Pemuda yang tengah sibuk memakan nasi goreng buatannya sendiri di sofa sembari menonton berita yang ditayangkan pagi ini. Setelah satu minggu terlewat, kini Hadsa sudah memulai waktu kuliah.
Sedangkan Marley baru beranjak dari kamar mandi, kini wangi tubuh Marley tercium di setiap pojok ruangan. Langkah Marley menghampiri dapur, harap ada sesuatu yang bisa dirinya makan di pagi hari ini.
Melihat Hadsa yang tengah memakan satu porsi nasi goreng, membuat Marley tergiur oleh masakannya.
"Mana buat gue?" Tanyanya setelah tak melihat apapun di dapur, hanya ada peralatan kotor yang telah dipakai.
Sementara Hadsa pura-pura tak mendengarkan, malas untuk menanggapi Marley yang menurutnya banyak mau itu.
"Lo cuma bikin buat lo sendiri?" Tanya Marley lagi.
Terlalu khidmat dengan pandangan di depannya, lantas Hadsa kehilangan segelas susu hangat yang sudah diminum oleh Marley hingga habis.
"Susu gue ih!!" Protes Hadsa, demi apapun, Marley begitu menyebalkan.
Kalimat itu dihiraukan olehnya, Marley lebih fokus menata barang bawaan untuk dimasukkan ke dalam tas selempang-nya. Setelahnya ia keluar dari apartemen tanpa ucap pamit atau bahkan meninggalkan sepatah kata kepada Hadsa.
Hadsa menghela nafas, ini masih awal yang baru, ia harus mempunyai banyak stok sabar untuk menanggapi perilaku Marley yang masih menyebalkan.
Gelas kosong bekas susu yang telah diminum oleh Marley dia bawa untuk dicuci bersama peralatan kotor yang lain, pun nasi goreng yang dia masak sama halnya telah habis.
Setelah semuanya tercuci hingga bersih dan wangi, Hadsa taruh semuanya di rak dekat wastafel.
Barang bawaan yang sudah dirinya siapkan itu Hadsa ambil, hanya beberapa buku dan bolpoin saja, tidak seribet Marley yang membawa laptop.
Lantas Hadsa keluar dari apartemen dan menggunakan lift untuk turun ke bawah, tak sampai menunggu lama, Hadsa sudah berada di area luar apartemen.
Dikarenakan tempat kuliahnya hanya beberapa kilometer dan masih banyak waktu untuk jam masuknya, Hadsa memilih untuk berjalan kaki saja, berbeda dengan Marley yang menggunakan mobil
Hadsa sibuk menggerutu, toh, tak ada yang mengerti dia sedang berbicara apa. Iya 'kan?
Terlalu sibuk mengoceh, Hadsa sampai terkejut saat tiba-tiba ada suara di arah belakangnya, hingga membuatnya mengumpat. "Anjing jantung gue." Telapak tangannya dipergunakan untuk memegang jantung yang masih berdetak begitu kencang itu.
Tawa tersebut mengudara, Hadsa mengernyit heran, ada apa dengan orang ini? "Beneran ternyata orang indo." Ucap seseorang yang membuat Hadsa terkejut tadi.
Hadsa menghentikan langkah yang dimana membuat seseorang itu ikut berhenti, mata keduanya bertabrakan, pemuda yang berkata beberapa menit lalu lantas berikan sebuah senyum. "Hai." Sapa-nya.
Wajah bodoh Hadsa mendapatkan tawa lagi dari pemuda tersebut, lantas dia angkat telapak tangan guna membalas sapaan itu. Hanya saja Hadsa belum mampu membuka suara, jadi gerutunya didengar oleh orang di sampingnya ini?
Astaga, Hadsa malu.
Keduanya melangkah beriringan setelah pemuda itu yang memimpin dan Hadsa pun mengikuti. "Duh, sorry, sumpah gue malu banget." Suara Hadsa baru terdengar.
"Santai aja, gue baru denger beberapa kalimat aja kok, kalau gak salah lo nyumpahin seseorang, ya?" Tanyanya.
Hadsa meringis, "Lupain aja, ya?" Pemuda tersebut menyanggupi.
"Lo orang baru ya?" Tanya pemuda tersebut, lantas Hadsa mengangguk mengiyakan. "Iya, baru semingguan kayaknya."
"Di sini menetap?"
"Iya, mungkin? Gak tau deh bingung gue jawabnya." Pemuda tersebut terkekeh mendengar penuturan kalimat itu.
"Gue Adrian, mau temenan, gak?"
"Kebetulan karena gue belum punya temen, jadi gue mau." Jawab Hadsa, lalu kembali melanjutkan. "Nama gue Hadsa."
"Okay Hadsa, nice to meet you."
Hadsa tersenyum, "Nice to meet you too." Langkah keduanya berhenti, Hadsa mengucap pamit. "Gue ke kelas duluan ya, sepuluh menit lagi udah mau masuk."
Sebelum langkah Hadsa menjauh, Adrian berteriak. "Nanti pas istirahat tunggu di kantin atas, ya!" Lantas Hadsa berikan ibu jari tanda setuju.
Adrian tersenyum, ia merasa senang. Sebab dia mempunyai teman baru berkebangsaan sama dengannya.
°°°
Di sisi lain, Marley pun sudah mendapatkan teman baru, salah satunya ternyata berasal dari Indonesia. "Mar!" Panggil perempuan itu.
Marley berdeham, matanya sibuk membalas beberapa pesan dari teman-temannya yang bertanya bagaimana kabar seminggu dia di Kanada.
Stephen yang berada di samping perempuan itu terkekeh, dia memang sudah fasih berbahasa Indonesia, sebab Naura selalu mengobrol dengan bahasa asalnya. Alasan Naura ialah terlalu malas untuk menggunakan bahasa Inggris.
"Kamu jangan ganggu dia terus dong." Nada Stephen masih terdengar logatnya, seperti bule yang berlibur di wisata Indonesia.
Walau sudah satu tahun berteman dengan Naura, dan setiap hari lalu awal-awal bertemu dan kini menjalin kasih, Stephen kesusahan saat Naura mengoceh dengan bahasa asal perempuan itu.
Dan setelahnya Stephen mulai belajar dengan hal-hal kecil, serta dibantu oleh Naura tentunya, walau dengan tawa yang meledek. Menurut Naura, usaha Stephen memang pantas untuk dibubuhi banyak kecupan, namun tak menampik jika nada bicara Stephen saat berbicara bahasa Indonesia kerap membuatnya terbahak.
"Lagian nih ya, Marley sibuk terus sama hapenya." Ujar Naura.
"Kan lo katanya mahasiswa pindahan, ada orang lain selain lo gak?" Naura mengangguk atas pertanyaan tiba-tiba dari Marley itu.
"Kenapa?"
"Lo kenal?" Tanya Marley.
Naura mengangguk dengan malas, "Siapa sih yang gak kenal tuh orang?"
"Gue." Jawab Marley.
Naura berdecih, "Jangan mau kenalan." Beritahu-nya.
"Kenapa?" Naura hanya menggeleng, belum waktunya Marley mengetahui, toh untuk apa juga Marley bertanya?
"Ayo, beb. Kita harus pergi!" Ujar Stephen, sebab sebentar lagi jam masuk kelas akan segera dimulai.
Keduanya pun berpamitan dan meninggalkan Marley sendirian di kantin yang tidak pantas disebut kantin itu.
Lantas Marley pun beranjak dari kantin, langkah Marley terus dipijak, lalu dia melirik ke arah luar. Tanpa sengaja netra-nya menemukan Hadsa yang tengah mengobrol dengan seseorang.
Marley menghentikan langkah, Hadsa mulai menjauhi pemuda itu, teriakan dari arah pemuda tersebut membuat Marley mengernyit.
Orang ini yang dimaksud oleh pertanyaan Marley kepada Naura tadi? Bahwa ada satu lagi orang yang asalnya sama dari Indonesia.
KAMU SEDANG MEMBACA
Destiny [ MARKHYUCK ]
FanfictionBukan hanya sekadar perihal perjodohan saja, namun juga tentang bagaimana bahwa dirinya dijatuhkan ke dalam lingkungan yang tak pernah ia bayangkan akan terjadi di hidupnya. Garis takdir yang bahkan beberapa orang tidak menginginkannya, semua orang...
![Destiny [ MARKHYUCK ]](https://img.wattpad.com/cover/326902270-64-k550231.jpg)