👋🏻👋🏻👋🏻
Udara masuk ke ventilasi kamar Evan, ia menghirup udara agar tubuhnya rileks. Selesai bersiap-siap untuk ke sekolah, tak lama seseorang membuka pintu, siapa lagi kalau bukan Rania. Tahta tertinggi di rumah ialah anak pertama.
"Kak! Lain kali ketuk dulu, kalo gue tiba-tiba serangan jantung gimana?"
"Maaf. Lagian nungguin di garasi lama tuh ga enak." omel Rania karena adiknya masih bergaya depan cermin.
"Tumben ga bareng si ringgam, kemana dia?"
"Entah, gue ga chat dia dari malem." Mendengar hal itu, Evan langsung mendekati Rania. "Ada sesuatu yang disembunyikan nih."
"Ga ada. Ayolah kita berangkat aja ga usah mikirin yang lain." Rania menarik tangan Evan sampai garasi agar Evan cepat menyalakan motornya.
***
Turun dari mobil Lea dan Mika jalan menuju lobi sekolah. Kali ini mereka menunggu kedatangan Rania. Biasanya mereka menunggu di kelas, berbeda dengan hari ini karena Lea membutuhkan Evan.
"Le, kita nunggu Rani dimana ya?"
"Di deket lobi sekolah aja."
Beberapa kali mereka memeriksa arloji di tangan kanan Mika. Tumben Rania lama, tidak biasanya. Mencoba beberapa kali menelpon, namun tidak diangkat.
Lea menoleh ke arah gerbang utama, ia melihat motor Evan masuk ke parkiran. Lea menarik tangan Mika keluar menghampiri Rania.
"Untung belum bel. Lain kali jangan terlalu santai deh," omel Rania ketika turun dari motor. Evan mengejeknya dengan mengikuti cara bicara Rania tanpa bersuara.
"Denger ga?" tambahnya.
"Iya kak." Dengan pasrah ia mendengar omelan kakaknya di pagi hari yang cerah ini.
"Ayo kita masuk. Dia pasti nunggu temennya." Rania dan Mika jalan lebih dulu. Seperti tujuan di awal, ia ingin minta tolong pada Evan.
"Van, nitip ini buat si Arga ya." Ia memberikan kotak hitam dengan pita merah.
Matanya melotot dengan kerutan dikening. Tak disangka, orang yang awalnya jutek tiba-tiba ngasih sesuatu. Banyak pertanyaan yang muncul dipikirannya. Ia benar-benar kaget.
"Ini ga salah?" Berkali-kali Evan memastikan bahwa itu benar. Lea hanya tertawa dan pergi begitu saja mengikuti Rania dan Mika yang sudah jauh. Sebelum pergi Lea membalikkan badan dan berterima kasih padanya.
Selang beberapa menit, datang Arga sendirian tanpa Ringgam. Padahal ia ada sesuatu yang ingin ditanyakan pada Ringgam.
"Van."
"Apa nih?" Arga membolak-balik kotak itu tanpa nembuka sebelum ia tahu dari siapa.
"Entah. Lea nitipin itu ke gue. Btw bukannya kalian musuhan ya? Lebih tepatnya ga akur sih."
"Thanks, van. Gue sama dia bukan musuh," balas Arga.
"Terus apa? Jangan bilang kalian tiba-tiba jadian."
"Ngawur." Arga sama sekali tidak menyangkal hal itu membuat Evan semakin bingung.
"Hanya waktu yang bisa menjawab. Gue cabut duluan ya."
Sepanjang koridor sekolah, ia tidak menemukan keberadaan Ringgam hingga di dekat ruang BK ada kursi tunggu. Ringgam disana duduk sendirian dengan tatapan kosong. Evan menghampirinya takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
"Gam, lo ngapain disini dah?" Kedatangan Evan membuatnya kaget dan semua lamunan buyar. Gelagatnya jadi beda, ada sesuatu yang disembunyikan itulah terlintas di pikiran Evan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rania Dan Kisah
Novela JuvenilSemua yang hadir dalam hidup hanyalah pelengkap. Namun, pelengkap itu bisa saja pergi dan datang kembali dalam waktu yang bersamaan. Ketika hati yang sudah berbalik dari sebelumnya harus beradaptasi kembali. "Gue, Razka dan Ringgam?" Siapa mereka...
