Sudah 10 menit terlewat, namun Hadsa tak kunjung kembali. Pandangan Marley tetap fokus pada satu titik saja, dimana sosok itu berada. Hadsa duduk di samping Jenggala sembari mengasihinya sebuah rengkuhan.
Tak luput, telapak tangan itu mengusap di belakang punggung Jenggala guna menenangkan mantan kekasih Hadsa yang seperti hilang raga.
Jenggala terlihat sedikit tenang, Hadsa melepas pelukan. Hingga kedua pasang mata saling bersitatap, Jenggala yang lebih dahulu sisipkan senyum di wajahnya. "Makasih, Sa."
Anggukan kepala diberikan oleh Hadsa, senyum dibalas sama tulusnya. Lalu Jenggala kembali bersuara, "Hadsa, aku minta maaf."
Hadsa bertanya-tanya, maaf untuk apa? Dia merasa jika Jenggala tidak mempunyai salah kepadanya.
"Maaf. Aku lebih milih pengobatan Bapak, dibanding pertahankan hubungan." Ah, itu, ya? Hadsa bahkan sudah melupakan, akan tetapi Jenggala tidak berhak untuk mengucap maaf. Bahkan jika dirinya menjadi Jenggala, Hadsa pun lebih mementingkan keluarga walau berat rasanya.
"Gak apa-apa, udah lalu juga," ujar Hadsa.
"Kalau semisalnya aku mau kamu lagi, kamu mau kasih aku kesempatan?"
Hadsa mengatupkan mulutnya, walau dalam hati rasa sayang pada Jenggala masih singgah, namun berbeda dengan keadaan sekarang. Kini, Hadsa anggap Jenggala adalah temannya.
Sebuah gelengan sebagai jawaban atas apa yang ditanyakan oleh Jenggala, bahwa Hadsa menolak ajuan yang diberikan. Seraya sisipkan lagi senyum, Hadsa berkata pelan. "Maaf."
Jenggala mengerti, sangat amat. Lantas ia mengangguk, tak masalah dengan apa yang dilontarkan Hadsa. Jelas, Jenggala tidak berhak kembali mengambil sosoknya setelah meninggalkannya.
Hening sesaat, hingga membawa kaki Hadsa berdiri sembari membelakangi Jenggala. Hadsa pandang lamat kaca mobil yang gelap, yang terdapat seseorang di dalamnya.
Lambaian tangan yang digoyangkan itu seperti menyuruh pemuda tersebut untuk datang menghampirinya. Ada keraguan di dalam hati, Marley tertegun untuk beberapa saat, hingga ia hampiri dua pemuda yang sudah sama-sama menapak di atas tanah. Setelah sampai, Marley berhenti di samping Hadsa.
Canggung luar biasa, Marley ingin menghilang saja. Dia hanya teringat di hari lalu, yang wajahnya babak belur oleh sosok pemuda yang berada di depannya. Rasa malu dan menyesal tentu menyelimuti raga, Marley benar-benar sudah tidak punya tampang di hadapan Jenggala.
"Turut berdukacita." Hanya itu yang bisa dikatakan Marley, seharusnya banyak kata yang diucapkan, namun Marley tak punya banyak keberanian.
"Makasih Mar." Selepasnya Jenggala kembali berbicara, "Makasih juga udah jaga Hadsa, gue tau lo emang orang baik."
Atensi Jenggala kembali kepada sosok yang bertanya-tanya maksud kalimat Jenggala yang diberikan pada Marley. "Aku ke dalam ya, mau nyamperin Ibu," ujar Jenggala kepada Hadsa.
Bahkan Jenggala enggan untuk mengganti kata sebutan untuk Hadsa, oleh Hadsa mengangguk. "Titip salam buat Ibu, kalau butuh sesuatu jangan sungkan untuk hubungi gue, ya, Gal."
Jenggala tersenyum seraya berikan sebuah anggukan kepala, sebelum pergi ia menepuk bahu milik Marley dengan pelan, seperti berujar sesuatu atas pergerakan tepukan.
Kini hanya tersisa mereka berdua, Hadsa pun menatap sosok yang berada di sampingnya itu. "Ayo," ajaknya.
Lalu keduanya pun berbalik arah menuju tempat mobil yang terparkir, Hadsa lebih dahulu memasuki mobil dan diikuti Marley setelahnya.
Tanpa menunggu lama, mesin mobil dinyalakan dan melaju dengan kecepatan sedang. Tak ada percakapan di dalam mobil, Hadsa sendiri tengah bergelut dengan pikirannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Destiny [ MARKHYUCK ]
FanfictionBukan hanya sekadar perihal perjodohan saja, namun juga tentang bagaimana bahwa dirinya dijatuhkan ke dalam lingkungan yang tak pernah ia bayangkan akan terjadi di hidupnya. Garis takdir yang bahkan beberapa orang tidak menginginkannya, semua orang...
![Destiny [ MARKHYUCK ]](https://img.wattpad.com/cover/326902270-64-k550231.jpg)