2. Bertemu si Jiwa Asli

9.8K 208 1
                                        

Nora menatap fokus dinding yang di tempeli kertas warna warni. Matanya begitu jeli melihat kata demi kata.

"Oh, jadi sekarang gue anak Ips kelas dua. Hm, bukan masalah besar sih, kan di raga lama gue juga anak Ips. Ips jaya! Jaya!"

"Lo segitu senengnya jadi anak ips, padahal anak ips sering di anggap remeh," suara tanpa wujud itu membuat Nora memutar tubuhnya.

"Gue salah dengar nggak sih? Apa kamar ini yang angker?" Gumannya bergidik ngeri.

"Nggak usah mikir aneh-aneh. Gue ada cuma wujudnya nggak ada. Btw thanks ya lo mau gantiin gue, gue utang budi sama lo. Gue nggak bisa lama-lama di sini, kalau ada pertanyaan buruan," titahnya.

Nora menenggak tubuhnya. "Gue mau tanya, ngapain lo narik gue ke raga lo. Nggak sayang diri? Padahal hidup lo enak. Anak orang kaya, cantik, keluarga lengkap, beh nikmat mana yang kau dustakan jubaidah,"

"Nggak semua bisa lo anggap remeh. Suatu saat nanti lo juga bakal tahu sendiri kenapa gue milih pergi ketimbang hidup. Tapi sekarang yang penting, lo berhak atas raga ini. Apapun pengen lo lakuin, lakuin aja yang penting jangan merusak raga ini sebab lo yang bakal ngerasain bukan gue,"

"Dan satu lagi pesan gue, jangan pernah benci sama kedua kakak gue. Mau seburuk apapun mereka jangan benci atau melukai mereka. Tapi kalau mereka keterlaluan lo cukup nasehatin pribadi jangan di depan orang banyak,"

"Oh, lo punya konflik sama kedua kakak lo yang sekarang jadi kakak gue? Oke tenang aja, hati gue nih sekuat benteng dan selembut sutra, jadi aman kalau mereka main-main sama gue,"

Nora asli tersenyum meski Nora baru tidak melihatnya. "Gue pamit. Jangan kasih orang-orang kalau lo bukan gue, gue nggak mau adalah masalah setelah gue pergi. Bye, selamat tinggal Nora."

Nora menghela napas pelan. Hidup keduanya baru dimulai, ia tidak ingin memikirkan yang belum terjadi. Lagian hidup sebelumnya sudah merasakan pahit dan pahit sama sekarang tetap sama.

"Nona, di panggil nyonya untuk bersiap," kata pembantu yang baru saja memasuki kamarnya.

"Mau kemana? Masih pagi, baru juga masih sarapan," tanya Nora menatap malas kakinya.

"Apa Nona lupa? Ini kan hari minggu, waktunya beribadah," mata Nora ber oh ria. "Jadi agama ku kristen." gumannya.

__________

Nora menatap dirinya di depan cermin full body. Rambut di kuncir kuda dengan mengisakan anak rambut saja. Polesan skin care membuat wajahnya cantik natural.

"Gue mah bukan cewek pik mi yang tipekal cuma pakek bedak bayi sama liptin sasimi. Realitas aja," gumannya melihat kesempurnaan tubuhnya.

Mengambil sepatu pantopel lalu menyambar tas ransel warna hijau mint. "Harus jadi murid rajin untuk hari pertama, kalau besok pikir besok," monolog Nora.

Pergi ke ruang makan untuk sarapan, lagi-lagi mereka menampilkan wajah dengan senyum hangat. Nora jadi suka dan full mood pagi ini. "Cantik," puji Abraham.

"Kayak biasanya," lanjutnya membuat semua tertawa kecuali Nio dan Zafran.

"Ish, Akong! Merusak mood saja. Padahal aku ini memang cantik, kayak bidadari turun kayangan gitu loh," ucap Nora menyelipkan anak rambut di belakang telinga dengan malu-malu.

"Kayangan? Kamu ini masih pagi sudah bermimpi. Mending sekarang kamu sarapan trus berangkat, nanti tak anterin," sahut Abraham. "Siap, Kong!"

Nora mengambil duduk di samping Maria, neneknya tambil cantik dengan setelan putih abu-abu. Nora mengambil nasi, ayam dan sayur. "Tumben kamu mau makan berat pagi-pagi, biasanya satu roti sama susu itupun sering nggak habis,"

"Hari ini senin, upacara. Kalau enggak sarapan yang banyak bakal pingsan, aku malas jadi pusat perhatian satu sekolah," ungkap Nora makan dengan cepat.

"Kebiasaan lo kan memang gitu,"

"Nio! Jaga ucapan mu. Jangan sampai kakek mendengar cibiran mu lagi. Kasian mentalnya," tegur Abraham.

"Bela aja terus. Kalian selalu mengatakan hal itu tapi kalian tidak pernah berpikir bagaimana mental kami. Kami ini juga anak keluarga ini bukan dia saja. Jadi wajar kalau kami membenci dia," ungkap Nio menatap Nora dengan permusuhan.

Nio pergi diikuti Zafran, kakak Nio dan Nora. Paling pendiam dari ketiga anak Nara dan Dika. Entahlah bagaimana mentalnya, sebab dia terlalu tertutup.

"Kalian kok gitu, jangan mentang-mentang aku disini hanya satu-satunya cucu perempuan kalian jadi pilih kasih gini. Kan kasian kasian kedua kakak aku," imbuh Nora meminum air putih lalu mengelap mulutnya dengan tangannya.

"Ayo, Kong. Nanti keburu telat," ucap Nora pergi meninggalkan semuanya dan menarik Abraham ikut bersamanya. "Perkataan Nora benar, Mas. Sepertinya kita harus berkonsultasi ke piskolog agar kita bisa menanangi masalah dengan tepat," usul Nara di angguki oleh Dika.

"Kita atur jadwal."

_________

Nora sudah sampai di depan gerbang sekolah barunya. Hollands Inlandsche School atau di singkat HIS. Sekolahnya anak-anak kaya dan pintar. Di sini tidak ada namanya anak beasiswa. Murni anak kalangan atas bahkan anak beberapa anak artis sekolah di sini.

"Sangu, Kong. Tadi belum minta papa," ucap Nora mengadahkan tangan kepada Abraham.

"Kakek cuma pegang cash bukan kartu atm. Nggak papa?" tanyanya sambil mengeluarkan beberapa uang lembar warna biru.

"Nggak papa, karena mulai sekarang aku nggak menerima semua jelas kartu-kartuan. Termasuk blakcard," sahutnya mengambil uang itu lalu berpamitan. Kemudian pergi memasuki sekolah gedung tingkat empat itu.

"Impi apa gue bisa sekolah di golongan orang kaya. Bangga gue sama nih raga," monolognya menatap kagum setiap inci gedung itu. Bahkan saat dirinya menjadi pusat perhatian tidak membuatnya sadar.

"Gue kelas ips 3 kan? Oke sekarang fokus cari kelas. Jangan sampai gue telat cuma gara-gara susah nyari kelas," gumannya menyemangati diri.

"Nora!" panggil seseorang membuatnya langsung menoleh. "Gue tungguin di tempat biasa eh lo malah nyelonong terus," protesnya menatap kesal Nora.

"Gue nggak lihat lo, sorry," sahut Nora pura-pura kenal. Dari bet kelas, dia satu kelas dengannya itu akan dia manfaatkan.

"Kelas yok, bentar lagi Bel. Gue mau dapat barian paling depan sendiri," ajak Nora mengalungkan tangannya di lengan dia.

"Tumben, biasanya lo ogah-ogahan. Tapi karena lo mau gitu, gue turutin. Soalnya hari ini yang jadi petugas upacara para anak mipa 1," sahutnya menarik Nora agar mempercepat langkah. Nora hanya mengikuti tanpa kepo tentang anak mipa 1.

Next>

NO REVISI

I'NORACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang