[Rated M | Romance Fantasi Mitologi]
Thebes adalah tanah kelahirannya. Tidak ada hal lain yang Leora inginkan sebagai Putri Thebes, selain mengabdikan dirinya kepada dewa dan menjaga kesuciannya hingga pernikahan. Sayangnya, manusia tidak bisa meneb...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
❃❃❃
MALAM ini terasa jauh lebih dingin dibandingkan malam-malam penantiannya. Leora yang berdiri di teras kediamannya masih berpangku tangan. Ia hanya mengamati pergerakan lilin yang goyah akibat ditiup angin malam.
Seharusnya dia bersukacita karena laki-laki yang ia harapkan sudah kembali. Dia bisa memilih suaminya sendiri sesuai dengan yang dewa kehendaki. Namun, kebimbangan yang menggerayanginya tempo hari semakin terasa erat.
"Apakah yang aku lakukan ini sudah tepat?" desahnya pelan, menatap beberapa daun yang menguning.
Sementara itu, pesta perayaan masih berlangsung dengan kemegahan di aula istana. Musik menggema, mengiringi para bangsawan yang bercengkerama dan rakyat yang bersorak menikmati kemenangan. Namun, di tengah keramaian itu, Leora merasa asing dengan dirinya sendiri.
Aetius tampak berdiri di sudut ruangan, menatap Leora yang tampak sibuk berinteraksi dengan para tamu. Ada keinginan besar untuk mendekat dan berbicara padanya, tetapi langkahnya seakan tertahan oleh pertanyaan yang mengapung. Kenapa ia merasa kalau gadis itu menjaga jarak dengannya?
Sementara itu, Leora sendiri menyadari tatapan Aetius, tetapi ia menghindar berkontak mata dengannya. Bukan karena tidak ingin bertemu, melainkan karena ia masih gelisah. Ada sesuatu tentang Aetius yang belum ia ketahui sepenuhnya, sesuatu yang masih tertutup rapat. Dia hanya ingin mengetahui apa itu sebelum melangkah maju.
Saat Leora masih larut dalam pikirannya, Jonas justru datang menghampiri dengan senyum percaya diri. "Malam ini seharusnya kau menikmati kemenangan, Putri. Mengapa kau seolah membawa beban berat di pundakmu?"
Leora mengangkat dagunya sedikit, mempertahankan sikap anggunnya. "Aku hanya sedang berpikir, Pangeran Jonas. Malam ini memang perayaan kemenangan, tetapi juga menjadi malam yang penuh pertimbangan bagiku."
Jonas tertawa kecil, lalu menyesap anggurnya. "Apa lagi yang perlu kau pertimbangkan? Aku telah membuktikan kehebatanku dalam perburuan itu untukmu."
Leora sedikit mengerlingkan mata ketika Jonas masih melanjutkan kalimatnya. Sudut bibirnya tertarik masam, seolah enggan menyetujuinya.
"Aku adalah putra mahkota Athena, bangsawan dan prajurit sejati. Jika kau memilihku, kau akan mendapatkan perlindungan yang layak, kehidupan yang terjamin, dan seorang suami yang mampu membawamu ke tempat yang lebih tinggi. Permata, istana, bahkan wilayah Boeotia dan Attika, aku akan memberikannya untukmu."
Leora menatapnya dengan tenang, lalu tersenyum tipis. "Aku tidak meragukan kehebatanmu, tetapi pernikahan bukan hanya soal kehebatan dan kekuasaan."
Sorot mata Leora menajam. "Bukan itu yang aku inginkan."
"Lalu, apa lagi?" tanya Jonas mengangkat alisnya.
Seringai remeh kemudian muncul di bibirnya. "Cinta, maksudmu? Itu tak lebih dari ilusi, sesuatu yang dipuja-puja orang bodoh. Apa yang benar-benar penting dalam pernikahan adalah stabilitas dan warisan. Kau adalah seorang putri, Leora. Seharusnya kau berpikir lebih besar daripada sekadar mementingkan perasaan dengan menjalankan kewajibanmu."