Mauli Bongkar Rahasia Lematang

2 0 0
                                    

Langkah kaki pelan, laksana enggan bergerak. Beni menuju warung Nek Sowah, langganan kemplang. Dialah lelaki yang kerap muncul di bibir warung sang perempuan tua hendak membeli benda renyah ketika digigit. Entah angin apa yang membuat Beni tiba-tiba pergi ke tempat tersebut, hasratnya ingin sekali menggigit benda yang dimasak dengan cara dipanggang tersebut.

"Nek, aku butuh kemplang satu."

Bukannya memberikan pesanan Beni, Nek Sowah justru menggantung kedua alis. Terlihat aneh, tetapi justru dia merasa tak biasa dengan kemunculan Beni.

"Nek!"

"Aku perlu kemplang, Nek."

"Wanita mana yang membuatmu gelisah?" sahut Nek Sowah. Seakan tahu betul isi hati Beni.

"Lho-lho, maksud Nenek Apa? Aku cuma pesan kemplang bukan mau rebut."

Plak!

Nek Sowang memukul Beni dengan centong. Ketika Beni megusap kepalanya, lirikan Nek Sowah tajam. "Aku tahu betul, jika begini pasti ada perempuan yang membuatmu begini, betul?" Nek Sowah bergerak sedikit.

"Betul." Beni takut-takut. Bukannya tak mau membalas melainkan takut kualat.

"Sudahlah!" Nek Sowah mengambil satu plastik kemplang.

Dia menyodorkan, kemudian disambut Beni dengan memberikan uang 10 ribu.

Dia menghilang, sedangkan dua orang di belakang sepasang kekasih cukup lama menunggu. Usai Beni pergi, dia pun merapat sambil membuang kata-kata selidik. "Dia anakmu?" Seorang perempuang menggunakan bandana pink ingin tahu. "Dia hanya pelanggganku saja," tegas Nek Sowah.

"Huh!"

Beni melirik dari jauh seraya memotek kemplang, benda lingkaran putih dengan sedikit bercak coklat. Dia terus melahap hingga semua isi plastik ludes. Tak berapa lama, ia membuang sampah tepat di samping kiri. Usai memasukkan sampah ke tong, dia melihat Lematang telah berdiri di depan. Kemunculan Evolus tersebut seperti malaikat turun dari langit, senyum manis, angin sepoi-sepoi menerbangan sejumlah rambut panjangnya. Wajah menawan dengan tubuh menarik, menarik perhatian Beni.

"Sedang apa kau?"

"Pertanyaanmu salah. Telah melakukan apa kau dengan Ogan?" Beni tak sengaja berucap demikian.

"Hah?"

Beni kaku, canggung tentu saja, ia sadar ucapannya adalah kalimat untuk orang yang sedang cemburu, ditambah wajahnya masam. Wanita itu hanya ingin mengenal sosok orang yang lebih dekat dengan Ogan. Kemunculan makhluk itu tentu menandakan bahwa Lematang simpati pada Beni. "Hai, kau mau ke mana? Mungkin kita bisa makan siang bersama?" Lematang menarik lengan Beni, pria itu hendak hengkang tetapi, dicegah.

"Mungkin kita butuh bicara."

"Aku sebenarnya juga butuh bicara banyak, Lematang."

Lantas, mereka pun sepakat akan makan salah satu restoran seafood. Mereka berjalan berdampingan layaknya sepasang orang yang memadu cinta. Tempat itu tak jauh, hanya butuh 10 menit berjalan serta belok kiri, mereka telah samai di depan. Baru saja duduk mereka didatangi seorang pelayan wanita, rambut pendek, muka oval serta kulit putih seraya lempar kalimat sapaan.

"Selamat sore, Kak. Selamat datang di Restoran Siang-Malam, untuk menu yang telah kami sediakan, Kakak mau pesan apa?"

Pelayan tersebut memberikan selembar kertas yang penuh daftar menu dan harga, Beni mengambil kemudian memberikan pada Lematang. Sang pengendali metana tersebut mengamati sebentar, dia melihat wajah sang pelayan. "Aku pesan kerang dan kepiting ya?" Lematang lebarkan mulut.

"Aku pesan kepiting dan cah kangkung."

"Mau minum apa?"

"Es Teh," kata Beni dan Lematang serentak.

Hanya saling pandang, tak terbiasa dengan adegan tersebut. Mereka pura-pura mencari kesibukan tak penting. Lematang mengambil tisu lalu mengelap wajahnya, sementara Beni mengetuk meja dengan jari telunjuk tangan kanan. Pelayan muncul, tangannya penuh bawaan, lalu menata ke tempat meja.

Tak main lama, mereka langsung mengeksekusi makanan tersebut. Tanpa suara, kalimat basa-basi, hingga pertengahan makan Beni bersuara. "Kepiting ini enak, sejak kapan kau suka hewan ini?" Beni mengambil potongan kangkung, terlihat telah layu bertabur sidikit kuah segar bercampur potongan bawang putih dan cabai merah.

"Sejak pindah ke sini, semestamu cukup indah dan menarik."

"Sebenarnya kau alien? Kau dari semesta mana?"

Beni berhenti, dia melihat Lematang tengah menunduk, terlihat rambutnya terurai, sementara mulutnya masih penuh dengan daging putih , baru saja lepas dari kulitnya. Dia menatap lelaki tersebut, tangannya menyisir rambut kemudian duduk tegak, kedua tangan tertata di atas meja.

"Kau serius sekali. Apa kau tidak takut jika seandai aku adalah makhluk supraloka?"

"Lematang, aku suka padamu! Aku tidak peduli latar belakangmu aku hanya butuh seorang yang bisa melengkapi hidupku."

Kalimat itu lantang, sampai-sampai suara receh itu menjadi perhatian, sejumlah pengunjung bengong, tak lain Lematang, dia makin kaget setelah pria itu berucap tegas sambil berdiri. Lematang menarik tangan Beni, dia meminta pria itu duduk seraya mengisyaratkan agar tidak berisi karena tindakan Beni membuatnya malu.

"Hustt!"

"Kau berkata apa? Aku tidak mengerti maksudmu, kita belum lama bertemu."

"Aku suka denganmu, aku ingin kau menjadi kekasihku."

"Tapi tampaknya kau lebih menyukai prajurit itu, memang dia terlihat gagah dibanding aku bukan?"

Karena Beni, Lematang harus berkata jujur tentang tindakannya belakangan ini terhadap Ogan. Ia membocorkan misi pencarian Trah Sriwiajaya hingga membawa pada sang prajurit terakhir itu. Apa pun yang dilakukan Lematang adalah agar ia dekat dengan Ogan. Hal tersebut lantaran ingin mencari informasi yang sedang dikumpulkan bersama kakaknya.

"Maaf, aku sempat melakukan hal konyol tetapi aku sadar jika yang aku lakukan adalah salah." Lematang berkata jujur, ia mengatakan hendak menyadarkan kakaknya, tetapi membutuhkan kerjasama Beni dan kawan-kawan.

"Apa yang sedangkan kau kerjakan dengan Saigon?"

"Aku tidak mengerti, Lematang."

Di tengah bercakapan yang serius muncul sosok wanita yang tak asing. Mauli telah berdiri dengan tangan melipat, wajahnya santai, kemudian tanpa angin tanpa hujan langsung beri kalimat singkat yang membuat hati Beni hancur lebur.

"Dia sempat mencium Ogan."

"Tidak mungkin!"

Ogan | Trah SriwijayaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang