Tidur Hadsa terusik oleh dentingan suara sendok yang bertabrakan dengan mangkuk, kedua mata miliknya perlahan dibuka sembari menyesuaikan diri dari sinar matahari. Sebab gorden disengaja dibuka oleh Marley.
Kepala Hadsa menoleh ke sumber suara, di arah dapur ada seseorang tengah berdiri di depan kompor.
"Berisik!" Bantal yang entah sejak kapan berada di bawah kepalanya, ia lempar ke arah raga Marley.
Marley memang sengaja menyuarakan benda tersebut dengan kencang, padahal telur tersebut sudah tercampur rata, kini Marley semakin membuatnya berisik.
Bantal tersebut hanya mengenai kakinya saja, Marley tak memedulikan protes dari Hadsa.
Hadsa menegakkan tubuhnya membuat selimut itu terlepas, Hadsa berpikir sejenak, seingatnya semalam dia belum sempat mengambil dua benda yang sebelumnya dirinya pakai semalaman. Pantas saja tubuhnya terasa hangat, karena hanya dihuni dua orang saja, mungkinkan Marley yang menyelimutinya?
"Tolong buatkan gue satu." Pinta Hadsa setelah melihat Marley menggoreng telur tersebut, serta di atas piring sudah tertata rapih dua roti dengan beberapa sayur di atasnya.
Setelah berkata demikian, Hadsa berlalu untuk membasuh diri dengan air hangat. Sebab, pagi ini begitu dingin, berterimakasih lah kepada Marley, dengan baik hatinya mau memberinya selimut tadi malam.
Kepergian Hadsa dihiraukan olehnya, Marley lebih sibuk menggoreng telur milik Hadsa, sebab miliknya sudah disajikan di atas roti.
Marley teringat semalam, saat jam menunjukkan pukul 11 lewat 35 menit, Marley keluar dari kamar hendak mengambil minum, tenggorokannya begitu perih.
Saat akan melangkah ke dapur, Marley melirik sebentar kepada pemuda yang tidurnya tengah meringkuk kedinginan. Marley menghela, dia turunkan suhu AC.
Lantas kembali berbalik untuk mengambil sesuatu, setelah sudah mengambil selimut serta bantal, Marley menghampiri Hadsa yang tidurnya kini sudah terlihat sedikit nyaman.
Dengan pelan-pelan, Selimut itu dikenakan di atas tubuh Hadsa, serta mengangkat sedikit kepala Hadsa dan meletakkan bantal di sana. Setelahnya, Hadsa semakin merapatkan tubuhnya di dalam selimut tersebut. "Ngerepotin." Ujar Marley malam tadi.
Kini, dua roti sudah selesai tersaji. Lalu tak lama Hadsa keluar dari dalam kamar, menghampiri Marley yang tengah memakannya.
Ada satu roti yang tersisa, "Ini buat gue 'kan?" Tanya Hadsa, dan Marley berdeham sebagai jawaban.
"Tumben lo baik?" Celetuk Hadsa.
"Yang semalem nyelimutin gue, lo 'kan?" Tanyanya.
"Ogah banget." Jawab Marley.
Hadsa berdecih, "Gak usah berlaga tsundere gitu lha." Ledek Hadsa yang membuat Marley tak kembali menanggapi.
"Omong-omong, telurnya asin, tapi gak apa-apa! Makasih ya Marley." Demi apapun, Marley baru melihat senyuman Hadsa yang menyiratkan sesuatu di dalamnya.
"Nanti gue pulangnya agak telat lagi, mau mampir ke toko vinyl." Beritahu Hadsa disela gigitannya pada roti panggang ala-ala.
"Gak tanya."
Hadsa berdecak, "Bodo amat!"
"Sama siapa?"
"Kepo."
Setelah berkata demikian, keduanya sama-sama terdiam. Namun beberapa saat setelahnya, Hadsa tiba-tiba saja bercelatuk. "Mar, mau bicarain tentang pernikahan kita gak?"
Membuat sang empu mengernyit ke arah Hadsa, apa yang harus dibicarakan? "Males." Jawaban Marley mudah ditebak olehnya, lantas Hadsa tersenyum tipis.
"Siapa tau kalo pernikahan kita udah berjalan setengah tahun atau bahkan sampai setahun? Lo mau mengajukan surat perceraian, karena kita berdua sama-sama terpaksa, kalau gue mungkin aja di masa nanti buat minta dilepas?"
"Walaupun lo ngeselin banget, tapi gue paham apa yang lo rasain. Jadi sebelum semakin lama, dipercepat ya prosesnya?" Sambungnya.
"Lo mau lepas semuanya?" Tanya Marley yang kentara sekali dari nada bicaranya begitu menyedihkan, entah apa maksudnya. Hadsa tanpa ragu mengangguk membuat Marley kembali tak mengeluarkan suara, sesuatu dalam hatinya begitu terasa perih.
"Mar, gue capek hidup di atas kepura-puraan, apalagi atas dasar paksaan." Hadsa menyerukan isi hatinya, dia enggan untuk merasa baik-baik saja selama ini, pernikahan ini begitu mencekiknya.
Untuk berani berkata demikian, Marley tak banyak menanggapi. Pemuda itu setelah menghabiskan roti ala-ala buatannya itu beranjak dari tempat yang dijadikan obrolan keduanya.
Marley hendak membuka pintu apartemen, namun ia sempatkan untuk berujar sesuatu kepada Hadsa. "Hati-hati, jangan gampang percaya sama orang." Belum selesai, Marley kembali melanjutkan. "Tau waktu."
Setelahnya Marley menghilang di balik pintu yang sudah tertutup. Hadsa lantas membuang nafas, ia merasa lega sekarang telah menyerukan semuanya kepada Marley.
°°°
Entah sudah sedari tadi atau baru datang, Adrian tanpa mengabari sudah terduduk manis di dalam mobil, sebab Hadsa menghampiri mobil yang ia sudah kenali itu.
"Sejak kapan?" Tanya Hadsa setelah pintu kemudi sudah terbuka.
"Gak lama kok, sepuluh atau lima belas menit mungkin?" Jawab Adrian.
Lantas Adrian menyuruh Hadsa untuk masuk ke dalam, tanpa penolakan, Hadsa memasuki pintu yang berada di samping kemudi.
"Kenapa kemarin jalan kaki?" Tanya Hadsa setelah mobil tersebut dijalankan.
Adrian membalas dengan santai, tangan kanannya berada di stir mobil, sedangkan kirinya mengusap pelan punggung tangan milik Hadsa yang membuat sang empu terkejut. "Mobil gue kemarin ada yang perlu dibenerin, tapi gue makasih sih. Soalnya jadi ketemu lo."
Hadsa terkekeh untuk menghilangkan kecanggungan, sebenarnya ada rasa tidak nyaman. Namun Hadsa mencoba untuk menghiraukannya.
"Sarapan dulu ya." Ajak Adrian.
"Gue udah tadi, sama roti." Tolak Hadsa yang membuat Adrian terbahak, "Wih, udah kayak bule aja lo." Ucapan Adrian mampu membuat Hadsa ikut tertawa.
"Temenin."
Dengan tidak enak hati Hadsa menolaknya lagi, "Aduh, sorry, tapi kelas gue bentar lagi udah mau mulai. Lain kali aja, ya?"
Adrian tersenyum, "Santai." Lalu mobilnya ditepikan di pinggir jalanan, lantas Hadsa segera untuk turun, tak luput mengucap terima kasih pada sosok yang dengan baik hati mengantarkannya. "Makasih, Yan." Adrian mengangguk.
"Lo gak kuliah?" Tanya Hadsa basa-basi.
"Gue ambil kelas sore."
Hadsa pun mengangguk-angguk, "Terus ngapain lo jemput gue?"
"Biar kita makin deket aja." Kilahnya membuat Hadsa berdecih, "Ya udah, gue duluan ya! Mepet nih waktunya."
Setelah berkata demikian, Hadsa berlari agar dapat memasuki kelasnya yang berada di lantai 2, dalam hati menyumpah serapah Marley yang tidak mau mengajaknya untuk berangkat bersama, 'kan dia jadi telat!
Sementara Adrian tak kunjung beranjak, pemuda itu menatap raga Hadsa hingga sudah tidak terlihat.
Adrian lantas tersenyum.
°°°
(a/n)
Yeeey! ada perubahan gak menurut kalian, dari Marley atau Hadsa?
besok udah 2023 ㅠㅠ semoga di tahun berikutnya bisa dapetin apa yang kita mau yaaa, jangan lupa untuk terus berdoa agar diberi terus kesehatan dan bahagia.
di penghujung tahun ini aku punya banyak hal untuk dikenang.
Kalau kalian sendiri, tahun ini punya banyak makna gak?
KAMU SEDANG MEMBACA
Destiny [ MARKHYUCK ]
FanfictionBukan hanya sekadar perihal perjodohan saja, namun juga tentang bagaimana bahwa dirinya dijatuhkan ke dalam lingkungan yang tak pernah ia bayangkan akan terjadi di hidupnya. Garis takdir yang bahkan beberapa orang tidak menginginkannya, semua orang...
![Destiny [ MARKHYUCK ]](https://img.wattpad.com/cover/326902270-64-k550231.jpg)