satu-satunya, saya takut." Mohon Ranti.
"Ranti." Tegur Derza.
"Pak, saya mohon." Permohonan itu entah mengapa terdengar mirip dengan suara Ibunda yang memohon kepada Arki jika mantan kekasihnya itu untuk menjauhi Derza.
Begitu setelahnya Derza melakukan apapun untuk menjauhi sang anak dari Jenggala, Derza hanya takut jika Hadsa akan disakiti oleh Ibunya Jenggala.
Namun bodohnya, ia yang menggantikan posisi Ranti. Menghina Hadsa dan menyebutnya menyimpang, padahal Derza sama halnya tak jauh dari sang anak.
Derza harap bisa melindungi sang anak dari orang-orang yang menghakimi, namun Derza lah yang perkataannya begitu menyakiti.
Kini dirinya menyesal, perginya Hadsa selama seminggu itu membuat Derza ketakutan, ia takut Hadsa tidak akan kembali seperti apa yang dilakukan Arki.
Derza sibuk merutuki dirinya sendiri, kalimat-kalimat yang telah dilontarkan kepada sang anak membuat Derza begitu frustasi.
Dia itu tidak berhak untuk mendapatkan sebuah maaf dari Hadsa.
Di posisi lain Hadsa pandang punggung yang tengah gemetar lewat jendela rumahnya, Derza menangis sendirian dengan rintik hujan yang mulai mengguyur kota.
Tadinya Hadsa berniat untuk mengambil segelas air putih sebelum pergi tidur, namun niat itu ia urungkan, Hadsa mengikuti langkah ke mana Ayahnya pergi.
Begitu telah sampai, Hadsa sudah disuguhkan dengan Derza yang tengah menangis sendirian.
Saat melihat Derza akan kembali ke dalam rumah, Hadsa dengan segera memasuki kamarnya, dan mengurungkan niat untuk mengambil satu gelas air putih.
°°°
(a/n)
aku jelasin yang lebih rinci ya, takut terlalu belibet narasi di atas.
Jadi, alasan Derza yang pertama ngelakuin hal buruk sama Hadsa itu gara-gara masa lalunya yang gak direstui oleh Ibundanya sendiri.
Terus karena udah dibutakan amarah, perilaku dan perkataan tanpa dipikir terlebih dahulu, apalagi dua kata yang dibilang (Saya mohon) Ranti ngebuat dia nyakitin hati Hadsa.
Alhasil Derza jadi kayak gitu ke anaknya sendiri, bego emang.
Terus alasan Derza buat ngejodohin anaknya itu, katanya bentuk menebus kesalahan. (Derza ngeliat dirinya sendiri yang bahagia setelah dijodohkan dengan Adira) (dia pikir, mungkin Hadsa juga akan begitu)
KAMU SEDANG MEMBACA
Destiny [ MARKHYUCK ]
FanfictionBukan hanya sekadar perihal perjodohan saja, namun juga tentang bagaimana bahwa dirinya dijatuhkan ke dalam lingkungan yang tak pernah ia bayangkan akan terjadi di hidupnya. Garis takdir yang bahkan beberapa orang tidak menginginkannya, semua orang...
![Destiny [ MARKHYUCK ]](https://img.wattpad.com/cover/326902270-64-k550231.jpg)