25. They Are Married

2.2K 146 16
                                        

Dua bulan berlalu, hari ini, tepatnya minggu pagi di Kanada. Di dalam sebuah gedung yang sudah didedikasikan khusus untuk pernikahan.

Nuansa serba putih atas pilihan dari dua wanita cantik masing-masing dari ibu mereka. Pun jas hitam disertakan dasi kupu-kupu yang nampak serasi di tubuh keduanya.

Semuanya telah berkumpul, tak ada yang terlewat sedikit pun saat kedua mempelai sudah berjalan di atas altar dengan tangan saling menggenggam untuk pertama kali.

Gugup sedari tadi tak kunjung menghilang, kini gugupnya semakin besar saat keduanya telah sampai di tempat tujuan.

Kedua mempelai saling menghadap, lalu saling berjanji atas pernikahan yang akan mereka jalankan nantinya, setelah janji suci sudah diutarakan dari masing-masing belah pihak.

Dan dua cincin sudah terpasang di kedua jari dari Marley dan Hadsa. Cincin itu terukir nama keduanya serta dibalut mutiara.

"Cium, cium, cium." Caesar, Hendra, Davin, berteriak penuh semangat.

Lantas Marley memajukan wajahnya, dengan cepat tak sampai satu detik, Marley mengecup bibir Hadsa untuk pertama kalinya.

Semua orang bersorak riang, sedangkan kedua mempelai sudah kembali turun, kini hubungan keduanya sudah berganti sebagai pasangan yang saling berjanji di hadapan banyak orang.

Adira lebih dahulu hampiri pasangan tersebut dengan Selina yang berada di sampingnya. "Selamat atas pernikahan kalian." Ujarnya, lalu memeluk anak laki-lakinya dengan penuh rasa sayang.

Ibunda berbisik, "Maafkan Bunda. Semoga bisa membuat kamu bahagia." Adira melepas pelukannya, kini matanya tertuju pada Marley yang sedari awal menyorot datar.

"Marley, saya titip Hadsa, ya." Dan dirinya hanya bisa mengangguk sebagai jawaban.

"Abang, selamat, ya!" Teriak Selina riang, "Ingat kata Selina waktu itu." Hadsa mengangguk dengan senyuman yang tidak luntur.

Setelah Adira berlalu dengan genangan air mata yang menumpuk, diikuti Selina setelahnya. Kini Erika dan Jaden yang bergantian menghampiri keduanya.

Namun ada satu pertanyaan yang hinggap, Ayahnya pergi ke mana?

"Kamu ganteng banget, hebat!" Puji Erika pada Hadsa, yang ditimpali hanya senyuman saja.

"Selamat ya! Hidup bahagia." Sambungnya.

Jaden mengusap bahu tegap milik sang anak seolah memberikan kekuatan, "Papa senang, jadi anak yang baik, ya?" Setelah berkata demikian, baik Adira maupun Jaden, keduanya berbalik meninggalkan pengantin baru.

Ketiga temannya berjalan menghampiri, setelah sampai, Hendra yang lebih dahulu mengucapkan selamat. "Selamat, Mar. Gue bisa gak kayak lo nantinya?" Ujarnya, ada nada tersirat di dalamnya.

"Yakin dong, berjuang Hen. Jangan menyerah." Bukan Marley menjawab, melainkan Caesar.

"Ini masih awal di hubungan lo, Hen. Jangan terburu-buru, jalanin aja dulu, lo baru mau masuk kuliah, udah mikir nikah aja. Pikirin tuh ospek!" Ujar Davin.

"Minimal semangati gue lah!" Ucap Hendra sinis.

Keduanya tertawa, "Semangat ya Hen, gue yakin lo pasti bisa kayak Marley sekarang." Ucap Davin dan diiyakan oleh Caesar, bahwa dia setuju atas ucapan yang dilontarkan oleh sahabatnya itu.

"Lo gak mau semangati gue, Mar?" Marley menggeleng, sontak membuat Hendra mengumpat. "Brengsek lo."

Kini fokusnya berganti kepada Hadsa, terutama Davin yang ingin berujar sesuatu. Sejujurnya Davin terkejut saat diberitahu jika Hadsa adalah orang yang akan dijodohkan serta dinikahkan dengan temannya, Davin sebelumnya sudah mengenali Hadsa namun di kisah yang berbeda, yang Davin ketahui Hadsa adalah mantan kekasihnya Jenggala.

Destiny [ MARKHYUCK ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang