20. Mencoba Menerima

1.9K 153 21
                                        

Tak memerlukan waktu lama dalam perjalanan yang dikendarai oleh Renjana, setelah menurunkan Hadsa di depan rumah Marley tanpa jawaban yang Renjana lontarkan tanya. Mengapa bukan diantar ke rumah milik Hadsa, melainkan ke rumah yang masih asing dari lamat pandangnya.

Renjana sudah melenggang pergi, sebab harus mengejar nilai yang tertinggal beberapa pelajaran.

Setelah kepergian Renjana yang sudah tidak terlihat dari radarnya, Hadsa pun mulai melangkah ke dalam pekarangan rumah milik keluarga Wilangga.

Kini pintu cokelat sudah tepat berada di depannya, Hadsa sedikit ragu untuk mengetuknya. Sebenarnya dia sedang menakuti suatu hal yang bahkan Hadsa sendiri tidak tahu takut karena apa.

Pun, ia merasa tak enak sudah pergi tanpa mengabari Erika, sebab dia kemarin sibuk menangisi Jenggala. Dan dirinya yakin, bahwa Hadsa akan meninggalkan banyak khawatir pada semua orang.

Lantas pintu tersebut dia ketuk sebanyak tiga kali, tanpa menunggu banyak waktu, pintu cokelat itu dibuka oleh seseorang yang membuat Hadsa mengernyit heran.

Sebentar lagi jam masuk sekolah akan segera dimulai, namun mengapa Marley berdiri di hadapannya dengan setelan kaus dan celana biasa? Juga mengapa tidak memakai seragam dan pergi bersekolah?

Pertanyaan itu Hadsa kesampingkan, Marley sudah lebih dahulu berlalu. Hadsa pun menutup pintu tersebut, lantas kembali melangkahkan kakinya ke dalam.

Suasananya mendadak mencekam, Hadsa benar-benar tengah merasa ketakutan entah karena hal apa.

Belum selesai melangkah, Hadsa terhenti oleh rengkuhan dari seseorang yang wanginya sangat amat ia kenali. Ibundanya, mengapa berada di sini?

"Ya Tuhan, Abang. Kamu gak apa-apa 'kan?" Adira mengusap kedua pipi sang anak setelah melepas rengkuhannya, nadanya terdengar begitu khawatir.

Hadsa merasa bingung, memang dirinya kenapa? Walau dalam hati dia menjawab bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja. Tetapi Hadsa tidak mengerti pertanyaan sang Ibunda sedang mengarah ke mana.

Belum sempat menjawab, Hadsa lebih dahulu ditanya oleh Erika yang ikut menghampirinya. "Hadsa? Kamu dari mana aja? Bibi sama yang lain khawatir sama kamu, seharian gak ada kabar." Yang lain? Jika Bunda ada di rumah Marley, berarti Ayahnya juga ikut serta?

Beberapa tanya yang mengambang di dalam benak Hadsa biarkan, kini pandangannya memutar ke arah ruang tamu, dua pria paruh baya di sana sedang berdiri sembari menatapnya, dengan tatapan yang Hadsa sangat mengerti. Tatapan amarah Derza, dan tatapan khawatir Jaden.

Namun ada satu pemuda juga di sana, Marley tengah duduk dengan santai, namun tatapan yang diberikan pemuda itu seakan mengintimidasinya.

Kini Hadsa sudah mengerti salahnya di mana, di sana berdirinya Derza seakan ingin segera menerkamnya.

Perginya dia kemarin tanpa mengabari mungkin membuat Erika khawatir dan bertanya pada Bundanya apakah ia berada di rumah atau tidak.

Sekarang sudah terjawab semuanya, Hadsa sudah tidak bisa pasang wajah bodoh lagi, sebab kini Hadsa tengah ketakutan.

Derza mulai melangkah kaki ke arahnya dengan langkah panjang, Hadsa berdoa dalam hati, harap tak ada sesuatu yang membuatnya kembali sakit hati.

Bukan sapa dan nada khawatir atau bahkan sepatah kata tanya keadaan, melainkan Ayahnya berikan sebuah tamparan yang membuat semua orang terkejut. PLAK

"AYAH BILANG JANGAN MALUIN AYAH TERUS!" Setelah menampar yang meninggalkan perih dan pipi memerah, Derza berteriak memenuhi ruangan.

Semua orang terkesiap, namun tidak dengan Adira yang menahan tangis sebab dirinya merasa gagal untuk melindungi sang anak. "DERZA!" Adira balas berteriak.

Destiny [ MARKHYUCK ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang