Langkah panjang Marley dipijak dengan cepat agar segera sampai di tempat semua orang berkumpul, membuat Jaden juga ikut serta melangkah. Takut-takut jika anaknya akan berbuat kekacauan.
"Ngapain lo terima?!" Nada tinggi penuh amarah, pun hasrat ingin memukuli wajah itu terbesit dalam benaknya. Marley, ingin menghabisi sosok pemuda itu yang bahkan menatap datar ke arahnya.
"Tarik gak omongan lo!!" Marley berucap sedikit panik, ia tidak mau jika perjodohan itu akan benar terjadi.
"Bacot." Hadsa berujar tanpa takut, dia tidak mau berbuat keributan lagi di sini. Tetapi tampang menyebalkan Ayahnya juga Marley, mampu membuat Hadsa ingin sekali menonjok satu pukulan pada wajah mereka.
"Brengsek! Lo ingkar janji, Hadsa." Ucap Marley membuat semua orang kebingungan, kecuali Hadsa tentunya.
Iya, memang benar jika dirinya ingkar janji atas kerja sama untuk membatalkan perjodohan itu yang beberapa hari lalu mereka rencanakan.
Sebenarnya pun Hadsa tidak mau menerima. Jika boleh Hadsa memilih untuk egois, ia pasti akan bersama Jenggala sekarang.
Namun, rasa sayang juga menyerahnya Jenggala yang membuat Hadsa tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Jika ia sekarang memilih opsi terakhir atas pilihan yang diberikan Derza beberapa menit lalu yang telah dilontarkan.
Tanpa meninggalkan sepatah kata, Hadsa berlalu begitu saja. Niat awalnya adalah membawa perlengkapannya dan pergi dari semua orang yang semaunya sendiri.
Beberapa panggilan Hadsa hiraukan, kini ia sudah berada di dalam kamar yang sebelumnya dia tempati. Beberapa pakaian dan peralatan miliknya dia masukkan ke dalam tas yang sebelumnya dirinya pakai.
Setelah berpikir jika tidak ada yang terlewat, Hadsa pun menggendong tas tersebut di punggungnya. Lantas pemuda tersebut kembali melangkah keluar setelah menutup pintu kamar itu.
Semua mata kembali tertuju padanya, namun pandangan Derza lebih menyorot dibanding yang lain. Hadsa menakuti tatapan itu, ia seakan berbuat kesalahan.
"Mau ke mana kamu?!" Amarah yang sebelumnya redup, kini kembali datang seperti disiram oleh minyak tanah.
Langkahnya terhenti, pergelangan tangannya dicekal keras oleh buku-buku tangan milik Ayahnya, begitu kencang dan terasa sakit.
Hadsa meringis, "Lepas." Bukannya melepaskan, melainkan Derza semakin mengeratkan genggamannya pada pergelangan tangan milik sang anak, biar jera.
"Derza!! Sudah. Lepas tangan kamu dari anak aku!" Amarah Adira sudah tidak bisa ditampung, ia dengan buru-buru melepas jari-jari itu dari tangan anaknya.
Walau susah payah yang dapat membuat jari-jarinya memerah, "Derza, aku mohon, lepas." Sudah berderai air mata entah yang keberapa kali, Hadsa ingin memeluk Ibunda.
Melihat kedua mata sang anak yang berkilau seakan ingin ikut tumpahkan air mata, Derza melepaskan tangannya, di sana tercetak jelas bekas genggamannya.
Dengan segera Adira mengusap lengan yang memerah itu, Ibunda tak berhenti menangis, hatinya merasa sakit melihat anaknya yang sedari dulu diperlakukan oleh Derza seenaknya.
"Aku enggak apa-apa, Bun." Hadsa jelas-jelas berbohong atas ucapannya.
"Bang, maafin Bunda, ya?" Sang anak tersenyum begitu tulus. "Bunda gak salah kok, kenapa minta maaf?"
"Jangan nangis, Hadsa gak mau lihat Bunda nangis. Udah, ya? Hadsa gak apa-apa, kok." Setelah berujar demikian, Hadsa kini mengalihkan pandangannya pada Derza.
"Aku beneran capek." Ujar Hadsa tiba-tiba, lantas dia kembali berucap. "Kemauan Ayah udah aku sanggupi, masih ada lagi gak yang Ayah mau?"
Lidah Derza terasa kelu, entah mengapa melihat Hadsa menitihkan air mata tepat di depannya membuat Derza berpikir atas perilaku pada Hadsa begitu buruk.
"Hadsa udah kehilangan Jenggala, seperti keinginan Ayah. Ayah dari dulu mau lihat anaknya ngerasain sakit atas masa lalu Ayah yang enggak mendapatkan apa yang aku dapetin 'kan?"
"Ayah ... Hadsa tahu masa lalu Ayah, dan memahami. Tapi, kenapa Hadsa juga harus ngerasain, ya?"
"Hadsa terlalu nakal, ya? Sampai ngebuat sikap Ayah begini ke Hadsa."
Hadsa tarik nafas sebentar, dadanya kembali merasa sesak. Kilasan beberapa bulan yang lalu berputar di dalam benaknya.
Pertengkaran sang Ayah dengan Ibundanya waktu lalu, Hadsa mendengarnya. Di sana Adira berkata jika seharusnya Derza tidak boleh melakukan hal itu, lalu setelahnya Hadsa mendengar cerita Derza dari balik pintu kamar yang dilontarkan oleh Ibunda.
Katanya, "Kamu itu kenapa, sih?! Kamu masih sayang sama mantan laki-laki kamu, Za?" Awalnya, Hadsa terkejut atas fakta yang baru dirinya ketahui. Bahwa Derza pernah menyukai laki-laki, sama halnya dengannya.
"Enggak!" Nada Derza meninggi, bahwa dia benar-benar sudah tidak menaruh rasa lagi pada mantan kekasihnya semasa remaja itu.
"Terus, kenapa?" Tanya Adira begitu lirih.
"Aku sakit hati, kenapa cuma aku yang gagal di sini?" Ujar Derza, lebih bertanya pada diri sendiri.
"Kenapa Hadsa begitu diterima? Kenapa aku gak ngerasain itu juga, Adira?" Ujarnya lagi.
Adira tak habis pikir, perkataan suaminya begitu menusuk relung hati. "Kamu masih sayang Arki?"
Derza menggeleng, "Aku berani bersumpah, aku udah gak sayang lagi sama dia. Aku udah relakan semuanya, aku benar-benar udah jatuh cinta sama kamu, walau kita berdua juga awalnya karena perjodohan."
Tanpa mendengar kalimat selanjutnya, Hadsa berlalu pergi. Kini ia tahu alasan sang Ayah atas perilakunya setelah menjalin kasih dengan Jenggala.
Kesimpulan yang diperoleh ialah bahwa Derza ingin masa lalu yang menyakitkan harus dirasakan juga olehnya.
Helaan nafas Hadsa keluarkan, sakit hati itu kembali muncul atau bahkan tidak pernah pergi. Hadsa membalikkan badan, kini matanya menatap pada Adira, Ibundanya.
"Hadsa mau pergi sebentar, gak lama kok, nanti pasti Hadsa balik lagi ke Bunda. Hadsa akan tetap jadi anak Bunda 'kan?" Ujar Hadsa sembari mengusap air mata yang terus berderai di kedua mata milik Ibunda.
Setelahnya, Hadsa mencium kening Adira, tulusnya dapat dirasakan. "Hadsa sayang Bunda, jangan khawatir, Hadsa cuma butuh waktu sendiri aja."
Kini ekstensinya beralih pada Erika yang memandangnya begitu sayang, Hadsa kecup punggung tangan wanita itu untuk pertama kali. "Bibi, makasih udah rawat Hadsa selama lima hari ini. Maaf buat keributan."
Setelahnya, Hadsa berlalu pergi tanpa ucap pamit pada semua orang.
Hadsa hanya ingin segera tumpahkan rasa sakit di hatinya, Hadsa ingin meraung, dan menangis. Agar perih yang dirinya rasakan akan segera hilang.
Kalau sudah begini, Hadsa yakin, bahwa kehidupannya akan mulai rusak mulai dari sekarang atau sudah rusak sedari dulu?
Dan ia pasrahkan pada takdir yang akan datang, bahwa mungkin Hadsa bisa lepas atas terjeratnya perih dan sakit.
KAMU SEDANG MEMBACA
Destiny [ MARKHYUCK ]
FanfictionBukan hanya sekadar perihal perjodohan saja, namun juga tentang bagaimana bahwa dirinya dijatuhkan ke dalam lingkungan yang tak pernah ia bayangkan akan terjadi di hidupnya. Garis takdir yang bahkan beberapa orang tidak menginginkannya, semua orang...
![Destiny [ MARKHYUCK ]](https://img.wattpad.com/cover/326902270-64-k550231.jpg)