[Rated M | Romance Fantasi Mitologi]
Thebes adalah tanah kelahirannya. Tidak ada hal lain yang Leora inginkan sebagai Putri Thebes, selain mengabdikan dirinya kepada dewa dan menjaga kesuciannya hingga pernikahan. Sayangnya, manusia tidak bisa meneb...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
❃❃❃
THEBES masih menantikan setiap kabar sayembara dengan harap-harap cemas. Kloter terakhir hanya menyisakan segelintir orang saja, sedangkan kabar terbaru belum kunjung didapatkan hingga menjelang petang. Bukan hanya keluarga kerajaan yang dipenuhi kecemasan, melainkan juga semua rakyat Thebes yang tersita perhatiannya.
Mereka bertanya-tanya, apakah ada orang yang berhasil menaklukan singa buas itu? Ataukah putri kerajaan mereka akan berakhir melajang seumur hidup? Tidak ada yang tahu jawabannya.
Raja Eneas yang duduk di tribun tampak menekuk jari-jarinya. "Jika adikmu tidak bisa menikah, lebih baik Ayahanda mengirimnya ke kuil saja," ungkapnya sambil meneguk cawan. "Dionysus mungkin akan menerimanya sebagai pengikut, atau dia bisa memilih Artemis yang dia sukai sejak dulu."
Arsen yang berada di sampingnya pun berdecak. "Apakah Ayahanda tidak memikirkan perasaan adikku?"
"Ayahanda memikirkannya! Maka dari itu, akan lebih bermanfaat kalau dia menjadi pendeta daripada menanggung malu."
Pangeran Thebes sedikit menggebrak mejanya. "Ini bukan yang terbaik untuknya. Ayahanda hanya berusaha menyelamatkan kehormatanmu sendiri," ujarnya tajam.
Raja Eneas mendengus pelan, menahan kekesalannya terhadap putranya yang selalu mempertanyakan keputusannya. "Arsen, kau yang tidak paham," katanya yang terdengar lebih dingin. "Leora adalah seorang putri raja. Segala yang terjadi padanya bukan hanya tentang perasaannya, tetapi juga tentang kehormatan keluarga dan kerajaan kita."
Arsen menatap ayahnya dengan mata menyala. "Dan bagaimana dengan kebahagiaannya? Apakah itu sama sekali tidak penting bagimu?"
Raja Eneas hendak menjawab ketika suara terompet menggema di seluruh alun-alun. Semua kepala menoleh ke arah gerbang utama istana. Terlihat jelas kalau seorang utusan bergegas masuk dengan tergesa-gesa untuk menyampaikan kabar yang dibawanya.
Raja Eneas langsung berdiri dari duduknya ketika utusan itu berlutut memberikan hormat. "Katakan, kabar apa yang kau bawa," perintahnya yang terdengar tak sabar.
Untusan itu membuka helm pelindungnya sebelum menatap rajanya. "Salam, Yang Mulia. Kami memberitahukan bahwa kloter terakhir sudah ditarik seluruhnya dari Gunung Helikon. Saat ini, mereka sedang dalam perjalanan menuju ke ibu kota."
"Sudah kembali semua? Apa kompetisi ini gagal diselesaikan?" sergah Raja Eneas.
Utusan yang tadinya berwajah tegang itu, kini menampilkan senyum kecilnya. "Selamat, Yang Mulia. Singa Cadmea telah berhasil ditaklukkan!"
Kata-kata itu sontak mengguncang seluruh istana. Beberapa orang bahkan berteriak kegirangan, sementara yang lain masih belum percaya bahwa monster buas yang selama ini meneror mereka akhirnya tumbang. Meskipun demikian, Raja Eneas tetap memasang ekspresi waspada.