Jenggala atau orang-orang sering menyebutnya Gala, pemuda yang ingin sekali mendapatkan sebuah apresiasi karena sudah menjadi manusia hebat yang bisa bertahan sampai sejauh ini.
Beruntung Jenggala mempunyai Hadsa di hidupnya, tanpa meminta, kekasihnya akan dengan senang hati memberi apa yang Jenggala inginkan.
Ah, membayangkan semuanya cukup pedih untuk Jenggala utarakan. Sebabnya ia tahu akan ke mana nanti hubungan keduanya berjalan.
Jenggala pikirkan perkataan sore hari tadi, kalimat yang penuh paksaan yang membuat dirinya tidak bisa berkutik sama sekali.
Tepatnya di jarum jam tunjukkan pukul 6 lewat 15 menit di sebuah cafe tempatnya bekerja sepulang dari sekolah.
Derza sosok pria paruh baya menyandang status sebagai Ayah dari kekasihnya itu, Derza hampiri Jenggala yang tengah beristirahat di belakang.
Melihatnya Jenggala sedikit tertegun, sebab Derza tanpa membuat janji atau sekadar mengabari kini raganya sudah berada di depan mata Jenggala.
"Ada waktu sebentar?" Tanya Derza mengawali percakapan.
Jenggala mengangguk bahwa ia mempunyai waktu untuk sekadar mengobrol singkat, namun ternyata perbincangan mereka cukup sulit Jenggala pahami, ya?
Lantas keduanya beranjak dari tempat yang sebelumnya Jenggala pakai untuk beristirahat, pilihannya ialah di tempat duduk yang memang sudah disediakan oleh pemilik cafe.
Mereka mendudukkan diri yang cukup jauh dari jangkauan orang-orang, Jenggala rasa obrolan yang dibawa Derza cukup serius.
"Ada apa, Pak?" Tanya Jenggala kala pria paruh baya itu lebih sibuk dengan rokok yang berada di sela-sela jarinya, lantas Derza letakkan benda nikotin itu di atas bungkus rokok dengan keadaan masih menyala.
Derza berdeham sebentar, tatap tepat di kedua bola mata Jenggala yang membuat pemuda lebih muda itu tiba-tiba merasa gugup. "Kamu pasti tahu maksud saya ke sini, Jenggala." Entah mengapa saat Derza memanggil namanya dia terasa sedang diintimidasi.
Jenggala seperti mengerti ke mana arah pembicaraan itu, "Maaf Pak. Untuk sekarang saya belum bisa bayar, saya butuh waktu lagi." Terangnya sembari mengajukan waktu untuk mendapatkan keringanan.
Derza nampak berpikir sebentar, lalu membalas ucapan Jenggala. "Enggak bisa, ini tahun terakhir kamu."
Ah, iya. Ini sudah tahun terakhir Jenggala untuk dapat membayar hutang pada kepala keluarga Artama.
Sekarang ia harus apa? Tabungan yang Jenggala sisihkan dari gajinya yang tak seberapa itu tak mencakup nominal hutang yang dirinya baru bayar setengahnya tahun lalu.
"Saya mohon Pak, beri saya waktu satu tahun lagi." Mohon Jenggala penuh harapan.
"Saya sudah ringankan satu tahun, dan itupun atas permintaan anak saya." Benar, Hadsa meminta Ayahnya untuk memberi banyak waktu pada Jenggala.
Sebenarnya hutang pada Derza sudah sepenuhnya terkumpul, dikarenakan Bapak membutuhkan pengobatan tahun lalu membuat Jenggala mengambil dari setengah yang sudah dirinya tabung.
Ibu Jenggala waktu ia berada di bangku SMP dan saat telah memasuki sekolah menengah atas, Ibunya memberi tahu perihal uang yang dipinjam untuk operasi Bapak yang tidak bisa ditunda, sebab harus dilakukan saat itu juga.
Yang membuat Ibu panik ialah pada siapa Ibunya mencari uang untuk dipinjam, Ibu pun diberitahu Paman jika dia bisa meminjam pada kepala keluarga Artama.
Karena Ibu sedang membutuhkan dan tak bisa membagi bebannya pada Jenggala yang masih SMP, hingga Ibu meminjam uang dengan nominal yang membuat Jenggala menggelengkan kepala frustasi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Destiny [ MARKHYUCK ]
Fiksi PenggemarBukan hanya sekadar perihal perjodohan saja, namun juga tentang bagaimana bahwa dirinya dijatuhkan ke dalam lingkungan yang tak pernah ia bayangkan akan terjadi di hidupnya. Garis takdir yang bahkan beberapa orang tidak menginginkannya, semua orang...
![Destiny [ MARKHYUCK ]](https://img.wattpad.com/cover/326902270-64-k550231.jpg)