23. Ada Sebuah Keanehan

1.8K 138 21
                                        

Hadsa sudah pulang ke rumah dari dua hari yang lalu, begitu pulang dia diterima baik oleh Adira juga Derza. Ayahnya ini entah mengapa begitu berbeda, ada yang aneh dari Ayahnya itu. Namun Hadsa tak memusingkan, melainkan ia berterima kasih sebab tak ada perdebatan lagi yang harus menghabiskan banyak energi.

Selama pergi dari rumah, Hadsa berlabuh pada rumah Renjana, bersyukur Renjana dan kedua orang tua temannya itu begitu menerimanya dengan baik.

Ujian-ujian sudah selesai terlaksana, kini Hadsa tinggal tunggu hasilnya, dan tidak terasa kelulusan pun sudah di depan mata.

Dan setiap Hadsa pergi bersekolah, Hadsa tak melihat batang hidung Jenggala. Hadsa pun sempat bertanya pada teman satu kelas mantan kekasihnya, jawaban mereka jika Jenggala sudah tidak masuk sekolah selama satu minggu— ya walaupun ujian sudah lama usai.

Lalu, Hadsa mendapatkan jawaban di hari berikutnya. Jika Jenggala sudah pindah bersama keluarga entah ke mana. Mungkin untuk pengobatan Bapaknya Jenggala?

Siang tadi Hadsa diberitahu jika nanti malam akan ada tamu dari keluarga Wilangga, saat ditanya oleh Hadsa mengapa Ibunda belanja begitu banyak, hingga Hadsa dan Selina ikut serta membantu.

Mereka menjanjikan untuk datang ke rumah saat pukul 8 malam, kini jarum jam menunjukkan pukul 7 lewat 45 menit, dan sebentar lagi tamu yang sedari tadi ditunggu akan segera datang.

Di meja makan sudah dipenuhi oleh berbagai makanan dengan ditemani teh tawar yang masih di dalam poci.

Ketukan pintu pun telah terdengar, Hadsa merasa gugup seketika, dan benar saja jika keluarga Wilangga telah datang lalu dipersilahkan masuk oleh Derza.

Ini pertemuan serius kedua, setelah yang pertama memberitahu jika dirinya dan Marley akan dijodohkan.

Tamu itu sudah duduk dengan kursi yang telah disediakan, dengan Marley yang duduk di depan Hadsa, sedangkan kedua orang tuanya berada di sebelahnya.

"Silahkan dimakan." Ujar Adira.

"Aromanya enak banget, pasti makanannya gak kalah enak." Celetuk Erika guna mencairkan suasana.

"Ah bisa aja, makasih banyak lho." Ujar Adira malu-malu.

Percakapan singkat itu terhenti, sebab semuanya lebih sibuk dengan hidangan di depannya.

Hadsa hendak mengambil udang yang berada di dekat Marley, namun terhenti ketika tangan itu tiba-tiba mengambil dua udang besar dan meletakkannya di piring milik Hadsa.

Semua orang terdiam, sebab pelakunya ialah Marley Wilangga.

"Makasih." Ujar Hadsa, lalu segera memakannya walau ada perasaan gugup yang tiba-tiba datang.

Marley tak menjawab, sebab dia sibuk merutuki dirinya sendiri dalam hati.

Beberapa orang telah usai, Hadsa pun sama halnya, tetapi dia kini sibuk memakan permen, dikarenakan jika sudah memakan udang, Hadsa akan merasa mual.

"Beneran enak banget, aku sampai nambah lho tadi." Ucap Erika begitu senang.

Dan dijawab riang oleh Adira, "Nanti kapan-kapan kita masak bareng, ya!"

"Boleh tuh!" Ujar Erika semangat.

Kini perbincangan kembali serius, sebab Derza yang mengambil alih. "Ini pertemuan ketiga kita kumpul bersama, sebelumnya maaf untuk kekacauan beberapa hari di rumah kamu, Den."

"Enggak apa-apa, Der." Jawab Jaden.

"Karena perjodohan sudah diterima, jadi niat kita makan malam bersama untuk membicarakan tanggal nikah dari masing-masing anak kita." Ucap Derza sedikit menjelaskan.

Destiny [ MARKHYUCK ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang