28. Ada Suatu Hal

1.9K 145 20
                                        

Pintu apartemen dibuka oleh salah satu pemiliknya, Hadsa baru pulang, sedangkan Marley sudah dari jam 11 tadi. Kini jarum jam menunjukkan pukul 3 sore, seharusnya Hadsa pulang ke rumah sebelum jam 1 siang.

Selama 2 jam itu, Hadsa pergi ke mana?

Setelah sudah berada di dalam apartemen, Hadsa langsung membasuh diri. Sebab teriknya matahari membuat badannya begitu lengket karena keringatnya sendiri.

Pun, sedari tadi Hadsa terlalu lama mengobrol tentang mata kuliah bersama Adrian. Hingga, keduanya memutuskan untuk makan siang di cafe atas rekomendasi Adrian yang memang sudah lama menetap di Kanada.

Hadsa melewati Marley yang tengah merebahkan diri di atas ranjang kasur sembari bermain handphone.

15 menit terlewat, Hadsa keluar dari kamar mandi dengan bau yang begitu wangi. Setelan rapih sudah melekat di tubuhnya yang mendapat perhatian dari Marley.

"Mau ke mana lagi, lo?" Hadsa baru tahu sifat Marley yang begitu banyak bicara saat sudah menetap di Kanada.

Sebelumnya, saat keduanya masih berada di Jakarta, bahkan sepatah kata saja enggan untuk dilontarkan.

Entah mengapa, Marley setelah ikatan janji keduanya yang sama-sama saling mengucap di atas altar, sikap anarkis yang begitu menyebalkan, dan kalimat yang menyakitkan seketika hilang entah ke mana.

Pertanyaan Marley dihiraukan olehnya, begitu malas untuk menjawab. Hadsa lebih sibuk untuk memilah sepatu apa yang cocok dia kenakan.

Hingga fokus Marley yang tadinya ke handphone, kini berganti menatap raga Hadsa yang sedang menjajarkan 3 sepatu di lantai, sangat mengusiknya.

Ada suara deringan dari benda pipih milik Hadsa, dengan terburu-buru ia mengambil handphone yang sempat dirinya charger sebelum memasuki kamar mandi.

Telepon itu dirinya terima, suara dari seberang terdengar. "Sa, gue udah di bawah." Katanya.

"Tunggu, gue bentar lagi ke bawah." Jawab Hadsa yang membuat Marley mengernyit heran, setelah mendengar Hadsa yang menjawab dengan bahasa asalnya.

Sosok siapa yang sedang berbicara dengan Hadsa?

Telepon itu telah dimatikan, lalu meletakkannya di saku celana jeansnya. Tanpa pikir panjang Hadsa memilih sepatu converse berwarna putih itu.

"Raga gue gak keliatan?" Tanya Marley tiba-tiba, membuat Hadsa menghela lelah. "Apa?"

"Lo mau ke mana lagi?"

"Pergi." Jawab Hadsa singkat.

"Lo baru pulang, sekarang udah mau pergi lagi?" Ujar Marley, Hadsa mengernyitkan dahinya, "Dih? Apa peduli lo. Udahlah, gue buru-buru."

"Jawab dulu."

Hadsa sudah kesal, "Udah gue jawab tadi, anjing!?"

"Yang jelas." Tubuh Marley disandarkan pada dashboard kasur.

"Nonton konser." Ujar Hadsa sembari mengambil power bank, lalu memasukinya lagi ke dalam saku celana.

"Sama siapa?" Hadsa ingin sekali memukul wajah Marley yang begitu banyak bertanya.

"Kepo dah lo, gak jelas sumpah."

"Yang tadi nelpon? Pulang jam berapa?" Marley bertanya terus menerus, mengambil banyak waktu milik Hadsa.

"Gak usah banyak tanya, nanti juga gue pulang. Kayaknya lo perlu diperiksa dah otak lo, aneh banget."

Selepasnya Hadsa keluar dari kamar setelah membereskan kembali sepatunya ke dalam rak khusus miliknya.

Destiny [ MARKHYUCK ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang