TW / KEKERASAN, HARSHWORD, MENGANDUNG HOMOPHOBIC, 🔞
°°°
Bunyi bel sudah terdengar di setiap sudut sekolah beberapa menit lalu yang menandakan jika mereka sudah bisa dipulangkan dan beristirahat di rumah.
Namun, Hadsa belum mengistirahatkan tubuhnya di atas kasur empuknya. Setelah pulang dari sekolahnya ia diharuskan untuk menjemput pemuda yang amat sangat Hadsa malas untuk sekadar bertemu.
Kalau bukan sebuah ancaman Derza yang sudah muak Hadsa dengar, ia tidak akan mau untuk menjemput Marley Wilangga yang menyebalkan.
Di sinilah dirinya sekarang, tengah menunggu kedatangan Marley yang tak kunjung terlihat. Bahkan sekolah itu masih sepi dan gerbang tetap tertutup rapat.
Sudah lebih dari 10 menit Hadsa menunggu di atas motor yang mesinnya ia matikan sedari sampai.
Dalam lubuk hatinya Hadsa membenci sang Ayah, pria paruh baya itu terus menerus memaksanya untuk tetap menghubungi Marley mau bagaimanapun tanggapan dari pemuda itu, sampai-sampai nomornya diblokir oleh Marley.
Namun Hadsa tidak memberitahu jika nomornya telah diblokir, ia tetap menghubungi walau pesannya tak pernah terkirim.
Sudah kepalang bosan, kini jam telah bergulir ke angka 2 lewat 35 menit. Mau bermain handphone pun Hadsa teringat jika benda pintar miliknya itu telah habis baterai— sebab Hadsa lupa membawa charger ke sekolah.
"Lama banget, anjing." Umpatnya pelan, terik matahari masih menyengat di atas walau sudah mau sore hari.
Hadsa menghela lega, sebab bel dari arah dalam sudah terdengar samar-samar di tempatnya sekarang.
Pintu gerbang pun dibuka oleh satpam sekolah, satu persatu murid-murid yang Hadsa tak kenali satupun wajahnya itu telah berbondong-bondong keluar gerbang.
Kebanyakan berjalan kaki, namun beberapa juga ada yang membawa kendaraan beroda dua dan dijemput oleh orang tua.
Sekolah itu kembali sepi, Hadsa belum melihat batang hidung milik pemuda yang telah ia tunggu.
Bak menemukan harta karun, Hadsa akhirnya melihat sosok tersebut yang sedang melangkah dengan ditemani 3 pemuda bersama kendaraannya masing-masing.
Samar-samar Hadsa mendengar percakapan mereka, "Mar, bareng aja." Ucap salah satu dari mereka, Marley menggeleng. "Gue dijemput bokap, Hen." Tolaknya.
"Ya udah, gue duluan kalau gitu." Pamit pemuda tersebut yang diikuti kedua temannya dan meninggalkan Marley sendiri di sana.
Entah ada apa dengan motornya tadi pagi yang tidak kunjung mau menyala, membuat Marley diantar oleh Papanya ke sekolah. Katanya, ia akan kembali dijemput. Namun Marley tak melihat mobil Jaden yang terparkir di depan sekolah.
Sekiranya sudah sepi lantas motornya ia laju dengan pelan sampai berada di depan pemuda yang tengah rasakan bingung, sebab Hadsa memakai helm.
Demikianlah helm yang tengah dirinya pakai itu langsung dibuka olehnya, membuat Marley terkejut dengan sosok yang tiba-tiba berada di depannya.
"Kiw, cowok." Goda Hadsa setelah helm tersebut ia taruh di depan.
Suara Hadsa berbarengan dengan getaran handphone yang menandakan ada sebuah pesan, pengirimnya ialah Jaden. Papanya mengatakan jika ia tidak bisa menjemput, dikarenakan ada sesuatu yang tidak bisa ditinggalkan. Sebagai gantinya Marley akan dijemput oleh anak dari teman Papanya itu— Hadsa.
Tak kunjung ada balasan dari pemuda di depannya, lantas Hadsa kembali menggoda Marley. "Mau abang anterin enggak, dek?"
Setelah berujar demikian Hadsa mendapati tatapan sinis, bahkan ia merasa sedang ditelanjangi oleh tatapan itu. "Lo 'kan yang minta buat jemput gue?" Sergahnya penuh keyakinan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Destiny [ MARKHYUCK ]
Fiksi PenggemarBukan hanya sekadar perihal perjodohan saja, namun juga tentang bagaimana bahwa dirinya dijatuhkan ke dalam lingkungan yang tak pernah ia bayangkan akan terjadi di hidupnya. Garis takdir yang bahkan beberapa orang tidak menginginkannya, semua orang...
![Destiny [ MARKHYUCK ]](https://img.wattpad.com/cover/326902270-64-k550231.jpg)