5. Kembali Bertemu

3K 190 12
                                        

Marley putuskan untuk kembali ke rumah dengan keadaan yang sungguh sangat kacau, namun ini bukan karena perintah pemuda yang kemarin malam menelpon juga mengirimkan pesan untuk menyuruhnya pulang.

Namun ini atas kemauannya sendiri, bukan orang lain.

Demikian ia membuka rumah yang ia tinggalkan satu minggu itu, tak ada yang berubah, rumahnya sama seperti sebelum Marley tinggalkan. Sejujurnya Marley selama satu minggu itu merasa bingung harus berlabuh ke mana.

Beruntung ia mengingat teman semasa sekolah menengah pertamanya, setelahnya Marley mencoba mengabari dan berkirim pesan jika ia ingin berkunjung. Dan temannya menerima Marley dengan baik.

Kala pintu tersebut sudah terbuka sepenuhnya Marley dikejutkan dengan sang Mama yang berada di atas sofa sedang tertidur dengan keadaan televisi menyala.

Matanya memandang ke alas karpet, Jaden juga berada di sana. Namun tetap terjaga sembari meminum kopi yang sudah tersisa ampasnya saja.

Jaden mendengar suara pintu yang terbuka, sempat membuatnya terkejut dan ia pun sontak berdiri. Erika sedikit terusik, saat sadar jika ada Marley tengah berdiri di depan pintu—dengan cepat Mamanya hampiri sang Anak.

"Adek?" Tatapan khawatir dengan dua kantung mata yang sedikit menggelap itu mampu membuatnya merasa bersalah.

"Marley capek, mau istirahat." Ujarnya sembari langkahkan kaki menuju kamarnya. Jaden tak bersuara sama sekali hanya pandang tubuh yang berjalan dengan gontai itu.

Di dalam langkahnya Marley berucap pada keduanya, "Mama sama Papa juga jangan lupa istirahat." Kini jarum jam tunjukkan pukul 2 malam, masih ada waktu untuk beristirahat sebentar sebelum akan memulai hidup kembali esok hari.

Kedua orang tuanya pun putuskan untuk masuk ke dalam kamar mereka. Juga Marley telah sampai di dalam kamarnya, ia merenung sebentar lalu dirinya memilih untuk tidur agar esok hari kembali segar.

°°°

Mentari telah muncul, sinar matahari sedikit mengintip di sela-sela jendela yang sedikit terbuka. Marley mengerjapkan mata beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang masuk.

Matanya terbuka berbarengan dengan ketukan pintu kamarnya yang terdengar, panggilan Erika memasuki gendang telinganya. "Adek?"

Walau tetap merasa kesal juga marah Marley membuka pintu tersebut, pertama kali yang ia lihat ialah pandangan sang Mama masih terlihat khawatir padanya.

"Papa kamu ngajak lari pagi." Ujar Erika dengan sedikit tidak enak hati, mereka belum kembali berbaikan namun suruhan dari Jaden mau tak mau ia harus menuruti.

"Gak mau." Tolaknya dengan tegas.

Pandangan Mamanya berubah seketika, tatapan sendu dia berikan. "Mau, ya?" Marley pun tak bisa menolak, lantas ia berikan anggukan pada Erika dengan helaan nafas setelahnya.

Erika tersenyum sangat tulus, "Mama minta maaf ya, maaf banget." Ucapnya secara tiba-tiba.

Tak ada sahutan dari Marley yang diberikan pemuda itu ialah hanya sebuah kata pamit bahwa ia akan segera membasuh tubuhnya. "Marley mandi dulu ya, Ma. Nanti Marley ke bawah." Erika hanya bisa mengangguk, setelahnya pintu tersebut kembali ditutup oleh pemilik kamar.

Sepuluh menit terlewat Marley pun sudahi membasuh dirinya, keluar dengan pakaian yang sudah melekat di tubuhnya.

Dengan kaus biru tua juga celana pendek hitam yang sangat cocok untuk dipakainya. Marley putuskan untuk menyusul Jaden yang ia pastikan sudah menunggunya sedari tadi.

Marley telah sampai di hadapan sang Mama, sedangkan Papanya tengah meregangkan otot-ototnya di depan. Lantas ia hampiri sang Papa. "Udah?" Tanya Jaden setelah melihat Marley yang sudah berada di sampingnya.

Destiny [ MARKHYUCK ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang