Unu Berada di Bit

5 0 0
                                    

Lubang besar bersinar ke langit oren. Saigon menyambut keempat yang bakal menghalanginya. Lematang berlari mendekati jasad Idaba. "Idaba, bahkan sahabatmu sendiri kau tega membunuhnya." Lematang menaruh kebencian, dia menutup mata Idaba yang masih melotot.

Langkah kaki villain tersebut seperti hentakan kaki iblis, terdengar mengerikan yang membuat takut. "Dia hanya sampah, seperti kalian yang bisa mengganggu urusan orang lain."

"Bukan begitu. Perbuatanmu itu tidak benar, aku tau berada di posisimu karena kau sangat sayang kepada orang tuamu. Tetapi kau tidak bisa membangkitkan mereka, kau hanya membangkitkan iblis."

"Kau hanya orang tua, Ogan. Tidak akan paham dengan diriku. Kau bertapa hingga ribuan tahun, lupa segalanya, bahkan zaman telah berubah kau tidak tau."

"Maaf, mungkin aku berbeda dengan dirimu, tetapi kau harus tau Lematang juga tidak ingin ini terjadi."

"Bukan hanya kau yang merasa kehilangan. Aku pun sama, tetapi kau telah dipengaruhi sifat setan, berhentilah!"

Hati Saigon telah membatu. Dia tak akan mempan dengan apa pun. Hanya cara ini hatinya bisa lega. Alasan Saigon bersikeras ingin membangkitkan orang tuanya berawal usai seminggu pemakaman orang tuanya. Saigon mendapat mimpi bahwa mereka belum sepenuhnya mati, mereka hanya terbelenggu di Portal Kematian. Selama tiga hari berturut-turut Saigon bermimpi serupa. Bahkan seperti secara nyata dia berada di dimensi lain.

"Di mana aku?"

"Ke marilah Nak," Sang ibu bersama ayahnya muncul.

"Ibu."

Lantas Saigon melepas kerinduan dengan berpelukan dengan jelmaan orang tuanya. Entah siapa yang menyamar, dia ingin sekali keluar dari dalam dunia gelap, tempat sunyi nan sepi. Dia memanfaatkan kelemahan Saigon sebagai alat. Begitu bodohnya sang evolus tersebut, dia terpancing oleh kata-kata kedua makluk tersebut.

"Kami belum mati, Saigon. Kau bisa menghidupkan kami tetapi cukup rumit dang kau harus bekerja keras."

"Apa pun itu akan aku lakukan."

"Carilah evolus yang bernama Kardu, dia memiliki alat untuk melintasi antar semesta. Alat itu bisa membawamu ke Bima Sakti, untuk mengambil Walas. Bukalah simbol dengan Trah Sriwijaya untuk membuka Portal Unu, dengan mengambil energi alam bangsa unu kau bisa membuka Portal Kematian."

Penjelasan itu memang rumit tetapi Saigon telah termakan. Karena Saigon termasuk anak yang dekat dengan kedua orang tuanya. Oleh sebab itu, kegelisahan Saigon dimanfaatkan oleh iblis. Usai memberikan penjelasan itu, mereka hilang. Saigon ganar, mata memperhatikan area itu tanpa kehidupan. Meski berteriak keras tidak ada yang membalas, jangankan manusia suara jangkrik pun tidak ada.

"Ayah, Ibu!"

"Ayah!"

"Ibu!"

"Aaaa..."

Saigon sadar. Dia mandi keringat, tubuhnya masih berselimut, masih berdebar-debar, dia menenangkan diri. Dia masih memproses mimpi barusan, bahkan hatinya tergerak untuk mengajak Lematang. Memang awalnya adiknya tidak mau, tetapi Saigon memaksa, hingga dia tak berani melawan. Walau hatinya menolak, tetapi Lematang tetap membantu Saigon hendak mencuri sebuah alat canggih. Alat tersebut milik Kardu, dia evolus yang memiliki kecerdasan, dan hasilnya sangat menggiurkan bagi penjuru dunia. Alat itu berbentuk seperti jam tangan, tetapi terdapat keyboard mini dan layar. Benda ini disebut "Jagat Majemuk" tetapi disimpan paling aman di rumah Kardu.

Diam-diam, dua evolus itu menyelinap di rumah Kardu, dia masuk ke ruangan yang dianggap tempat penyimpanan Jagat Majemuk. Ketika berhasil membawa alat tersebut, Kardu muncul dengan senjata berlubang besar. "Berani sekali kau mengambil karyaku." Kardu menodongkan senjata. Tanpa ampun Saigon membunuh Kardu, dengan bau. Aroma busuk telah menimbulkan efek mematikan. Dia kejang-kejang seraya memuntahkan semua isi perut, wajah pucat dan tenaga yang kian lama terkuras.

"Waktu itu aku tak berani melawanmu karena aku merasa tak mampu. Tapi sekarang aku akan menghentikanmu."

Lematang maju. Senyum maut keluar, Saigon ternyata membuka portal unu. Bahkan dia masih bisa mengendalikan unu di Bit. Kali ini para unu muncul bertato merah di kepala. Muncul makhluk yang sama tetapi bagaikan ular naga. Dia bisa memuntahkan percikan api. "Unu yang ini lebih ganas, dia bahkan bisa mengeluarkan kobaran api dari mulutnya." Kerinci mengeluarkan sepasang pedang. Senjata itu pemberian dari Lematang, itu adalah senjata yang bisa melibas kulit unu dengan mudah.

"Kalian pasti rindu dengan mereka bukan?"

"Kurang ajar!

Mauli mengangkat tangan ke atas, sinar neon menyebar lalu menghantam para unu. Lematang dan Ogan melambung, evolus berjenis kelamin perempuan itu membuka tangan, metana itu menyebar hingga membuat makin membesarkan lautan api. Ogan melempar tongkat ke bawah. Satu unu mati dengan Akuadron menancap di kepala. Di mendarat, kedua tangannya pun memancar sinar merah, dua unu melayang ke atas. Mata kanan bersinar biru sedangkan kiri berwarna merah.

Bagaikan mesin pembunuh, Ogan berlari cepat, gerakan bagaikan kilat, dia menghantam mereka dengan tangan kosong. Sedangkan Akuadron ikut mengamuk. Ogan maju, menonjok kepala, lalu geser ke samping memukul bagian perut unu. Di berlari zig zag seraya melepaskan tendangan kuat. Secepat itu delapan unu melesat.

Buk! Bug!

"Rasakan itu."

Baru saja puas, Semburan api membawa Ogan berbalun-balun. Hanya makan angin, Ogan mengusap bibir. Sedangkan Kerinci menghunus pucuk pedang. Satu unu menyambar, namun Kerinci pasang mata pedang, tubuh keras bagai batu kali kini terbelah dengan mudah, seperti jelly. Potongan daging itu berserakan, sedangkan wajah Kerinci penuh darah.

"Pedang ini tajam sekali, Lematang."

"Benar, mudah juga untuk memotong belut," sahut Lematang.

Wajah Kerinci berubah. Dia pura-pura tak mendengar, dia lanjut membasmi para unu. Di kesempat Kerinci pernah ketendang, tetapi dia juga sempat memotong kaki depan unu. Kerinci bergeletak dan berhenti setelah tertahan batu. Dia pun kejatuhan cakar unu, benda tebasannya itu mengenai wajah. "Iuw, lebih bagus ceker ayam." Kerinci memegangi tenggorokan seperti mual. Ia berdiri menyaksikan betapa gilanya para teman-temannya bertarung, sedangkan kekasihnya sungguh mengagumkan.

"Kau gesit juga, Sayang."

Kerinci menonton Lematang mau digigit unu tetapi dengan sigap dia mengelak justru menusuk lehernya dengan pisau. Hanya terdengar unu itu merintih, kemudian melarikan diri. Laksana dewa pembantai, Ogan bersinar di awang-awang mengendalikan Akuadron dan Aguilar.

Ogan | Trah SriwijayaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang