Saigon hilang. Entah takut atau ingin mengatur rencana lain, tetapi hilangnya orang ini dapat membuat suasana dikit lega. Beni menghampiri Lematang yang tengah bersandar di pohon.
Ogan bangkit. Ia berjalan mencari Mauli di runtuhan goa sedangkan mulut terus menyebut namanya. Ia bongkar satu per satu bongkahan batu yang ada di depan. Perlahan-lahan jarak pandang pun mulai memanjang. Mata Ogan terbelalak melihat sosok wanita tengah tergeletak di depan tiga meter darinya.
"Mauli!"
Ogan berlari lantas membuang bebatuan kecil yang menimpa. Ogan mengangkat Mauli jauh dari tempat tersebut, mendekat ke arah Beni dan Lematang. Ogan duduk sambil menopang tubuh Mauli dengan paha. Terlihat wajah Mauli penuh noda, wajahnya mirip mayat yang bangkit dari kubur. Ogan memeriksa nadinya, Mauli masih hidup.
Prajurit itu memasang ujung tongkatnya ke kening Mauli. Tak berapa lama tangan Mauli bergerak, tangannya merayap menyentuh lengan Ogan. Melihat gerakan itu, terlihat senyum lebar dari sang kekasih. Kemudian kedua mata Mauli membuka dan melihat kekasih berada di samping.
"Kau tak apa-apa?"
Ogan membetulkan posisi Mauli selonjoran. Wanita itu duduk sambil memegang kepala. Hal fatal yang baru ia lakukan membuat Mauli menyesal. Dia telah dipaksa untuk membangkitkan energi dari Walas yang kemudian ditransfer ke Saigon.
"Maafkan aku, seharusnya aku tidak melakukan itu!"
"Dia hanya menggunakan sihirnya untuk mengelabui, Mauli!" Ogan melirik ke arah Lematang.
"Ke mana dia pergi?"
"Siapa, Saigon? Dia akan pergi ke pusat kota untuk membuka portal untuk mendapatkan kekuatan yang lebih besar," jelas Lematang.
"Energi barusan hanya untuk meningkatkan power dan kekuatan Saigon agar bisa mengambil energi dari kandang unu."
"Portal apa?" Beni penasaran.
"Entahlah, aku pun tidak mengetahui, hanya itu yang aku bisa berikan."
Beni dan Ogan langsung menoleh ke arah Mauli. "Kitabnya!" Mauli berdiri lalu mencari Walas yang hilang ketika ledakan berlangsung. "Cari kitabnya!" teriak Mauli sambil bergerak.
Beni dan Ogan memasang kedua matanya untuk menjadikan Walas sebagai objek. Puing-puing tersebut dibongkar satu per satu. Mauli kemudian melihat benda yang berbeda dengan warna batu. Ia gali tumpukan batu di depan dengan tangan, Setelah menggali sedalam lima sentimeter, ia menarik Walas dan membawa ke Lematang.
"Bagaimana aku menggunakannya?"
"Ada mantra di bawah simbol, tinggal kau baca dan lakukan sebaliknya ketika kau mentransfer energi itu."
Lematang mendekati Mauli. Sementara Ogan dan Beni saling pandang. "Apa yang kau lakukan di sini?" Ogan menatap Beni.
"Aku mengikutimu." Beni garuk-garuk.
"Sebaiknya kau bisa membantu kali ini."
Ogan maju selangkah berada di tengah-tengah Mauli dan Lematang. "Apa yang terjadi jika portal itu terbuka?" Ogan melirik Lematang.
"Portal itu akan menghasilkan energi besar, yang mengakibatkan banyak makhluk keluar dan akan membantai banyak orang. Sedangkan Saigon menyerap energi yang keluar dari portal, dia akan menjadi sosok yang lebih brutal tanpa nurani."
"Tapi, hal itu demi membuka portal kematian untuk mengembalikan orang tua kami yang telah meninggal."
"Kita harus menghentikannya jika tidak Lamus akan kena bencana!" Ogan mengayunkan tongkat. Mauli menatap Ogan dan Beni sementara tangannya memegang buku tersebut.
Mereka bergerak meninggalkan tempat tersebut. Namun, baru tiga langkah terdengar suara Lematang dengan nada tinggi. "Tunggu! Bisakah aku bersama kalian?" Kalimatnya terdengar tulus.
Ogan tak ambil suara, justru Beni dengan girang membalas kalimat Lematang.
"Tentu, kita bisa lakukan bersama."
"Jangan! Wanita itu justru yang membuat monster, bisa-bisa dia hanya akan mencelakai kita saja," cegah Ogan.
"Tidak, kali ini aku benar-benar ingin berpihak pada kalian karena dari awal aku tidak ingin melakukan semua itu."
"Sudahlah, ayo kita pergi!" Ogan menarik tangan Beni dan Mauli.
Beni berhenti lalu berucap, "Coba beri dia kesempatan, jika dia benar-benar jahat aku sudah dibunuhnya dari tadi."
Beni berkali-kali mencoba membujuk Ogan meski prajurit itu sedikit risih dengan rengekan Beni. "Kau lihat dia juga membocorkan bagaimana menghentikan orang yang kau maksud kan?" Beni menahan.
Ogan menarik nafas panjang dan akhirnya kalimat singkat pertanda Ogan setuju pun keluar. "Baiklah." Beni Senang karena bisa dekat dengan Lematang.
"Sebelum kita melangkah, aku hanya ingin memberitahu bahwa nama asliku adalah Lematang, bukan Cika."
Ogan dan Beni menatap wanita itu. "Ya sudahlah, itu bisa kita bicarakan nanti." Mauli menatap Lematang seolah rasa cemburunya belum hilang. Ogan terlihat masih kesal, tetapi kondisi menyebabkan dia lebih baik bungkam. Terutama Mauli, sebenarnya ia panas, namun ini bukan perkara asmara belaka.

KAMU SEDANG MEMBACA
Ogan | Trah Sriwijaya
Historical FictionSetelah dua tahun bersama terungkap bahwa Ogan berasal dari Semesta Pranal. Dia bahkan bertemu dengan seorang evolus, sang pengendali elemen yang tak biasa. Bahkan prajurit tersebut bukanlah seorang manusia, dia adalah makhluk sekelas dewa. Seorang...