Halo.. maaf banget kalo alurnya terlalu lambat, so sorry...
°°°
Sudah 5 hari berlalu, Hadsa menikmati semuanya di sini, perilaku orang tua Marley membuat Hadsa seperti sangat disayang, walau ada beberapa hal yang membuat Hadsa muak mendengarnya.
Marley tetap berkata jahat padanya, namun dia sudah kebal, kalimatnya tak akan bisa menyakitinya lagi. Sebab isi kepalanya dipenuhi oleh perkataan sang Ayah yang waktu lalu belum disembuhkan.
Jenggala pun tak kembali membalas pesannya atau mengabarinya lagi, ditelpon pun tak pernah dijawab, bahkan Jenggala dengan sengaja mematikan ponselnya. Hadsa sudah kepalang frustasi.
"Ya elah, anak pungut ngapain di sini." Ujar seseorang yang suaranya terdengar dari arah belakang.
Hadsa memutar kepalanya sembari memberikan kedua jari tengahnya, "Bacot banget lo, anjing."
Entah mengapa Marley sudah terbiasa dengan kehadiran sosok pemuda di depannya, namun tak menampik jika rasa sebal masih memupuk di hati.
"Jaga bicara sama majikan." Hadsa sudah geram, pemuda itu selalu ada saja panggilan baru untuknya.
Hadsa diam tak mengindahkan, Marley pun kembali berujar. "Disuruh makan sama nyonya."
"Lo bisa diem, gak?"
"Buruan, Homo."
"Anjing lah, homa homo terus, gue tau gue homo, babi. Mau lo panggil seribu kali pun gak akan bikin gue jadi suka sama nyokap lu." Gerutunya sembari memasuki rumah yang kata Erika dan Jaden— anggaplah rumah sendiri.
Sepeninggal Hadsa yang tanpa mengajaknya ke dalam, Marley termenung di tempatnya berdiri.
Pemuda itu tak kunjung beranjak, sibuk memikirkan alasan keberadaan pemuda yang sempat berbincang singkat dengannya.
Waktu lalu tepat satu hari Hadsa berada di rumahnya, Marley banyak bertanya pada kedua orang tuanya, yang bahkan tidak dijawab, hanya ucapan yang terus diulang-ulang, katanya. "Cuma pengin." Tentu Marley tak menerima alasan tersebut.
Lantas Marley putuskan untuk ke dalam menyusul pemuda yang melangkah ke meja makan. Di sana sudah terdapat kedua orang tua dengan Hadsa yang tak pedulikan raganya.
"Dek, besok Papa enggak bisa antar Hadsa ke sekolah, Papa besok keluar kota, ada urusan pekerjaan, sebagai gantinya kamu yang antar-jemput, ya?" Ujar Jaden setelah menyelesaikan makanannya.
Marley tentu tak terima, "Gak mau." Tolaknya.
Jaden akan kembali berucap namun disela oleh Hadsa, "Enggak usah, Hadsa bisa naik ojek." Ucapnya.
Bukan tidak mau, hanya saja Hadsa malas beradu argumen lagi dengan pemuda yang berada di sampingnya ini.
Sejujurnya rasa benci dan sakit hati yang belum sembuh sepenuhnya masih penuh di dalam hati, namun perilaku Marley akhir-akhir ini seperti tidak ada rasa bersalah yang ditaruh pemuda itu padanya.
Marley pun tak terlalu memperdulikan, terkadang juga perkataan minggu lalu selalu terucap jika sudah berhadapan dengan Hadsa.
Sebab, rasa gemuruh juga terkadang datang, Marley beranggapan jika ini semua salah pemuda yang berada di sebelahnya.
"Papa mohon." Jika bisa bersimpuh, Jaden akan lakukan saat itu juga. Ah, ternyata Papanya ini tahu titik lemah dirinya, dan Marley pun hanya bisa menghela dengan raut wajah datar sembari mengangguk pelan.
°°°
Sepeda motor sudah ditumpangi oleh Marley di depan pekarangan rumah dengan gerbang yang sudah terbuka lebar.
Sedangkan Jaden sudah berangkat lebih pagi dengan diantar oleh sopirnya.
Kini Marley tengah menunggu sosok pemuda yang harus ia antar ke sekolahnya. "Lama banget?" Celetuknya mengomentari pemuda yang sedang memakai kedua sepatunya, terasa lama dari lamat pandang Marley.
"Bacot." Sungguh, Hadsa ingin sekali melempari sepatunya agar mengenai kepala yang terlihat pongah itu.
Setelah selesai, Hadsa dengan segera menumpangi sepeda motor yang menurutnya seperti berada di atas puncak. "Tinggi banget, anjing. Gue bisa liat ubun-ubun, lo, nih." Ledeknya yang bahkan tidak ditanggapi oleh Marley, namun melainkan pemuda yang mengendarai langsung menancap gas.
Hadsa tentu terkejut, walau pernah terbersit dalam benak untuk mengakhiri hidup, namun perilaku Marley membuat Hadsa memukul punggung milik pemuda itu yang menyerong ke depan.
"Pelan-pelan, anjing!" Entah sudah berapa kata umpatan yang diberikan untuk Marley, bagi Hadsa hanya itu yang bisa mendeskripsikan tentang pemuda yang seperti sedang tidak membonceng orang lain.
Perjalanan yang cukup memacu adrenalin pun sudah sampai di depan sekolah milik Hadsa, dengan plang bertuliskan SMAN 3 NECHIL atau sering dikenal dengan Smancil.
"Turun." Dengan kesal, Hadsa turun dari motor yang membuatnya sedikit menungging itu. "Mending motor lo, lo jual." Ujar Hadsa setelah menendang ban motor tersebut yang hampir membuat si pengendara oleng.
Tanpa ada kata terima kasih, Hadsa berlalu begitu saja. Marley berdecih, selepasnya membelokkan arah, sebab sekolahnya berada jauh dari tempat menimba ilmu milik Hadsa.
Dalam perjalanan menuju tempat sekolahnya, Marley tertegun sejenak dengan perilaku yang mau-mau saja mengantar pemuda yang bahkan dirinya malas untuk sekadar melihat wajahnya.
Marley tentu mengerti, sangat, perilaku pada Hadsa akhir-akhir ini seperti pertama kali bertemu— sebelum diberitahu siapa orang yang akan dijodohkan dengannya.
Bukan— bukan karena dia sudah menerima, Marley hanya lelah saja, mau menolak dan menentang dengan cara apapun, Jaden dan Erika tidak akan mau mendengar.
Namun, dia tentu tengah memikirkan cara untuk menghentikan perjodohan gila ini. Marley tidak mau, mengapa orang-orang menyuruhnya yang pada dasarnya Marley tidak pernah ingin.
Marley memarkirkan kendaraan beroda duanya itu bersama motor lain, beruntung hari ini upacara yang dilakukan setiap hari senin tidak dilaksanakan. Sebab, gerimis tengah melanda.
"Tumben baru nyampe?" Tanya Davin di bangkunya, Marley menduduki tubuhnya di samping temannya itu.
"Ada urusan tadi, jadi agak telat." Nyatanya, Marley belum sanggup bercerita sepenuhnya.
Davin tak bertanya lagi, dia sibuk menyalin tugas yang diberikan oleh Marley— yang sudah ia pinta dari semalam.
Caesar dan Hendra yang sedang asyik berdua itupun tiba-tiba mendekati tempat Marley, sedikit mengusik fokus Davin. Sebab, Hendra tiba-tiba bertanya yang mampu membuatnya penasaran.
"Habis nganterin calon, lo, ya?" Tanya Hendra penuh selidik.
Marley sudah merasa lelah, Hendra dan kedua temannya itu tak kunjung berhenti membicarakan tentang yang katanya— calonnya.
"Enggak." Ujar Marley mematikan pembicaraan, dia sungguh sudah malas.
Hadsa bukanlah calonnya, dia bahkan tidak menerima perjodohan konyol itu. Bukan tentang masalah zaman Siti Nurbaya yang sering orang-orang ucapkan. Namun tentang, hubungan yang Marley tidak bisa dia terima dengan logika.
Walau perilakunya pada Hadsa seperti melupakan kejadian minggu lalu yang sampai mendapatkan pukulan dari Jenggala. Marley tetap menaruh dendam pada Hadsa.
Ah, dia jadi teringat lagi. Ucapan Jenggala yang berkata jika dia menitipkan Hadsa pada orang yang pada dasarnya telah menyakiti hatinya.
Lucu, pikirnya. Jenggala ini seakan meletakkan Hadsa ke dalam kandang singa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Destiny [ MARKHYUCK ]
Fiksi PenggemarBukan hanya sekadar perihal perjodohan saja, namun juga tentang bagaimana bahwa dirinya dijatuhkan ke dalam lingkungan yang tak pernah ia bayangkan akan terjadi di hidupnya. Garis takdir yang bahkan beberapa orang tidak menginginkannya, semua orang...
![Destiny [ MARKHYUCK ]](https://img.wattpad.com/cover/326902270-64-k550231.jpg)