34. Perasaan Takut

2.2K 140 14
                                        

Rumah megah dengan nuansa serba mewah itu selalu membuatnya terkesima, angin malam begitu dingin, apalagi sekarang sedang musim hujan, namun tak membuat Hadsa beranjak dari sana.

Dengan kaki yang menjuntai ke bawah air kolam, beberapa kali menggoyangkan dan sesekali menendangnya. Walau sudah ditawari untuk masuk ke dalam, namun Hadsa menolak.

Seperti sekarang, Adrian kembali mendatanginya yang sedang asyik menatap cakrawala yang sudah menghitam, tak ada satupun bintang di sana, pun bulan memperlihatkan sinarnya dengan malu-malu.

Gemericik air dari langit itu membuat Adrian menarik pergelangan tangan milik Hadsa untuk meneduh ke dalam, namun sekali lagi Hadsa menolak saat ditawari untuk masuk.

"Gue pulang aja, udah malem." Ujar Hadsa yang raganya sudah berdiri di dalam rumah besar yang ditempati oleh Adrian.

Awalnya, Hadsa mengira Adrian tinggal di sebuah apartemen sama sepertinya, ia tidak tahu bahwa Adrian benar-benar menetap di sini.

"Hujan, Sa, yakin mau pulang? Nginep aja di sini." Tawar Adrian.

Hadsa menggeleng, "Gak usah, Yan, gue pulang aja." Entah mengapa ia mempunyai firasat buruk, namun dia tidak bisa mengira-ngira hal apa yang akan terjadi.

"Sa, udah malem, nginep aja. Besok pagi gue anterin." Adrian tetap bersikeras.

Lantas Hadsa menghela, badannya sudah lelah sedari awal, walau sudah diberi obat pereda pusing oleh Adrian, namun Hadsa tetap merasakan kepalanya terus berdenyut.

Mungkin ia terlalu lama tidak mengistirahatkan tubuhnya.

"Ya udah, iya." Jawab Hadsa akhirnya, mau bagaimanapun Hadsa memang sudah teramat lelah.

Ada raut wajah senang dari Adrian, "Nah gitu dong! Ayo gue anter ke kamar." Keduanya pun memasuki rumah itu semakin dalam, hingga berhenti di depan pintu.

Adrian lebih dahulu masuk, lalu diikuti oleh Hadsa setelahnya, kini keduanya sudah sepenuhnya di dalam kamar, Hadsa sudah dudukkan dirinya di atas kasur yang sangat empuk.

Setelahnya Adrian pamit sebentar untuk mengambilkan air putih atas permintaan dari Hadsa.

Hadsa pandangi isi kamar tersebut, begitu rapih dan bersih. Namun, mengapa ia tidak menemukan satu orang pun di sini? Bukannya Adrian berkata bahwa dia menetap di Kanada, lalu di mana kedua orang tua dan keluarga pemuda tersebut?

Bukan hanya itu saja, pekerja di sini pun tak ada, Adrian selalu melakukan apa-apa sendiri? Walau sedikit curiga namun Hadsa berdecak kagum.

Tak lama Adrian kembali dengan segelas air putih lalu diletakkan di atas meja kecil di samping kasur, namun Adrian tak kunjung beranjak dari kamar yang akan Hadsa pakai sementara ini.

"Gak mau makan dulu, Sa?" Tanya Adrian, Hadsa lantas menggeleng halus. "Gak deh, makasih, gue kayaknya mau langsung tidur aja."

Adrian mengangguk, memang seharusnya pintu itu ditutup, namun bukan dengan Adrian yang masih berada di dalam kamar, bahkan pintu itu sengaja dikunci dan kuncinya dibuang ke sembarang arah.

Hadsa yang melihatnya sontak terkejut, Adrian semakin mendekat, Hadsa pun semakin bergerak ke tengah-tengah kasur.

"Yan, kok dikunci?" Tanya Hadsa dengan gelisah.

"Biar gak ada yang masuk." Jawab Adrian tenang, namun tidak dengan Hadsa yang semakin merasa cemas.

Kini, tubuh Hadsa sudah berada di kepala kasur, dan Adrian pun sudah menaikinya. "Y-yan?" Gugup Hadsa saat Adrian sudah semakin dekat.

Lalu, tawa Adrian menggelegar hingga membuat Hadsa kebingungan.

"Astaga Sa, kenapa sih?" Ucap Adrian seraya beranjak dari kasur, sedikit membuat Hadsa bernafas lega.

"Lo takut sama gue?" Tanya Adrian yang mendapat anggukan kecil dari Hadsa.

Tawa Adrian kembali mengudara, "Gue gak bakal macem-macem kali, Sa, santai aja."

Tubuh Hadsa sudah rileks kembali saat kunci yang dibuang Adrian diambil oleh pemuda itu.

°°°

Dua pemuda dan satu perempuan itu sudah berada di dalam mobil sedari tadi, kini sudah pukul 9 malam, namun ketiganya tak kunjung menemukan tempat tinggal milik Adrian yang sedang mereka cari.

Stephen yang mengemudi, sebab Marley terlihat begitu gegabah, jika saja Marley yang tetap bersikukuh untuk mengemudi, bisa dipastikan jika ketiganya tidak akan bertemu dengan Hadsa.

Apalagi, Marley tak begitu tahu negara ini, dia masih orang baru.

"Stephen, lebih cepet lagi!" Titah Marley yang mendapati pukulan pelan dari sosok perempuan di sampingnya.

"Lo mending diem! Dari tadi nyerocos terus, gue yakin Hadsa pasti secepatnya ketemu."

"Lo dari tadi bilang secepatnya secepatnya Hadsa ketemu, mana?! Sampe sekarang gak ketemu?!!!" Bentak Marley, dia benar-benar merasa frustasi.

Marley mengingat percakapan yang diceritakan oleh Naura tentang asal muasal Adrian, begitu tahu, Marley semakin panik dan memberontak agar dia yang mengemudi.

Namun jelas sepasang kekasih itu menolak dengan keras.

"Asal lo tau, Mar. Adrian itu bukan cowok baik-baik, dia bahkan di drop out dari tempat kuliahnya dulu di Indonesia. Dia kena kasus pelecehan seksual, raped sama beberapa perempuan, bahkan dengan gilanya dia pernah sesuatu barang ke dalam kelamin perempuan!!"

Jika sudah begini, maka Naura membalasnya. "YA LO KENAPA JADI COWOK GAK BECUS, TOLOL!"

Marley tahu, jika dirinya memang pantas dikatai seperti itu, mau mengelak pun tak ada gunanya, bahwa apa yang dikatakan Naura memang benar adanya.

Maka dia berbisik lirih, "Tolong gue."

Naura jadi merasa bersalah, "Iya Mar, ini kita berdua lagi cari alamat yang dikasih sama temen gue, semoga alamat ini beneran rumah Adrian."

"Ay, masih jauh?" Tanya Naura pada Stephen, dan dijawab oleh Stephen demikian. "Beberapa belokan lagi."

"Hadsa, maaf." Gumaman Marley terdengar di kedua telinga dua orang itu, namun mereka juga sama takutnya dengan Marley.

Apalagi Naura tahu dan menyaksikan kebejatan Adrian yang dilakukannya waktu lalu. Walau belum bertemu dengan Hadsa, namun Naura sangat amat menakuti suatu hal. Sebab, salah satu temannya menjadi korbannya, hingga sekarang, temannya bahkan masih enggan menampakkan foto dan memutuskan tidak melanjutkan pendidikan.

Naura berharap, semoga mereka tidak terlambat datang.

Bahwa, seksual Adrian benar-benar begitu gila.

°°°

(a/n)

Udah masuk ke inti cerita, aku harap kalian gak bosen yaa 🥹

Makasih tetep nunggu cerita ini dan ngikutin sampai sekarang.

Guys anggep aja Stephen lancar bahasa indo yaaa, ini aku takut salah penulisan Inggris jadi jarang pakai itu.

Dan maaf kalau penjelasannya kurang dapat feel-nya 😢😢

Oh iya, untuk visualisasi Adrian aku memutuskan (untuk) tidak pakai ya, jadi visualisasi Adrian sesuai imajinasi kalian aja yaa!

Sekali lagi aku memberi tahu, bahwa ini hanya fiksi, apa yang dilakukan Adrian tidak untuk ditiru!

Selamat malam 👋🏻

Destiny [ MARKHYUCK ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang