38. Melepas Atau Bertahan?

2.7K 171 63
                                        

Tepat pada hari ini, di pagi menuju siang, pesawat yang akan ditumpangi akan segera take off  dan penumpang wajib untuk mengikuti arahan yang sudah dijelaskan oleh pramugari.

Kedua pasangan yang sudah terjalin pernikahan itupun akan pulang ke tanah air atas permintaan Hadsa. Keduanya pun sudah terduduk nyaman pada nomor tempat yang dipesan oleh Marley.

Namun ada sesuatu yang berbeda dari sikap Hadsa, setelah perbincangan kemarin lusa, esoknya Hadsa berbicara seperlunya saja.

Seperti sekarang, Marley sudah beberapa kali memanggil namun tetap tak ada sahutan dari si pemilik nama, setelahnya Marley enggan untuk mengganggu waktu yang dimiliki Hadsa untuk beristirahat.

"Sa," Sekian kali Marley memanggil, tetap tak mendapat balasan. Lalu helaan nafas dikeluarkan olehnya, Marley jelas merasa bingung.

"Perjalanannya jauh, dipakai buat tidur, Sa. Nanti kalau udah sampai, gue bangunin." ujar Marley, dan Hadsa menuruti tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.

Hadsa menyamankan tubuhnya, kepalanya menyandar pada kursi, namun dipindahkan oleh Marley kepada bahu tegap miliknya. Hadsa tak menolak, ia bahkan semakin menyamankan posisinya.

Marley bernafas lega, dan setelahnya mengikuti Hadsa yang sudah menutup kedua mata.

°°°

Perjalanan yang membutuhkan waktu yang hampir setengah hari itu akhirnya telah mendarat di bandara Soekarno-Hatta, yang sebelumnya pramugari berkata bahwa sebentar lagi akan sampai; landing.

Baik Marley maupun Hadsa, keduanya sudah terbangun dari tidurnya dari beberapa puluhan menit yang lalu, satu persatu penumpang keluar dari pesawat dan diikuti oleh keduanya dengan Hadsa yang melangkah terlebih dahulu.

Saat sudah menapak pada tanah, Marley nampak terkejut dengan keberadaan keluarga Artama yang sudah menunggu mereka di sana, Hadsa lebih dahulu menghampiri.

Hadsa disambut baik oleh Derza dan juga Adira, sedangkan Selina tidak datang sebab harus berangkat sekolah. Rengkuhan erat diberikan oleh Derza, beberapa kali membubuhi dengan kecupan di surai rambut milik sang anak.

Entah sudah berapa bulan tidak bertemu, hari-hari itulah Derza sibuk berbenah diri, walau jarang sekali mengirim dan bertanya kabar pada Hadsa, namun tak menampik jika Derza begitu merindukan putranya yang dahulu sudah ia sakiti dengan sedemikian rupa.

"Abang baik-baik aja?" tanya Derza, dan mendapatkan anggukan dari sang anak. Hadsa sungguhan merindukan panggilan rumahnya, Hadsa rindu semuanya.

"Maaf," ujar Derza dengan penyesalan yang entah sampai kapan meredamnya.

Hadsa tersenyum, semalam ia memberanikan diri untuk bercerita tentang dirinya kepada Derza, awalnya Hadsa takut akan dicerca, namun ternyata Derza begitu khawatir dan ingin mendatanginya yang masih berada di Kanada.

"Aku udah gak pa-pa, Marley jaga aku." ucap Hadsa membuat si pemilik nama terharu, raganya dilihat oleh Hadsa.

Marley berikan senyum, dan menyalami kedua tangan milik orang tua Hadsa, dan membuat kedua paruh baya itu terkejut, ini benarkah sosok Marley? Mengapa begitu terlihat berbeda? Bahkan senyuman Marley tak meluntur.

"Capek? Istirahat di rumah, ya?" ajak Adira setelah redam dari tangisnya, Hadsa tersenyum dan mengangguk.

Setelahnya keempat itu memasuki mobil hitam milik Derza, dengan Derza yang mengemudi. Walau sebelumnya Marley kekeuh untuk dirinya saja yang mengemudi, namun ditolak oleh Derza dengan baik-baik.

"Mau makan dulu, gak?" tanya Adira ke arah sang anak yang tengah memandang lalu lintas. Hadsa membalas tatapan sang Ibunda, sungguh amat sangat merindukan sosok yang selalu melindunginya itu.

Destiny [ MARKHYUCK ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang