Masih ada waktu dua hari untuk tetap tinggal di rumah Marley, namun sore ini dia bingung harus berlabuh pada siapa.
Hadsa pandangi mentari yang akan terbenam, di sisinya terdapat awan jingga yang orang-orang menyebutnya sebagai senja.
Dia juga memutuskan untuk tidak pulang ke rumah Marley, apalagi ke rumah tinggalnya, Hadsa masih punya akal untuk itu.
Air matanya kembali meluruh, perih hatinya masih memupuk di dalam. Hadsa tidak mau kehilangan Jenggala.
Hadsa sungguh menyayangi mantan kekasihnya, yang bahkan ia benci untuk memanggil Jenggala atas sebutan mantan kekasih. Mereka pasti akan kembali lagi, 'kan? Hadsa berharap, walau sekecil mungkin harapan.
Pemuda dengan berkulit madu itu sedang berada di atas jembatan, bukan untuk mengakhiri hidup, Hadsa hanya ingin cari agar kembali hidup.
Sebab untuk melihat matahari yang kini sudah terbenam sepenuhnya, Hadsa merasa sedihnya akan larut bersamaan dengan matahari tersebut.
Namun ternyata, masih ada rasa sakitnya. Hadsa takut tidak bisa disembuhkan, dulu dia selalu minta diobati pada Jenggala. Sekarang, rasa sakitnya bahkan ulah dari pemuda itu.
Hadsa ambil napas panjang, setelahnya ia hembuskan. Hadsa usap air mata yang melintas di kedua pipinya. Lalu menguarkan rambut ke belakang, Hadsa rasa ini seperti hari akhirnya.
Tidak mau berlarut dalam kesedihan, Hadsa pun beranjak, dia putuskan untuk berlabuh sementara di rumah Renjana, tempat taruh sedih keduanya. Yang pertama? Jenggala. Namun tidak mungkin 'kan dia kembali hampiri Jenggala di saat hubungan keduanya sudah tidak terikat?
Hadsa memesan ojek di dalam aplikasi berwarna hijau, sembari tunggu ojek datang ia bersenandung pelan, lirik tersebut tiba-tiba terbesit dalam benaknya.
Jangan pergi dari diriku, tak sanggup harus hidup tanpamu. Karena jauh lebih indah, bila kita bersama seperti yang terjadi kemarin.
Tanpa ada musik yang mengiringi, namun Hadsa cukup mengerti dengan sendu yang dirasakan.
Bait selanjutnya dia nyanyikan, rasanya sesak. Namun ia pikir lagu tersebut bisa menyeruak segala rasa yang dia tanggung sendirian.
Kini harus aku lewati, langkah demi langkah yang menyepi, membalut luka lagi yang ku tahan hingga kini, habis sudah nafas ku, memanggil namamu.
Takkan Hilang - Budi Doremi
Entah sudah berapa kali dia ucap nama Jenggala, agar semuanya bisa kembali seperti sebelumnya. Segala maaf dan ucap rasa sayang, ternyata tidak bisa membuat Jenggala kembali padanya.
Senandung Hadsa berhenti di sana, sebab ojek yang dia pesan sudah sampai di depannya. "Mas Hadsa, ya?" Hadsa pun mengangguk.
"Sesuai titik ya, Mas."
"Iya, Pak." Hadsa mendudukkan diri di boncengan, tidak sesusah saat menaiki motor milik Marley yang membuat punggungnya merasa sakit.
Obrolan singkat yang dibawa oleh si pengendara membuat perjalanan tidak sepi, Hadsa juga mampu menjawab dengan lancar. Tidak dengan hatinya yang selalu berucap, jika dia sungguh ingin kembali bertaut dengan Jenggala.
Namun, Jenggala mungkin saja atau bahkan tidak mau jika keduanya akan kembali berhubungan. Sebab berakhirnya hubungan ini berkat permintaan Jenggala yang Hadsa tidak tahu alasan dibalik itu.
Perjalanan yang tidak memakan banyak waktu pun sudah sampai tidak terasa, Hadsa segera turun dan membayar pada si pengendara. Sebab, uang di aplikasinya sudah lama tidak diisi.
"Makasih ya, Pak." Helm tersebut Hadsa berikan, dan diterima baik olehnya. "Sama-sama, Mas." Ojek yang membawa Hadsa pun sudah kembali lanjutkan perjalanan sembari tunggu pelanggan yang meminta untuk diantar.
Sudah pukul 7 malam, Hadsa belum mengabari Renjana bahwa dia ingin menginap. Lantas Hadsa mengirim pesan jika dirinya berada di depan rumah Renjana.
Tak lama pintu tersebut dibuka dari dalam, Renjana dengan bawahan hanya kolor dan atasan menggunakan kaus putih itupun menatap malas pada sosok yang berikan sebuah cengiran padanya. "Kenapa gak bilang mau nginep, sih? Kan gue bisa beres-beres dulu kamarnya!"
"Lebay, lo. 'Kan emang biasanya kamar lu berantakan, Ren." Cibir Hadsa.
"Formalitas aja." Renjana terkekeh setelah berkata seperti itu, namun dia paham dengan raut wajah Hadsa yang memang tawanya terlihat terpaksa.
"Masuk, Sa. Gue kebetulan mau beli jagung bakar di depan, lo, mau?" Hadsa menggeleng sebagai jawaban.
"Ya udah, tunggu di kamar aja. Emak Bapak gue lagi dinner di luar, anaknya terlantar di rumah."
"Anak pungut kali, lu." Setelah berkata demikian, kalimatnya mengingatkan pada Marley yang menggunakan panggilan tersebut untuk menyebutnya.
"Sana lu masuk sebelum gue usir." Lantas Hadsa dengan segera memasuki rumah yang Renjana bilang ini adalah tempat tinggal keduanya.
Hadsa telah sampai di dalam kamar milik Renjana, tak ada yang berubah di dalamnya. Atas meja tetap berantakan, ada beberapa benda dan sampah di sana. Namun, kasur bersih pun terlihat rapih. Bantal, guling, dan selimut diletakkan pada tempatnya.
Handphonenya bergetar, menandakan ada sebuah pesan masuk. Lantas Hadsa mengeceknya, Jenggala mengiriminya sebuah pesan dengan berisi; Malam, Hadsa. Pulang dengan aman? Setelah Ini mungkin akan jadi pesan terakhir yang aku kirim.
Lalu, setelahnya pesan Jenggala kembali muncul; Hadsa, maaf untuk semuanya. Maaf atas luka yang aku kasih ke kamu, Hadsa, bahagia ya, habis ini?
Mungkin nanti aku kasih tahu alasannya, kalau sekarang aku belum sanggup, Sa. Takut minta kamu buat balik lagi sama aku.
Tapi, enggak bisa. Hadsa, aku sayang sama kamu, akan selalu begitu. Habiskan waktu sama kamu itu menurutku hal paling indah dan sayang untuk dilewatkan.
Pesan itu masih panjang, ia hanya mampu membaca setengahnya saja. Hadsa bahkan kembali menangis, dia tidak sanggup membacanya lagi. Ia ingin membalas pesan tersebut, sekadar mengetik bahwa dia takut jika tidak ada Jenggala di sisinya.
Namun, Hadsa tahu. Mau banyaknya kata yang dia ketik, atau kalimat sebatas permohonan, tidak akan membuat Jenggala menarik ucapannya sore hari tadi. Bahwa mereka benar-benar sudah tidak bisa kembali menjalin kasih.
Pada akhirnya, perjuangan tiga tahunnya telah berakhir sia-sia. Hadsa tidak menyesal mengenal sosok Jenggala, dia bahkan ingin ucap terima kasih berkali-kali semampu yang Hadsa bisa.
Sebab ia telah mengenal sosok yang memberikan penuh kasih sayang padanya adalah salah satu kenangan yang tidak bisa dilupakan.
Jika memang hubungannya berakhir seperti ini, Hadsa mencoba untuk merelakan mulai dari sekarang. Hadsa biarkan pesan tersebut hanya dibaca olehnya, ia belum mampu untuk membalas.
Setelah ini, ia harus melakukan hidup sebagai mana mestinya, ya? Menuruti permintaan Derza, dan setelahnya apa?
Akan ada bahagia, atau bahkan sakit yang dia derita?
Ternyata memikirkan masa depan Hadsa belum mampu. Takut terlalu banyak harapan yang dia inginkan.
Dan selepasnya, takut harapannya akan dipatahkan oleh realita.
KAMU SEDANG MEMBACA
Destiny [ MARKHYUCK ]
FanfictionBukan hanya sekadar perihal perjodohan saja, namun juga tentang bagaimana bahwa dirinya dijatuhkan ke dalam lingkungan yang tak pernah ia bayangkan akan terjadi di hidupnya. Garis takdir yang bahkan beberapa orang tidak menginginkannya, semua orang...
![Destiny [ MARKHYUCK ]](https://img.wattpad.com/cover/326902270-64-k550231.jpg)