TW / Ada sedikit adegan kissing
°°°
Sebelumnya Hadsa ingin meminta tolong kepada Marley, namun dikarenakan ialah pelaku yang telah mengusir pemuda tersebut, dan sedikit merasa gengsi, alhasil Hadsa memilih untuk meminta bantuan0 kepada teman barunya itu; Adrian.
Setelah kedatangan dokter seperti apa yang dikatakan Marley, keluhan Hadsa hanya terdapat pada panas dan flu saja, lalu diberi secarik kertas berisi obat yang harus ditebus atau bisa dibeli di apotek. Lepasnya, Hadsa mengabari Adrian untuk membeli obat pada foto yang dirinya kirim melalui aplikasi chat.
Tak luput untuk membeli makanan apapun asal perutnya terisi, Adrian membalasnya begitu cepat, dan menjanjikan bahwa dia akan segera datang kurang dari 15 menit.
Walau lebih 3 menit, akhirnya Adrian mengabari jika dia sudah berada di depan nomor unitnya, lantas Hadsa beranjak untuk membukakan pintu untuk Adrian.
"Apa kata gue, bareng aja baliknya, ngeyel sih, kehujanan 'kan." Beritahu Adrian saat semalam keduanya kembali menghabiskan waktu, dan cuaca sedang mendung, Adrian menawarkan diri untuk mengantar.
Namun, Hadsa menolak, bahwa dirinya bisa pulang dengan taxi, dan menyuruh Adrian untuk berlalu saja.
Bukannya menepati perkataannya, Hadsa justru memilih untuk berjalan kaki, dan alhasil pulang dengan keadaan tubuh telah terguyur air hujan.
"Bawel lo."
Adrian terkekeh, "Gue beli McD, gak apa-apa?" Tanyanya, Hadsa pun mengangguk bahwa dia tidak masalah.
Hadsa hendak mengambil piring, namun ditahan oleh Adrian, "Udah lo duduk aja." Lalu Adrian lebih cepat mengambil piring polos itu, lantas meletakkannya di meja yang berada di dapur itu.
Dengan telaten, Adrian menaruh makanan yang dia bawa penuh hati-hati hingga kini chicken serta nasi sudah terletak di atas piring yang telah dirinya ambil.
"Ini obat lo." Ujar Adrian sembari memberikan beberapa obat yang berada di dalam botol kepada Hadsa, oleh sang empu diterima dengan baik.
Tak luput untuk mengucapkan rasa terima kasih, "Thanks, Yan."
Adrian mengangguk, "Anytime, Sa."
Karena sudah menjadi kebiasaan memakan menggunakan tangan, lima jemari itu akan segera mengambil nasi dan kulit ayam, namun lebih dahulu disingkirkan oleh tangan milik Adrian. "Gue suapi aja."
Hadsa membeo, "Hah? Gak usah." Tolakan Hadsa tak didengarkan oleh pemuda yang usianya terpaut 3 tahun dengannya itu. Sedangkan Adrian mengambil setengah nasi dari sendok yang telah diambil olehnya.
Sendok yang sudah terdapat nasi dan juga kulit ayam telah berada di depan mulutnya, "Buka mulutnya, Sa." Dengan ragu-ragu, Hadsa membuka mulutnya dan sedikit mengeluarkan lidah karena sudah menjadi kebiasaannya.
Adrian pun termangu sembari memperlihatkan Hadsa yang tengah mengunyah, lalu mulut Hadsa kembali terbuka, seolah-olah dia meminta untuk segera diisi. Lantas Adrian kembali mengambilnya lagi, Hadsa masih sama seperti sebelumnya, menjulurkan lidahnya keluar saat menerima nasi dan kulit ayam.
Hingga tidak menyadari sosok yang berdiri beberapa langkah dengannya itu, Hadsa tengah asyik mengunyah, sementara Adrian fokus pada pipi Hadsa yang menggembung.
Saat akan kembali menerima makanan, tangan Adrian yang menggantung di depan bibir Hadsa itu tiba-tiba sendok dalam genggaman terjatuh oleh tepisan tangan dari seseorang.
Keduanya tertegun, Hadsa menghela setelahnya, sedangkan Adrian bertanya-tanya atas sosok yang tiba-tiba saja datang mengganggu.
Sendok dari beberapa nasi juga daging ayam sudah berserakan di lantai, namun itu bukan masalahnya, melainkan Marley menatap Hadsa begitu tajam. Hadsa tak merasa takut, dia bahkan memutar kedua bola matanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Destiny [ MARKHYUCK ]
FanfictionBukan hanya sekadar perihal perjodohan saja, namun juga tentang bagaimana bahwa dirinya dijatuhkan ke dalam lingkungan yang tak pernah ia bayangkan akan terjadi di hidupnya. Garis takdir yang bahkan beberapa orang tidak menginginkannya, semua orang...
![Destiny [ MARKHYUCK ]](https://img.wattpad.com/cover/326902270-64-k550231.jpg)