TW / CW / RAPED , 21+ , NSFW
°°°
Kekehan Adrian menggema di setiap penjuru ruangan, lepas mengambil kunci, Adrian kembali melemparnya ke sembarang arah.
"Lo pikir gue akan menyia-nyiakan kesempatan ini?" Tanya Adrian.
Dengan gugup Hadsa menjawab, "Ma-maksudnya?"
Melihat Hadsa semakin ketakutan membuat Adrian kian puas, setelah dia dipindahkan ke Kanada oleh orang tuanya, hawa nafsu yang selalu Adrian tahan sedemikian rupa akhirnya menyeruak gila hari ini.
Adrian tatap kedua bola mata milik pemuda yang raut wajahnya kentara sekali gelisah dan takutnya, "Hadsa Artama Reza, anak sulung dari bapak Artama Derza, dan ibu Adinda Adira, right?"
Hadsa semakin gelisah, bagaimana bisa Adrian menahu itu?
"Lo siapa?!" Sentak Hadsa yang sudah menyentuh penyangga kasur.
Bukan menjawab yang diinginkan Hadsa, melainkan Adrian tertawa lagi dan lagi. "Mantan kekasih Jenggala, tapi disayangkan karena gak direstui, lo jadi dijodohin sama sosok yang tadi ketemu dan mengganggu waktu kita berdua." Ujar Adrian bangga dan terselip nada kesal di akhir kalimat.
"Hadsa, ternyata lo kasihan banget, ya? Hidupnya gak pernah dapet ketenangan, tapi gue setuju sih kalau lo mau cerai sama Marley." Lagi, Adrian bersuara.
Belum selesai, Adrian kembali berkata. "Lo itu dibuang." Kalimat yang tidak mau dengar, nyatanya terlontar di bilah bibir milik pemuda yang bahkan belum lama Hadsa kenal.
Siapa dia yang berani berkata seperti itu kepadanya? "Jaga omongan lo anjing!" Walau tubuh sudah lelah, namun Hadsa masih mempunyai tenaga untuk beradu mulut dengan Adrian.
Tetapi, Hadsa belum mengetahui sosok sebenarnya dari seorang Adrian yang tidak mudah untuk diremehkan.
Adrian menyeringai, "Bener 'kan?"
Demi apapun, Hadsa ingin memukul habis wajah menyebalkan di depannya ini. Namun apa daya, tenaga Hadsa tidak sebesar seperti sebelumnya.
"Walau gue belum pernah berhubungan sama laki-laki, tapi ayo kita coba, Hadsa. Gimana sih rasanya seks sama cowok? Lo sering 'kan?"
Apa yang dikatakan Adrian tidak benar, bahwa Hadsa belum pernah berhubungan, dengan Jenggala hanya sebatas bertukar saliva saja, ia masih punya batas wajar. Namun, mengapa Adrian berbicara seperti itu?
Tanpa menunggu banyak waktu, Adrian langsung naik ke atas kasur dan mendekati tubuh ketakutan Hadsa. Adrian memegang bibir tebal milik Hadsa, disentuhnya dengan sensual, namun langsung ditepis oleh sang empu pemilik bibir itu.
Adrian berdecih, lantas tersenyum remeh, dengan cepat Adrian mengambil tali yang sudah ia siapkan saat mengambil segelas air putih untuk Hadsa, dia tahu jika Hadsa pasti akan banyak memberontak.
Sontak Adrian tarik kedua pergelangan tangan Hadsa ke atas dan mendapatkan rintihan dari sosok di depannya ini. Setelahnya ia mengikat lengan Hadsa menggunakan tali dengan kencang, lagi-lagi Hadsa meringis.
Tali yang masih panjang itu dia ikatkan pada sebuah paku yang berada di atas dinding, kini tangan Hadsa sudah terikat sepenuhnya, namun kedua kaki Hadsa-lah yang bergantian memberontak.
Dengan cepat Adrian menindih paha tersebut, tanpa menyia-nyiakan banyak waktu, Adrian mencumbu bibir tebal milik pemuda yang tengah merapatkan bibirnya.
Lantas Adrian menggigit bibir tersebut dan mendapatkan lenguhan dari pemuda yang keadaannya begitu menyedihkan. Lidah Adrian semakin masuk ke dalam, bermain dengan lidah milik Hadsa yang terdiam di tempatnya tanpa berniat untuk bergelut dengan miliknya.
Lidah itu dihisapnya dengan kuat, lalu Adrian kembali melumat bibir tebal itu, walau tidak dibalas namun Adrian tetap merasa menikmati, bahkan darah yang keluar pun dilumat olehnya.
Setelah puas bermain dengan bibir, Adrian beralih pada leher jenjang yang sedari dulu menjadi perhatiannya, pertama hanya melumat, namun lama kelamaan dan merasa gemas, Adrian hisap leher tersebut hingga menjadi kemerahan.
Dia melakukannya berulangkali, lengan yang menganggur sedari tadi mulai memasuki kaos milik Hadsa, telapak tangan bertemu dengan kulit hangat Hadsa, disentuhnya sensual, jemarinya semakin mengarah ke atas setelah menemukan apa yang diinginkan, Adrian lantas menyentuhnya.
Sepersekian detik setelahnya, Adrian kembali mencumbui Hadsa tanpa ampun, jari telunjuk sudah bermain pada puting sebelah kiri milik Hadsa, lagi-lagi mendapatkan lenguhan dari si pemilik, tidak mau membuang banyak waktu, Adrian merobek paksa kaos tersebut.
Lalu membuangnya ke sembarang arah, kini ciuman Adrian turun bermain pada puting milik Hadsa, sedangkan pemuda yang berada di bawah Adrian sudah menangis sedari awal.
"Hadsa, Hadsa, gak bakal ada yang mau nolong lo, lo itu udah gak punya siapa-siapa."
Sekujur tubuhnya sudah dipenuhi oleh peluhnya sendiri, dengan raga yang gemetar hebat Hadsa memohon.
"Tolong jangan lakukan itu."
Adrian menyeringai, "Hadsa lo mau memohon sebagaimana juga gak bakal gue lepas gitu aja."
"Gak ada yang peduli sama lo, mending senang-senang sama gue."
Kalimat-kalimat menyakitkan yang selalu datang waktu lalu, membuat Hadsa mengerti tentang apa yang dikatakan Adrian sebelumnya, bahwa semua orang sudah tidak ada yang menaruh peduli padanya.
Adrian terkekeh melihat keadaan Hadsa yang mungkin saja akan jatuh bersimpuh, memohon ampun bak orang yang salah.
"Diem 'kan lo?"
Entah sejak kapan, Hadsa sudah bertelanjang bulat, sedangkan pemuda yang berada di atasnya masih memakai pakaian lengkap.
Resleting celana milik Adrian diturunkan, semakin membuat Hadsa gelisah dan kembali memberontak walau tenaganya sudah habis tak tersisa.
Tangisan yang memenuhi ruangan itu tak membuat Adrian mengampuni Hadsa, pemuda tersebut sudah menurunkan celananya, Hadsa pejamkan kedua matanya.
Adrian kembali mencumbu dengan tergesa, mencari letak nikmat.
Di detik-detik ini Hadsa berharap akan ada yang menolongnya walau Adrian sempat berkata jika sudah tidak ada yang peduli padanya. Hadsa sudah dibuang, sudah tidak ada yang menginginkan, maka yang dilakukannya hanyalah sebuah kepasrahan.
Dalam hati selalu berucap, Hadsa sudah tidak sanggup, dan ingin menyudahi kesengsaraan ini.
Hanya ada satu nama yang tiba-tiba muncul, Marley Wilangga, Hadsa memohon untuk diselamatkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Destiny [ MARKHYUCK ]
FanficBukan hanya sekadar perihal perjodohan saja, namun juga tentang bagaimana bahwa dirinya dijatuhkan ke dalam lingkungan yang tak pernah ia bayangkan akan terjadi di hidupnya. Garis takdir yang bahkan beberapa orang tidak menginginkannya, semua orang...
![Destiny [ MARKHYUCK ]](https://img.wattpad.com/cover/326902270-64-k550231.jpg)