Sinar mentari sudah menyinari pagi yang cerah ini, namun keadaan Hadsa seperti awan yang mendung. Dia tidak bisa tertidur semalaman, tempat ini masih baru menurutnya.
Juga, dia sibuk menangis semalaman. Entah oleh sakit hati yang diberikan sang Ayah, atau dengan keberadaannya di sini.
Ketukan pintu pun terdengar, Hadsa beranjak dengan wajah kurang tidur. Pintu itu dibuka olehnya, seketika membuat Erika menatap khawatir padanya. "Astaga, kamu enggak nyenyak ya tidurnya?" Mata sembabnya tidak ditanyakan, dan Hadsa berterimakasih atas itu.
"Hari ini enggak usah sekolah, ya? Nanti Bibi minta tolong Marley buat kasih surat sakit ke sekolah kamu."
"Enggak usah, Bi. Saya sekolah aja, kemarin soalnya enggak pergi sekolah." Ujar Hadsa.
"Hadsa, di rumah aja, ya?" Hadsa mana bisa menolak, lantas ia mengangguk, lagipula dia masih merasa lelah. "Tapi enggak usah bilang Marley, saya aja nanti yang minta izin temen."
Erika tersenyum sembari membelai tulang pipi yang tirus itu, "Turun, yuk? Sarapan."
"Marley udah berangkat pagi-pagi, katanya ada keperluan." Ujar Erika seakan tahu keresahan yang dialami oleh Hadsa.
Setelahnya keduanya menuruni anak tangga, sebelumnya Hadsa sempatkan untuk membasuh wajah sebentar. Langkah keduanya dibarengi oleh obrolan singkat, "Papanya Marley juga udah pergi kerja, Bapak sama Anak emang sama aja."
Yang ditimpali hanya senyuman oleh Hadsa, ia hanya merasa bingung harus menanggapi seperti apa. Sedangkan dia tidak merasa dekat dengan keluarga Wilangga, pertemuan pertamanya pun menurutnya bisa dikatakan tidak baik. Namun, Erika mengapa ramah sekali?
Di meja makan hanya terdapat nasi goreng dengan nugget sebagai sajian, awalnya Mama Marley mengucap maaf namun Hadsa menggeleng ribut, diberi saja ia sudah sangat berterima kasih.
"Hadsa, ada bibi di sini, kamu boleh kok buat ngeluarin semuanya sama bibi." Ucap Erika tiba-tiba sedikit membuat Hadsa tersedak, lantas ia ambil air putih yang tak jauh dari jangkauannya.
"Eh, aduh! Maaf." Erika panik seketika.
Hadsa menggeleng, "Gak apa-apa, Bi." Ujarnya, agar wanita paruh baya tersebut tidak merasa bersalah.
"Makasih banyak, nasi gorengnya enak!" Ucap Hadsa setelah menghabiskan sepiring nasi goreng.
Erika mengangguk senang, "Sama-sama, sayang. Sekarang Hadsa mau ngapain? Bibi mau beres-beres rumah, gak apa-apa ditinggal?"
Sontak Hadsa menggeleng, "Biar Hadsa bantu." Erika ingin menangis saja, sebab Hadsa sudah menyebut namanya sendiri tanpa embel-embel kata formal lagi yang pemuda itu keluarkan.
"Enggak usah. Hadsa istirahat aja, ya? Nanti siang bibi bangunin kamu." Tolak Mama Marley, lantas Hadsa pun tak berkata lagi. Sebab pemuda itu sudah disuruh untuk segera kembali ke kamarnya.
Di perjalanan menuju kamar yang dirinya tempati, Hadsa beberapa kali menguap. Rasa kantuknya datang, dan Hadsa ingin segera sampai di dalam kamar.
Kepergian Hadsa hanya mendapatkan seulas senyum dari Erika, dia berharap bisa membuat Hadsa merasa kembali baik. Walau ia tahu, dia tidak sekeren kekasih Hadsa yang diberitahu oleh Adira.
°°°
Marley tiba di sekolah dengan wajah yang masih membiru, sontak mendapatkan perhatian dari ketiga temannya.
"Kenapa, tuh, muka?" Tanya Davin kala Marley telah duduk di sampingnya.
"Biasa." Jawabnya singkat.
"Ya apa, tolol." Ujar Caesar penuh emosi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Destiny [ MARKHYUCK ]
Fan-FictionBukan hanya sekadar perihal perjodohan saja, namun juga tentang bagaimana bahwa dirinya dijatuhkan ke dalam lingkungan yang tak pernah ia bayangkan akan terjadi di hidupnya. Garis takdir yang bahkan beberapa orang tidak menginginkannya, semua orang...
![Destiny [ MARKHYUCK ]](https://img.wattpad.com/cover/326902270-64-k550231.jpg)