Mesin motor itu dimatikan oleh Marley setelah sampai di depan rumah, tanpa ada Hadsa dalam boncengan dan Marley tak mempermasalahkan hal itu. Bahkan dia merasa senang, sebab tak ada sosok pemuda tersebut dalam boncengan.
Marley pikir Hadsa sudah pulang lebih dahulu setelah di antar yang kata Renjana oleh kekasihnya. Namun ia tak melihat sepatu milik Hadsa di sana— Rak sepatu.
Pemuda itupun membuka pintu cokelat tersebut, lalu menutupnya kembali. Sudah hal biasa baginya melihat sang mama di ruang televisi yang tengah menonton sinetron India.
"Hadsa mana?" Erika bertanya.
Dan Marley mengidik bahu bahwa dirinya tidak tahu, atau bahkan malas untuk memberi tahu.
"Lho? Kamu enggak jemput dia, Dek?"
Lantas Marley berucap, "Jemput kok."
"Terus?" Marley kembali mengidik bahu yang membuat sang Mama mencubit lengan sang anak. "Yang jelas!" Marley pun meringis.
"Lepas dulu! Sakit." Cubitan Erika terlepas, Marley kembali berucap. "Tadi Marley ke sana, jemput anak pungut itu. Tapi enggak ada, udah tanya sama temennya, terus katanya dia udah balik duluan."
"Anak apa kata kamu?!" Dengan segera Marley berlari untuk menjauhi amukan sang Mama.
Pintu kamar Marley tutup setelah sudah berada di dalam, Mamanya di luar menggedor pintu dengan kencang. "Kan bener apa kata Marley!"
"Adek, jangan gitu ah! Buka enggak?!"
"Enggak mau, Marley mau mandi." Helaan nafas dari luar terdengar jelas, setelahnya Marley menyimpulkan bahwa Mamanya telah pergi, sebab tak ada tanda-tanda Erika masih berada di depan kamarnya.
Sebelum membasuh diri, Marley menduduki tubuhnya di pinggiran kasur. Pikiran Marley berkelana ke mana-mana, lebih tepatnya pada Hadsa.
Dia berpikir jika Hadsa tengah asyik berbincang dengan Jenggala, atau bahkan salurkan rasa rindu dengan sebuah pelukan. Atau ... mesra-mesraan? Seperti saling bercumbu—
Marley bergidik membayangkannya, dua pria yang saling memagut dengan dalih rasa cinta terbayang di benaknya.
Lantas ia pukul pelan kepalanya, entah mengapa video yang sengaja dia tonton karena kepalang penasaran, masih terbayang dengan jelas.
Iya, Marley mencari di aplikasi berwarna merah itu. Dia mengetik dengan cepat, setelahnya menekan tombol di pojok atas sebelah kanan.
Beberapa video telah bermunculan, ia lihat tayangan dari salah satu konten itu yang bahkan sampai 15 juta penonton.
Karena sudah kepalang penasaran dan tanggung, Marley menekan salah satu video tersebut.
Dirinya terkejut, amat sangat. Bagaimana tidak, baru awalan sudah disuguhkan oleh ciuman penuh kasar.
Marley rasa dia salah menonton, tetapi dia tetap lanjutkan untuk melihat sampai video tersebut selesai.
Hanya 5 menit, namun Marley merasa seperti 1 jam. Keringat mulai bermunculan, hawa nafsu lelaki memang susah untuk ditahan.
Namun, saat melihatnya dia seperti ingin memuntahkan isi perutnya, ia sungguh sangat mual.
Ternyata, semuanya masih terasa aneh. Dan Marley tetap mempertanyakannya bagaimana bisa dua pria saling merengkuh, bertaut tangan, bercumbu, saling nyatakan cinta dan berikan kasih sayang.
Bagaimana bisa? Apa rasanya?
°°°
"Sa! Kenapa?" Renjana kebetulan telah sampai, dia terkejut melihat Hadsa yang tengah terisak penuh pilu.
"Astaga, Sa!" Dengan segera ia menaiki ranjang kasur miliknya, hampiri Hadsa yang tengah bertumpu di atas lutut dengan wajahnya tertutup bantal abu.
Badan Hadsa bergetar hebat dengan jelas, Renjana seakan tersayat saat melihatnya. "Hadsa, kenapa?!" Setiap kalimat yang ia lontarkan, tetap tak ada balasan dari pemuda yang tetap asyik menangis sendirian.
Renjana melihat handphone Hadsa yang masih menyala, di sana menampilkan ruang chat bersama Jenggala. Pesan panjang yang susah dia baca dan pahami.
Hadsa pun mendongak, perlihatkan wajahnya yang memerah, air mata yang kembali datang tercetak jelas di kedua pipi yang sudah sedikit berisi.
Air mata Hadsa kembali menetes sembari tatap Renjana, dengan berderai penuh kepedihan. Renjana tidak tahu ada apa dengan temannya ini.
"Sa?" Panggil Renjana pelan.
Ternyata untuk terlihat kuat, Hadsa belum semampu itu. Dia masih butuh untuk disayangi dan dikasihani.
Dan Hadsa sekarang butuh pelukan.
"Ren ..." Panggil Hadsa, nadanya terdengar perih. Renjana bisa merasakannya.
"Iya, Sa. Gue di sini." Rengkuhan Renjana berikan pada Hadsa. Salurkan rasa hangat dan nyaman di dalamnya. Semoga mampu membuat Hadsa kembali baik-baik saja, walau sekecil mungkin harapan.
Hadsa kembali menangis dalam pelukan, dengan bibir bergetar, Hadsa coba beritahu. "Gue putus, Ren." Kekehan ia berikan setalah berkata demikian.
Renjana lantas melepas pelukannya, menatap terkejut pada Hadsa. Dibilang Hadsa itu bohong 'kan? Mana mungkin hubungan keduanya telah selesai, dilihat dari Jenggala atau Hadsa sangatlah saling menyayangi dan takut akan kehilangan.
Jadi, tidak mungkin 'kan?
"Jangan bercanda, Sa!" Walau Renjana sedikit mempercayakan ucapan yang sempat diutarakan oleh Hadsa.
Hadsa berikan senyum getir, "Ren, gue melakukan kesalahan apa, ya? Sampai buat Jenggala minta udahan."
"Jadi bener, Sa?" Lantas Hadsa mengangguk lemah.
"Kenapa?" Renjana berujar lirih.
Hadsa menggeleng, "Gak tahu, Ren. Jenggala udah gak sayang sama gue kali." Ujarnya terdengar enteng.
"Mana mungkin! Jenggala tuh udan bucin akut, sama kayak lo."
"Terus kenapa Jenggala ninggalin gue sekarang?" Renjana terdiam, apa kata Hadsa memang benar, dan Renjana tak bisa menyangkal.
Dia harus bertanya atau bahkan mengajak ribut Jenggala setelah ini.
"Gue kurang apa, ya?"
Kalimat Hadsa sontak membuat Renjana mendelik, "Gak ada yang kurang dari lo, Sa. Lo tuh sempurna, stop nyakitin diri sendiri."
Helaan nafas keluar dari bilah bibir milik Hadsa, "Ren, gue sayang Jenggala."
"Dia juga."
Hadsa terkekeh, "Gak ah."
"Percaya sama gue, Sa." Hadsa menundukkan kepalanya, walau sudah mencoba rela, rasa perih masih ada. Mungkin enggan untuk pergi.
Sebab, kehilangan raga Jenggala di hidupnya tidak pernah terbayang dalam benaknya.
"Oh iya, tadi ada cowok nyari lo." Hadsa kembali mendongak, "Siapa?"
Renjana pun mengidik bahu, "Enggak tahu, tapi cowoknya belagu banget, anjing." Hadsa pikir itu Marley, siapa lagi jika bukan pemuda yang menyebalkan itu?
Ah, Hadsa melupakan Marley. Dia kira pemuda tersebut tidak akan kembali menjemputnya.
"Lo kenal?" Tanya Renjana.
Hadsa menggeleng, "Kagak. Orang gila kali." Renjana tersenyum mendengarnya, "Hadsa, jangan nangis terus, ya? Gue ikut sakit lihatnya. Bahagia, Sa. Walau sulit karena udah enggak ada Jenggala lagi di sisi lo."
Mendengarnya membuat Hadsa termenung. Mengapa banyak orang-orang berkata untuk dirinya bahagia? Jika dia bahagia, seharusnya bersama Jenggala.
Sebab, Hadsa pikir, bahagianya hanya terdapat pada Jenggala saja.
"I hope."
KAMU SEDANG MEMBACA
Destiny [ MARKHYUCK ]
FanfictionBukan hanya sekadar perihal perjodohan saja, namun juga tentang bagaimana bahwa dirinya dijatuhkan ke dalam lingkungan yang tak pernah ia bayangkan akan terjadi di hidupnya. Garis takdir yang bahkan beberapa orang tidak menginginkannya, semua orang...
![Destiny [ MARKHYUCK ]](https://img.wattpad.com/cover/326902270-64-k550231.jpg)