30. Yang Dirasakannya

1.9K 149 13
                                        

Tayangan televisi yang menyala tidak mengambil fokusnya, pikiran Marley bahkan masih berlabuh di beberapa hari yang lalu, di saat pertama kalinya dia dengan Hadsa berada di situasi yang begitu serius tanpa ada rasa emosi di dalamnya.

Ini sudah hari ke empat, namun Marley tak tahu bagaimana untuk melupakannya. Perkataan Hadsa soal ingin dilepas terus berputar di dalam benak kepala. Tetapi apa yang dibicarakan Hadsa, menurutnya ada benarnya juga.

Memang apa yang harus dipertahankan? Keduanya sama-sama tidak saling menaruh rasa, mengucapkan janji suci dengan lantang pun tanpa melalui suara hati.

Keduanya sama-sama terpaksa menjalani pernikahan dengan kepura-puraan. Jadi, apa yang telah diucapkan Hadsa, seharusnya Marley pikirkan sedari awal 'kan?

Namun, mengapa ada sedikit rasa tidak rela? Jika memang benar, nanti keduanya sudah sama-sama lelah dengan keadaan. Dirinya dan Hadsa akan berpisah, lalu setelahnya bagaimana?

Pernikahan ini sama-sama tidak diinginkan, jika terus dipaksa masa depannya akan bagaimana nantinya?

Suara pintu terbuka mengejutkan Marley dari lamunan, kini jam telah menunjukkan angka 9 malam, Hadsa memang selalu pulang di atas jam 7. malam.

Kedatangan Hadsa seharusnya tidak dipedulikan olehnya. Namun kenapa saat melihat tubuh Hadsa basah kuyup membuat Marley beranjak untuk menghampiri raga Hadsa yang tengah kedinginan.

"Habis dari mana? Kok bisa kehujanan?" Tanya Marley, jemarinya tanpa sadar telah mengusap beberapa helai rambut yang menghalangi kedua mata milik Hadsa.

Diperlakukan seperti itu membuat Hadsa termangu, entah mengapa Marley akhir-akhir ini begitu berbeda, Hadsa tentu mengetahui bagaimana sifat Marley saat dulu mereka masih berada di Jakarta.

Tatapan tajam, rahangnya tegas, dan jangan lupakan nada suara yang dingin serta ucapan yang menyakiti hati. Di mana Marley dahulu? mengapa saat janji suci diutarakan, Marley yang bicaranya tanpa dipikir terlebih dahulu kini menghilang seperti diterpa angin kencang?

Namun, tentu Hadsa tidak keberatan. Saat keduanya sudah menjadi pasangan, Hadsa khawatir, takut Marley akan lebih menohok hatinya di tempat tinggalnya sekarang.

"Sa?" Panggil Marley saat tak melihat pergerakan dari Hadsa, sontak membuat sang empu tertegun.

"Iya?" Nada Hadsa kentara sekali gagapnya, namun Marley mengira jika Hadsa kedinginan, terlihat dari pergerakan bibir yang gemetar.

"Mandi dulu pakai air hangat, nanti gue coba bikin sup, ya? Tadi gak sengaja kena kulit lo, ternyata sedikit panas."

"Hah?" Gagu Hadsa, "Gak usah anjir, ngapain sih? Aneh deh lo akhir-akhir ini. Biasanya juga bodo amat?"

Rentetan pertanyaan dihiraukan, "Udah, percayakan aja sama gue."

"Dih? Mau bunuh gue ya lo, ngaku?!"

"Apa sih, gak jelas."

"Lo yang gak jelas monyet." Bibir Hadsa bergetar saat berucap, membuat Marley mendorong tubuh Hadsa untuk segera masuk ke dalam kamar.

"Jangan pegang-pegang gue!!" Teriak Hadsa, pintu kamar telah ditutup oleh pemuda yang sudah berada di dalam kamar, serta merapal banyak doa, perilaku Marley membuat Hadsa bergidik ngeri.

Di lain sisi Marley tengah berkutat dengan handphonenya, lebih tepatnya tengah membaca pesan dari mamanya yang ia tanya resep sop untuk orang yang sakit.

Beruntung bahan masakan tidak ada yang kurang, lalu dengan apa yang telah dikatakan Mamanya, Marley mencoba untuk mengumpulkan bahan-bahannya terlebih dahulu.

Setelah semua siap, bahan utama dia potong menjadi sedang, kini sayur kol serta wortel sudah terpotong. Walau ada yang besar dan kecil, Marley tetap merasa bangga atas hasilnya.

Selepasnya bumbu yang sudah ia haluskan, dengan pelan-pelan ditumis di atas wajan dengan minyak yang sudah panas. Seperti petasan, Marley menjauhi wajan, takut-takut mengenai raganya.

Ternyata, Marley lupa untuk mengecilkan apinya. Membuatnya mencium aroma terbakar, dan benar saja, jika bumbu yang coba dia masak tadi kini sudah menjadi warna hitam.

Kebetulan Hadsa telah selesai membasuh diri, dan menghampiri Marley sebab aroma tak sedap tercium di penciumannya.

"Tuh 'kan! Lo pasti mau bunuh gue, anjir." Tuduh Hadsa setelah melihat bumbu yang dimasak Marley tidak terbentuk.

"Lo bisa masak gak, sih?" Tanya Hadsa setelahnya, lantas tanpa rasa bersalah Marley menggeleng dengan polosnya.

"Kalau gak bisa jangan dipaksa lha bego lu." Maki Hadsa yang tidak didengarkan oleh Marley.

Malah pemuda itu menyayangkan masakannya yang sudah tidak bisa diselamatkan, "Terus gimana?" Tanya Marley sembari menatap nanar bumbu tersebut.

"Makan."

"Hah? Emangnya lo mau?" Ucapan Marley mendapatkan cubitan keras dari Hadsa. "Kagak lah anjing, maksud gue, dimakan sama lo!!"

Marley meringis, ia mengusap pelan bekas cubitan dari Hadsa pada lengannya itu. "Yah, sayang banget."

"Apanya sih anjing?" Marley menunjuk wajan tersebut, Hadsa menghela nafas.

"Udahlah, kata gue juga gak usah, 'kan sekarang liat sendiri? Cuci tuh bekas kegagalan lo!!" Ujar Hadsa.

Lalu kembali berbicara, "Gue mau tidur. Malam ini giliran gue yang tidur di kamar, cepetan ambil bantal lo dan pergi dari kamar gue!"

Sebelum akan kembali ke dalam kamar, Hadsa mengucapkan sesuatu. "Coba jedotin kepala lo, kayaknya agak rusak." Raga Hadsa sudah tidak terlihat.

Sedangkan Marley tengah merutuki dirinya sendiri, sembari mengabari ke mamanya, jika masakan yang akan dirinya buat, ternyata sudah gagal di awal.

Marley tiba-tiba termangu, dari lubuk hatinya ada rasa yang tidak bisa diartikan dengan begitu mudah, Marley kebingungan.

Ah, Marley begitu frustasi.

°°°

(a/n)

Halo....

aduh, kayaknya masih butuh banyak beberapa parts lagi deh, hahaa..

Is it okay?

Destiny [ MARKHYUCK ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang