33. Kecemasan

2.2K 151 13
                                        

Marley pandangi kedua bola mata milik Hadsa, mencari suatu kebohongan di sana. Namun, ia tak menemukannya, hanya ada sorot kesedihan di dalamnya.

Perihal obrolan serius waktu lalu, saat Hadsa membicarakan tentang dia yang mungkin saja ingin dilepas, nyatanya kalimat itu terlontar hari ini tepat berdiri di depannya.

Sungguh ia tidak dapat mengartikan semua ini, tentang bagaimana pernyataan serius itu mampu membuat Marley jelas sekali merasa takut.

Sedikit ia dekatkan dirinya pada sosok yang kini tengah menundukkan kepala, Marley memanggil nama dengan lirih. "Sa?" Berharap akan bisa menarik ucapan Hadsa sebelumnya.

Saat Hadsa mengangkat kepala, keduanya bersitatap, wajah pucat pun terlihat begitu lelah terlihat jelas dalam lamat pandang Marley.

Kentara sekali sedihnya, "Mar, gue udah gak sanggup hidup di atas kepura-puraan walau pernikahan ini baru sebentar berjalan."

"Jadi, tolong lepas gue, ya?" Mohon Hadsa yang bersumpah jika Marley tidak ingin mendengarnya.

Tanpa menunggu balasan dari pemuda tersebut, Hadsa melenggang pergi meninggalkan Marley sendirian dengan begitu banyak rasa yang susah untuk diutarakan.

Sepeninggalan Hadsa yang sudah tidak terlihat di lamat pandangnya, Marley sontak menjatuhkan beberapa barang yang berada pada jangkauannya.

Pun, makanan yang dia sengaja belikan untuk Hadsa sudah berhamburan ke mana-mana yang menyebabkan lantai kotor.

Untuk luapkan segala emosi, Marley memukul dinding yang berada tak jauh darinya, rasa sakitnya bahkan tidak membuat Marley kembali baik-baik saja.

Tiga pukulan dia lakukan, hingga membuat jemari yang terkepal itu mengeluarkan darah, bahkan darahnya menempel pada dinding tersebut.

Kini Marley dudukkan tubuhnya di lantai sembari menyender pada dinding, rambut yang basah oleh keringat dia usap dengan kasar ke belakang seraya menghela nafas.

Kilasan beberapa bulan lalu berkeliaran dalam benak, di mana saat-saat Marley begitu menyakiti hati Hadsa tanpa ampun.

Kata hina yang beberapa kali dilontarkan, serta saling memukul di depan sekolahnya, terus memutar seperti kaset rusak.

Marley bergumam lirih, "Hadsa, jangan pergi." Tanpa dirinya sadari.

Bahwa apa yang dikatakan oleh Naura dan Stephen, mungkin ia benarkan sekarang. Marley memang sudah menaruh hati namun tidak mau mengakui.

Namun, mengapa bisa? Jelas-jelas dirinya begitu menolak hubungan sesama, pun Marley membenci pemuda yang kini menjadi status sebagai suaminya.

Hanya satu pikiran yang terlintas, bahwa Marley menyimpulkan ia mendapatkan sebuah karma.

Lantas, ia dengan segera beranjak dan keluar dari apartemen, berharap jika Hadsa tidak pergi jauh dari tempatnya sekarang.

Serta mau memberinya kesempatan.

°°°

5 jam berlalu, sudah setiap pojok tempat yang dia datangi, namun tak ada satupun Marley menemukan batang hidung milik Hadsa. Sialnya, ia tidak mengetahui tempat-tempat yang sering Hadsa kunjungi, sekian kalinya Marley memaki dirinya sendiri.

Kini ia putuskan untuk kembali, mungkin saja Hadsa sudah pulang sedari tadi. Marley putar arah kemudi, dan setelahnya melenggang dengan cepat, dia berharap jika semoga saja Hadsa sudah berada di tempat tinggal keduanya.

Namun saat sudah sampai dan membuka pintu, tak ada siapapun di dalam, hanya ada barang-barang berserakan dan lantai yang kotor karena ulahnya.

Marley menghela lagi, lalu membereskan kekacauan yang ada, serta mengelap lantai yang kotor.

Dilihat sudah kembali rapih dan bersih, Marley putuskan untuk membasuh diri sebentar tak memerlukan banyak waktu, hanya sekitar 5 menit dan pakaian Marley sudah berganti.

Di detik-detik ini, Marley bersyukur sebab dia sekarang tiba-tiba mengingat satu nama yang mungkin bisa membuat ia bertemu dengan Hadsa. Yakni, Adrian.

Pun Marley mengingat ucapan Naura yang mengenali Adrian, lantas tanpa pikir panjang Marley kembali keluar dan mengemudikan mobilnya menuju tempat tinggal perempuan itu.

Dikarenakan hanya terpaut beberapa gedung saja, akhirnya Marley sampai dengan selamat di depan apartemen yang ditinggali oleh Naura.

Marley dengan segera keluar dari mobil pemberian orang tuanya itu, kini langkah Marley mengambil dengan panjang, setelah sampai di tempat tujuan, Marley menekan bel di sebelah kiri.

Karena tak kunjung dibuka, Marley menggedor pintu itu berkali-kali dengan kencang, ini sudah hampir jam 7 malam, ia belum menemukan Hadsa.

Entah gedoran ke berapa kali, akhirnya pintu tersebut terbuka dan memperlihatkan wajah kesal milik Naura, Marley fokus pada leher perempuan itu yang terdapat tanda merah di sana.

Benar saja apa yang dicurigai Marley itu melihat Stephen di dalam tempat tinggal Naura, "Ganggu!" Ujar Naura.

Sontak membuat Marley meminta maaf, "sorry, tapi ini penting banget."

"Apa?"

"Lo kenal Adrian 'kan? Gue boleh minta kontak dia gak?" Ditanyai seperti itu membuat Naura jelas merasa bingung.

"Buat apa? Lagian gue udah gak mau berurusan lagi sama dia, jadi udah dari lama gue gak punya kontak dia."

Jawaban Naura membuat Marley kecewa, "Kalau tempat tinggalnya lo tau gak?" Tanya Marley.

Naura menggeleng, "Gak."

Marley menghela, lalu bercerita. "Hadsa tadi pergi setelah minta buat dilepas, gue udah cari ke mana-mana tetep gak ketemu sama dia."

"Urusannya sama Adrian apa?"

"Mereka berdua temenan, tadi juga ternyata pas gue balik mereka lagi berduaan, bahkan Adrian nyuapin Hadsa." Jelasnya.

Lantas Naura berteriak, "TOLOL!" Setelahnya terlihat jelas Naura panik, serta merta memanggil nama Stephen berulang kali, hingga ketiganya sudah berada di dalam mobil milik Marley dengan Stephen yang mengemudi.

Diperjalanan menuju tempat tinggal Adrian yang Naura bertanya kepada siapapun yang sekiranya menahu, ia bercerita pada Marley tentang sebagaimana asal muasalnya Adrian.

Hingga, membuat Marley semakin panik dan gegabah.

°°°

(a/n)

Hai..... Aduh sorry ya baru bisa update sekarang, tapi kalau ada yang ngeuh kalau aku lagi di masa rest... kabar Haechan yang sakit, dan rl ku yang lagi riwet, jadi aku putuskan untuk rest sementara waktu.

Semoga Haechan semakin merasa baik, dan Mark diberi kesehatan yaa 🥹

Aku bakal double up yeeeeyy tapi agak maleman kayaknya

Destiny [ MARKHYUCK ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang