Makhluk Apa Itu?

3 0 0
                                    

Beni cengar-cengir lalu mendekati Lematang. Ia memegang tangan wanita itu. Tanpa pikir panjang Lematang merentangkan tangan hingga membuat Beni melongo. Lematang melayang sambil tangannya menarik Beni yang ikut terseret Lematang terbang ke udara. Mereka seperti dibawa oleh angin yang membawa mereka bisa terbang.

"Lihat!"

Mauli menunjuk mereka yang sedang melayang di depan. "Aku ingin seperti mereka!" Mauli menatap Ogan. Lantas Prajurit itu mengayunkan tongkat sementara tangan kirinya meraih tubuh Mauli. Mereka akhirnya ikut mengudara dengan kecepatan di atas Lematang dan Beni.

Hanya dalam waktu singkat Akuadron membawa Ogan dan Mauli lebih cepat dari Lematang dan Beni. Akibatnya, Beni bereaksi, mereka bisa lebih dulu padahal Beni dan Lematang yang lebih awal. "Bisakah kau lebih cepat dari pasangan itu?" Beni menunjuk ke depan.

"Maaf, aku tidak bisa secepat itu," ungkap Lematang. Terlihat wajahnya terkena angin hingga rambutnya beterbangan ke samping. Beni bungkam, matanya terpusat pada dua objek yang berpelukan mengudara di depan.

Empat manusia itu lanjut terbang menuju pusat kota. Berteman awan putih, angin, sang mentari siang, bergerak tanpa suara. Dari jauh mereka melihat cahaya besar tengah menuju ke langit. "Itu dia, sepertinya dia telah membuka portalnya," kata Ogan keras.

Ogan dan Mauli menoleh ke belakang, terlihat sekitar satu kilometer Lematang dan Beni menembus awan-awan putih yang menghalangi jarak pandang. Mereka di atas ketinggian, sementara Ogan dan Mauli turun. Kemudian Ogan mendarat, terpaan angin berhembus ke depan. Dua orang itu sempat memperhatikan fenomena tersebut. Disusul Lematang dan Beni, baru saja mendarat, mereka melongo.

"Ya ampun!"

Beni melangkah ke depan sambil matanya melotot. "Makhluk apa itu, Lematang?" Pertanyaan itu muncul seiring perasaan Beni ketar-ketir.

"Unu, makhluk langka berkulit keras."

Terlihat beberapa makhluk berkaki empat, berkepala seperti kura kura tetapi dengan gerakan cepat. Mereka tak memiliki bulu, namun memiliki cakar yang tajam. Sekilas penampilan mereka seperti hewan biasa tetapi, tubuhnya menggambarkan hewan berkulit keras seperti tempurung kura kura, hanya bagian leher yang lunak. Sangar dan berbahaya.

Seekor makhluk jahanam berlari mendekat. Akuadron dengan cepat menghantam kepalanya hingga terpental ke belakang. Makhluk ini merasa kesakitan, namun berusaha menyerang lagi. Setelah tongkatnya kembali, Ogan berlari membidik kepala unu.

"Mati kau!"

Ogan berlari kencang sementara unu tersebut juga mengarah padanya. Ketika dekat Ogan mengayunkan tongkat hingga mengenai leher bagian bawah. Tubuh unu melayang ke udara setinggi 30 m, setelah itu mendarat tanpa nyawa.

Bug!

"O...!"

Beni mundur beberapa langkah berlindung di balik badan Lematang. "Ingat, aku tak punya senjata apa pun untuk mengalahkan makhluk itu," ucap Beni berbisik.

Sementara Saigon tampak berdiri sambil merasakan energi yang keluar dan masuk ke dalam tubuhnya. Semakin banyak energi yang masuk semakin besar pula tubuh Saigon. Dari portal tersebut muncul makhluk-makhluk seperti macan keluar dari kandang.

Tiba-tiba ada unu muncul dari samping Mauli, wanita itu reflek mengarahkan tangannya dari Walas yang dipegang ke arah unu. Ternyata tangannya bisa mengendalikan energi hingga berujung senjata bagi Mauli.

Unu itu terkena sengatan energi, mula-mula makhluk itu hanya diam, lama-lama ambruk dengan tubuh lunglai. "Ya ampun, aku bisa menyakiti makhluk itu." Mauli tak percaya.

Mauli memperhatikan tangannya. Sementara Mauli masih shock, kekasihnya pun penasaran. Ogan mendekat lalu lontarkan kalimat pertanyaan.

"Kau kenapa?"

Mauli menatap Ogan lalu membalas, "Aku bisa mengendalikan kitab ini." Mauli memperlihatkan wajah pelik.

"Kalau begitu tuhan berpihak pada kita."

"Lalu bagaimana denganku? Aku tidak punya apa pun untuk menghalau makhluk itu." Wajah Beni terlihat takut.

"Kau saja bisa menghancurkan raksasa berbadan besi tanpa kekuatan, apalagi cuma hewan," cetus Ogan.

Kalimat itu mengingat tragedi tempo dulu. Harusnya Beni lebih cerdik dalam menghadapi musuh, dulu dia pun berani dalam melawan pasukan besi. Apalagi hanya hewan aneh, mestinya dia bisa mengatasi. mungkin cukup lama kejadiannya hingga Beni lupa, bahkan dia lebih menggeluti profesinya sebagai arkeolog ketimbang menguji adrenalin.

Ogan dan Mauli merapatkan barisan. Lematang bergabung kemudian Beni memberanikan diri merapat, walau takut-takut. Mereka menyongsong pemandangan mengerikan di depan. Mereka ancang-ancang siap menyerang makhluk-makhluk yang mulai menyebar di area kota. Mereka mengganggu warga sedang beraktivitas, ada yang menghadang mobil, menghancurkan gerobak tukang cilok, mengganggu orang yang sedang kencan di taman.

Hari itu bencana pecah, aura ketakutan menyebar di seluruh pelosok kota, mereka berlarian ke sana ke mari. Sedangkan unu hanyalah hewan perusak, mereka memberikan dampak besar, ribuan orang kalang-kabut, sedangkan unu tanpa dosa bermain-main tanpa rasa takut. Sejumlah aparat keamanan Tutut membantu, terdengar beberapa peluru melesat, tetapi hanya sia-sia. Sekitar lima orang berseragam polisi menjadi mainan unu, seperti kucing menemukan anak tikus.

Ketika rekannya berlari memberi perlawanan, Beni menghentikan langkah, wajahnya mengerut sambil larak-lirik. Kemudian ahli arkeolog itu mencari tempat persembunyian. Pria ini bersembunyi di balik mobil merah. Bukanya membantu, pria ini malah sembunyi, sepertinya kata-kata bijak dari Ogan hanya omong kosong. Atau mungkin dia punya rencana? Tapi wajah cemas berat, nafas tidak teratur, keringat pun telah mengalir meski tak sederas air kencing.

"Aku harus mencari cara bagaimana mengalahkan makhluk itu." Terdengar nafasnya ngos-ngosan.

Ogan | Trah SriwijayaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang