Penampilan Memukau

3 0 0
                                    

Bram menyeka keringat. Dia keluar dari persembunyian setelah pasukan besi dengan kekuatan sihir menyerang bangsa unu. Orang dengan seragam polisi tersebut lega makhluk yang sempat hendak menguasai Lamus kini berpihak pada yang benar. Dua orang anak buahnya ikut menyaksikan, betapa anehnya, jika pasukan itu dikira dipimpin oleh seorang wanita. Sosok wanita dengan belaian rambut indah mendarat, dia menyambangi sang polisi.

"Bidadari dari langit turun ke bumi. Siapakah namamu, Nona?"

Bukannya langsung menjawab, sang pemilik wajah jelita itu malah mengangkat satu tangan. Selendang merah terbang menyentuh leher unu kemudian mengikatnya hingga putus. Kepala unu itu melesat di hadapan Bram, dia jijik dengan lidah keluar serta berceceran darah. "Menjijikan sekali, hewan macam apa dia?" Bram menutup mulut.

"Nawang Ayu," ucap wanita itu.

Hanya bisa menatap, Seorang wanita bisa mengendalikan selendang, hanya sekali libas dapat memotong badan unu. Sangat luar biasa, selain cantik dia juga sakti. "Jika dia manusia sudah aku jadikan pacar, Komandan." Salah satu polisi terpesona. "Dia lebih dari manusia, dia cantik sekali," ucap Bram kagum.

"Jika dia mau aku mau menjadi suaminya," balas polisi lain.

Bram melirik.

"Huh, dia tidak akan mau dengan kau, udah jelek, dekil, pelit, hidup lagi," balas rekannya.

"Dia seorang pahlawan."

Penampakan heboh, seekor unu adu moncong dengan Bodem. Berkepala keras, unu itu tanpa pikir panjang langsung memberi dorongan seperti banteng, tetapi Bodem melawan dengan satu kepalan. Teng! Terdengar nyaring, hembusan angin pun dirasakan oleh Sangkut. Dia telah berkumpul dengan Karot dan Pengot. Dia pun silau dengan Wadari.

"Pasukan itu dipimpin oleh wanita," kata Sangkut menunjuk objek yang sedang terbang.

"Apakah dia bidadari, malaikat atau iblis?" Karot mengubah ekspresi wajah.

Bodem yang memukul unu tadi, memukul lagi dengan tangan satunya. Kemudian meraih kepala, Bodem tersebut membanting unu ke bumi. Lantas kedua kakinya bermain, tulang leher unu remuk. Bagaikan gunung meletus, hentakan kaki para unu mengggetar bumi hingga nyali. Empat ekor unu menyerang Bodem. Seekor naik di punggung lalu berusaha menyerang kepala, dua lainnya menggigit kedua lengan. Sedangkan satunya berusaha menggigit kaki.

Duak!

Satu ekor berhasil ditendang, tetapi Bodem itu ambruk, kepalanya lepas, lengannya pun ikut terpisah dari badan. Satu ekor yang lain berlagak lincah, dia menyerang kepala Bodem. Sekali lompatan satu kepala lepas. Pluk! Usai lepas badannya pun jatuh. Satu unu ini berbeda dengan yang lain, badannya sedikit lebih besar, wajahnya lebih garang, sedangkan memiliki tanda merah di kening.

Puluhan Bodem telah tergeletak. Wadari menyoroti makhluk satu itu. Selendang bergerak mengikat leher unu tersebut, tetapi beberapa kali dibanting tak jua lumpuh. Malahan dia menyemburkan api. Wadari menghindar, meski bisa mengelak tetapi unu satu ini cukup merepotkan. "Tentu saja bisa menyemburkan api," sebut Wadari heran. Lantas, selendang itu memanjang, lalu mengikat seluruh tubuhnya. Semakin lama ikatan itu makin kuat dan menciutkan tubuh unu. Makhluk itu mengerang keras, dia pun mengeluarkan semburan api yang menjalar ke udara. Tangan Wadari bergerak lagi, selendang itu mengikat bagian leher dengan kuat, semakin kuat maka semakin banyak api yang keluar dari mulut.

Selendang sakti itu menekan terus hingga suara serak keluar, unu kesulitan bernafas, dan lepaslah kepala unu tersebut. Gelondongan yang punya wajah itu melesat di hadapan Karot dan Sangkut.

"Ya ampun seperti bau sate," ucap Pengot tiba-tiba bangun.

"Gulai kepala kambing," sambut Karot, dia menunjuk kepala unu yang tengah berasap, beraroma anyir.

"Bisa-bisanya kau mencium aroma wangi, bau tak sedap begini, besok kau harus memeriksa hidungmu, Pengot." Sangkut aneh.

"Wow!"

Pengot terpukau, berbeda dengan manusia ini. Dia justru menyaksikan pertempuran robot dan monster yang begitu epic, ini merupakan adegan langka. Wajahnya tersenyum, baru saja siuman dia malah tergeleng-geleng, seperti baru saja di cas. "Wuahahaha!" Pengot girang ketika Bodem menjatuhkan seekor unu lalu memukulnya hingga wajahnya tak berbentuk.

"Awas!"

Bangkai unu tadi dilempar ke arah mereka. Sangkut melihatnya lalu beri peringatan, tingkah buncah sudah pasti, Pengot berlari lalu menarik Karot, Sangkut juga ikut lari belingsatan.

Bug!

Mereka hampir tertiban. Tampak tatapan makan bawang, mereka hampir celaka akibat robot sialan, tak melihat jika ada mereka. "Robot sialan," cetus Pengot. Karot mengelap luka di bibir setelah melihat kakinya mengeluar cairan merah. Tapi cuma goresan, tidak fatal.

Beberapa saat, Bodem yang telah diam cukup lama akhirnya bangun. Bagian yang perpisah akhir bersatu lagi. Mereka berdiri lalu melanjutkan perang kembali. Di pihak lawan pun para unu semakin banyak muncul dari hutan. Wadari melihat geganjalan, dia lalu mengeluarkan salah satu kemampuan langka. Tidak ada seorang pun yang bisa melakukan kecuali dirinya. Di seorang pengendali unik, dia mengumpulkan banyak benda kecil, warna mirip emas, tetapi bukan logam mulia. Padi, adalah salah satu senjatanya, dia keluarkan banyak padi kemudian melesat bagaikan peluru.

Benda-benda kecil itu menjadi peluru dan bersarang di tubuh unu, membutakan kedua matanya. Sesaat, para unu yang baru saja muncul rata. Tubuh berkulit bagaikan cangkang itu berjatuhan masal. Meski benda pada umumnya adalah salah satu bahan untuk menjadi makanan, tetapi bagi Wadari itu adalah senjata paling mematikan. Jika unu saja bisa diselesaikan dengan baik, apalagi bagi manusia yang punya kulit lembek.

"Luar biasa. Komandan, wanita itu dapat membunuh ratusan unu dengan meluncurkan butiran padi," ucap polisi pada komandannya.

"Seperti Dewi Sri, Dewi Kemakmuran atau disebut Dewi Padi," balas Bram.

"Apa itu dia?"

"Entahlah, tetapi namanya bukan dia."

Hanya memperlihatkan ekspresi terperanjat melihat sang bidadari. Dia terlihat melayang di udara dengan selendang berputar-putar di atas medan perang. Namun, dari ujung unu-unu biadab bermunculan lagi, mereka tak pernah habis begitu juga nyawa Bodem.

Ogan | Trah SriwijayaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang