26. Awal Yang Baru

2.1K 160 16
                                        

Setelah terucap janji suci yang diutarakan oleh anaknya, Derza keluar meninggalkan ruangan. Dengan langkah yang terburu-buru dan hampir tersandung oleh kakinya sendiri.

Derza sudah sampai di tempat tujuan, yakni di depan gedung pernikahan sang anak. Nama Marley dan Hadsa tercetak jelas begitu besar.

Lagi dan lagi, Derza menangisi segalanya. Jika ia sama halnya dengan Ibunda, yang memaksa sang anak untuk kebahagiaan sendiri.

Begitu melihat Hadsa mengucapkan janji suci dengan lancar, dan nada tercekat. Derza melihatnya, kedua mata Hadsa yang seakan ingin menumpahkan segala beban.

Penyesalan Derza yang begitu kentara, ia tahu jika dirinya sangat jahat kepada anaknya sendiri.

Tepukan pada bahunya terasa, dengan cepat Derza usap air mata itu.

Adira menghampiri suami setelah mengucapkan selamat kepada sang anak, "Kok di sini?"

"Cari angin." Jawabnya dengan alasan yang begitu klasik.

"Gak kasih selamat dulu sama Abang?" Ujar Adira dan mendapatkan sebuah gelengan dari Derza. "Aku gak berhak kayaknya, Ra."

"Kenapa gitu?"

"Aku udah jahat sama anak sendiri, takut, Ra. Abang bakal maafin aku enggak, ya?" Ucap Derza dengan nada tersirat di dalamnya.

"Coba aja dulu, minta maaf. Dimaafkan atau enggaknya, yang penting kamu udah tau salahnya di mana."

"Ra, maafkan aku, ya. Udah gagal jadi suami yang baik buat kamu." Adira menggeleng, walau dia tidak membenarkan perilaku suaminya, namun ia begitu sangat amat menyayangi Derza.

"Kamu gak gagal, cuma butuh berbenah diri. Ayo, ke Abang." Ajak Adira, lantas Derza pun mengiyakan.

Derza melangkah menghampiri Hadsa yang tengah duduk dengan di sampingnya ada Marley, perasaan gugup dan takut menyelimuti.

Beruntung Adira mau menemaninya serta menguatkan melewati genggaman tangan.

Hadsa sontak bangun dari duduknya setelah melihat Derza menghampirinya, serta Marley pun ikut beranjak.

Begitu sampai, Derza langsung memeluk Hadsa, membuat sang empu tertegun sebentar. Isak tangis terdengar begitu pilu, penyesalan yang susah dihilangkan rasanya begitu gelisah.

"Abang." Panggil Ayah di sela tangisnya. Sedangkan Hadsa masih termangu, enggan untuk membalas rengkuhan sang Ayah.

Lantas Derza melepaskan pelukannya, kini ia tatap kedua bola mata yang menyiratkan luka. Derza bawa tangannya untuk memegang kedua pipi yang kembali tirus, lalu dirinya usap dengan sayang.

"Ayah tau, Ayah gak pantas untuk bilang ini. Tapi, selamat, ya?" Derza belum berhenti berbicara, lantas ia melanjutkan. "Ayah minta maaf, Bang." Lirihnya.

"Perbuatan Ayah emang enggak patut untuk dimaafkan. Tapi, Ayah memohon, hapus rasa benci kamu ke Ayah." Kedua lengan itu ia lepas, Derza tersenyum setelahnya.

"Selamat, anak hebat Ayah."

°°°

Hadsa dengan segera menundukkan tubuhnya ke sofa apartemen miliknya dan Marley, atas hadiah pernikahan dari dua keluarga Artama dan Wilangga.

"Bangsatlah, capek banget pura-pura." Ucapnya pelan, Marley mendengar lontaran kalimat tersebut.

"Bukan lo doang kali yang capek." Celetuk Marley guna menanggapi kalimat sebelumnya.

"Lo diem deh." Sinisnya.

Marley tak peduli, dia memilih untuk membasuh diri, sebab lelah dan keringat membuat tubuhnya begitu lengket.

Tapi tunggu—

Apartemen ini hanya mempunyai satu kamar, Hadsa baru menyadari itu, lantas ia menghela kasar.

Hadsa pun memilih untuk memasuki kamar tersebut, dengan kasur yang begitu besar dan beberapa peralatan yang sudah lengkap.

Kulkas sudah terisi penuh, perlengkapan memasak dan lain-lain sama halnya juga lengkap.

Lantas Hadsa dudukkan tubuhnya di sisi ranjang, barang bawaannya yang belum dibenahi ia biarkan di samping kasur. Hadsa sungguhan merasa lelah.

15 menit terlewat, Marley keluar dari bilik kamar mandi tanpa atasan, sedangkan bawahnya tertutup handuk berwarna putih.

Marley melewati Hadsa begitu saja, mengambil pakaian untuk dirinya pakai, karena sudah biasa memakai baju di kamar, membuat Marley tanpa malu membuka handuk setelah terpasangnya celana dalam.

"Anjing lo." Umpat Hadsa. Iya, dia sedari tadi memperhatikan raga Marley setelah keluar dari kamar mandi hingga memakai pakaian di depannya.

Marley mengernyit heran, "Jangan nafsu lo sama gue." Ujarnya, kini pakaian yang dia ambil sudah sepenuhnya melekat di tubuhnya.

Hanya kolor dan kaus oblong.

"Najis." Maki Hadsa, lalu mengambil beberapa pakaian di dalam kopernya.

Kini berganti Hadsa yang membasuh diri meninggalkan Marley yang tengah merebahkan tubuhnya di atas ranjang kasur.

Baru juga akan menutup kedua mata, Marley dikejutkan dengan panggilan dari arah kamar mandi.

"Tolong ambilin handuk!" Teriak Hadsa di dalam kamar mandi, lantas ia membuka sedikit pintu tersebut.

"Woi anjing, denger gak?!" Marley tetap hiraukan teriakan itu.

"Monyet, males banget gue kalau udah gini." Gerutunya, "Marley anjing, tolong ambilin handuk gue di dalam koper, lupa dibawa."

"Berisik." Beritahu Marley sembari menatap ke arah Hadsa yang sedang menyembulkan kepalanya di balik pintu kamar mandi.

Hadsa berdecak, "Cepet. Gue udah capek banget mau tidur."

"Bawel, pakai aja handuk yang di dalem."

Dengan begitu Hadsa menolak dengan keras, "Ogah!" Setelahnya Marley membelakangi Hadsa, yang semakin membuat sang empu mengumpat.

"Tai, ih, babi lo." Pintu tersebut terdengar terbuka, Marley merasa was-was sekarang.

Pemuda tanpa dibalut apapun melangkah menuju koper miliknya,  Marley yang memang tidak menutup matanya pun terkejut saat melihat tubuh yang berjalan melewatinya itu.

"ORANG GILA!!!" Teriak Marley sembari dengan cepat menutup kedua mata menggunakan bantal.

Hadsa terbahak, ia memang tidak tahu malu. Toh, dirinya dan Marley sama-sama lelaki, pun sudah terikat tali pernikahan. Dia tahu jika dirinya gila, namun Hadsa sungguhan kesal dengan pemuda yang kini sudah berstatus sebagai suaminya itu.

Setelah memakai handuk dan kembali ke dalam kamar mandi, Hadsa sebelumnya membalikkan perkataan yang sempat dilontarkan oleh Marley.

"Jangan nafsu lo sama gue."

Ternyata untuk menggoda Marley rasanya masih senang dia lakukan hingga sekarang.

Destiny [ MARKHYUCK ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang