Hati seorang Ibu menghangat sangat putra ragilnya pulang setelah sekian bulan berlalu. Senyum manis itu tidak luntur sekecil pun.
Langkah lebar sang anak membuat Ibunya ikut mendekat. Di dekap bagai lama tak berjumpa. "Sayang,"
"Mama, ayolah aku tidak pulang beberapa bulan bukan beberapa tahun. Jangan lebay," ucap sang anak mendapat pukulan tepat di lengan.
"Kamu ini, anak satu-satunya Mama yang belum menikah. Jadi tidak masalah kalau Mama sangat sensitif begini," omel sang Ibu.
"Aku kemari karena dia memanggil ku. Dimana dia?" tanya sang anak membuat Ibunya menggelengkan kepala tak habis pikir.
"Dia Papa mu, kenapa kamu memanggil dengan sebutan dia? Itu tidak sopan, Nak." Sang anak hanya memutar mata malas.
"Kau sudah datang, San?" tanya seseorang membuat Sandy menoleh.
"Katakan, apa yang ingin kau sampaikan kepada ku sampai aku harus kemari," tanya Sandy tanpa memikirkan etika yang baik.
"Bicaramu sangat tidak sopan. Apa Mama mu mengajar kan seperti itu?!" sentak sang Ayah membuat Sandy terkekeh.
"Mama hanya bilang, hormati yang perlu di hormati. Lalu kau mengatakan tentang ketidak sopanan ku? Bagaimana dengan diri mu yang juga sebagai Papa ku?"
"SANDY! JAGA BATASAN MU!" bentak sang Ayah tidak membuat Sandy takut.
Ibunya mengelus bahu Sandy agar dia tidak membantah setiap kata dari suaminya. Ibu dari kakak Sandy ini tidak mau mereka harus bertengkar panjang.
"Besok malam temui kami di caffe. Kami ingin membicarakan perjodohan mu dengan rekan kerja Papa," ucap Noval membuat Sandy kaget.
"Perjodohan? Tidak!!!" tolak keras Sandy. "Aku tidak mau seperti anak-anak Papa yang lain. Aku ingin menentukan sendiri siapa pasangan hidup ku!"
"Kalian tidak punya hak untuk itu. Ini hidup ku maka harus aku yang memutuskannya!" lanjut Sandy penuh menegasan.
"Tidak bisa! Aku tidak bisa menarik janji ku untuk menikahkan kau dengan putri teman ku,"
"Apakah wajahku terlihat peduli?"
PLAK!!! "SANDY!!"
"Mas!?"
"Ternyata membatasi semua fasilitas kau tidak membuat mu jera rupanya. Aku pikir dengan menarik fasilitas kau tidak bisa hidup tanpa uang ku," remeh Noval. Sedangkan Sandy tertawa hambar.
"Pacar ku saja kaya raya. Bagaimana bisa aku tidak hidup. Meski perusahaan mu besar tapi perusahaan dia lebih besar," sahut Sandy menyombong pacarnya.
Napas Noval tampak lebih berburu. Dengan cepat memalingkan wajahnya agar emosinya sedikit bisa dikendalikan. "Papa tidak mau tahu, kau harus datang besok atau kau akan ku corek dari KK." tegas Noval sebelum pergi meninggalkan mereka.
"Nyesel gue pulang," gerutu Sandy sambil melangkah pergi. Tanpa menggubris panggilan dari sang Mama.
________
Canda dan tawa sudah setiap waktu ada saat jam kosong tiba. Apalagi di bagian pojokan, tempat dimana para cewek-cewek ngerumpi happy.
Di tengah asiknya, seseorang memanggil Fani. "Kenapa?"
"Lo di cari sama Nora. Katanya penting, trus suruh lo datang ke gudang," kata seseorang membuat Fania menyergit heran.
"Gudang? Ngapain kesana?"
"Nggak tahu. Gue cuma nyampein pesan dari dia. Gue cabut dulu," dia berlalu meninggalkan Fania dengan penuh tanya. Meski begitu Fania tetap berjalan ke arah gudang.
"Lah dimana dia? Apa di dalam?" gumannya membuka pintu gudang yang sedikit berkarat. Maklum jarang dipakai.
Fania melangkah lebih dalam hingga tiba-tiba pintu di tutup. Cahaya yang hanya ada pada pantilase udara membuat pernapasan cepat pengap.
"Nora? Lo ngapain ngajak gue kesini? Dan ngapain juga nutup pintu juga," tanya Fania mendekat.
Saat tangan Fania ingin menyentuh pundak Nora, dia langsung menarik kasar dan memplintir dengan keras hingga Fania memekik kesakitan. "Lepasin sakit!"
Dia mendorong Fania hingga membuat tubuh mungil itu berbenturan dengan kursi rusak. "Gue nggak bisa selama bersikap baik di depan lo. Gue muak lihat lo sama kakak gue. Peringatan 1, jauhi kak Nio atau nyawa lo jadi taruhannya," ancam Nora.
"Jadi selama ini lo pura-pura? Hahaha dasarnya picik ya tetep picik! Gue kira lo berubah tapi lo malah makin ngelunjak! Gue aduin ke Nio bentar lag--"
PLAK!!
"Jangan mencoba macam-macam dengan gue, Fania. Kalau sampe lo ngomong ke seseorang tentang tindakan gue, lihat aja. Bukan cuma lo tapi keluarga lo juga mendapat sasaran dari gue. Inget itu!" tekan Nora sebelum pergi meninggalkan Fania.
"Arg! Apa yang harus gue lakuin. Gue nggak mungkin bahayain adik gue demi gue." frustasinya sambil banget lalu merapikan bajunya yang kusut.
_______
Arumi merasa tidak enak dengan Zafran karena sering merasa merepotkan. Arumi tahu bahwa Zafran tipekal orang sibuk bukan hanya anak sekolah pada umumnya.
"Besok-besok jangan nganter atau jemput gue. Nggak enak hati gue. Lagian gue bisa kok pulang pakek gojek," ucap Arumi pada Zafran sambil turun dari montor gede.
"Satu arah nggak papa. Gue kalau cuma antar jemput nggak masalah," sahut Zafran melirik Arumi sebentar.
"Tetep aja nggak enak, Kak. Udah pokok nya gue nggak mau menerima tumpangan lagi dari lo. Ngerti?" tekan Arumi.
"Semua tergantung Nora. Kalau Nora bilang iya gue juga iya," Arumi mengangguk kecil. "Nanti gue bicara sama dia."
Tiba-tiba Zafran turun dari montor lalu duduk atas rumput yang sedikit menusuk. "Eh!? Ngapain duduk di situ? Apa nggak sakit pantatnya?"
Sekilas telinga putih milik Zafran memerah. "Nggak biasa aja. Sini duduk," Arumi tampak bingung sebelum akhirnya ikut duduk di samping Zafran.
"Gimana hati lo? Udah tenang di tinggal alm. Bagas?" Arumi menghela napas panjang. Pandangannya menunduk hingga membuat rambut sedikit bergelombang itu menutupi wajahnya.
"Udah, cuma masih suka nyesel kalau diinget. Ya gue tahu ini nggak semuanya salah gue tapi tetep aja nggak bisa. Dia adalah orang pertama yang bisa mengebuat gue jadi kek gini. Rasanya jahat banget jadi orang," ungkap Arumi.
"Tapi bukan bearti gue jadi terlarut setelah beberapa minggu di tinggal dia. Karena gue selalu inget kata lo, kak. Sedih boleh tapi jangan berlebihan," Arumi mendongak lalu tersenyum pada Zafran.
"Apapun yang terjadi jangan merasa ini salah lo. Ini takdir, nggak ada yang tahu seperti apa waktu kemudian," kata Zafran bijak.
"Makasih ya kak, udah mau nemenin gue dalam beberapa waktu ini. Gue bersyukur ada lo di sini," ungkap Arumi membuat Zafran secara reflek mengelus kepala Arumi dengan gemes.
"Lucu banget sih lo." ungkapnya sambik terkekeh. Hal itu juga menimbulkan efek pada pipi Arumi yang berubah merah.
Next>
NO REVISI
KAMU SEDANG MEMBACA
I'NORA
Short StoryNora Saraswati Putriana Aksarana adalah gadis SMA yang jiwanya di ganti oleh seseorang. Memiliki karakter yang berbeda dari sebelumnya membuat orang terdekat terheran-heran dengannya. Apalagi hobinya suka makan. "Papa, minta uang dong! Buat beli jaj...
