[Rated M | Romance Fantasi Mitologi]
Thebes adalah tanah kelahirannya. Tidak ada hal lain yang Leora inginkan sebagai Putri Thebes, selain mengabdikan dirinya kepada dewa dan menjaga kesuciannya hingga pernikahan. Sayangnya, manusia tidak bisa meneb...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
❃❃❃
AETIUS merasa dirinya seperti sedang menyiapkan pertempuran besar. Pikirannya terus berputar, tak mampu fokus pada apapun selain pertemuan yang menanti. Setiap langkah yang ia ambil terasa semakin berat, seolah beban takdir yang telah ia raih kini menunggu untuk dibongkar dan tak bisa ia hindari lagi.
Sesampainya di penginapannya, Aetius mengunci pintu kamarnya dengan hati-hati, seperti orang yang takut ada hal buruk yang datang dari luar. Ia berdiri di depan cermin besar di sudut ruangan, menatap refleksinya sembari mencari ketenangan yang ia rasa sudah lama hilang. Sosok di hadapannya adalah seseorang yang memiliki kekuatan tak terhingga, dewa yang mampu mengendalikan cahaya dan matahari, tetapi di dalam dirinya ada seorang lelaki yang rapuh dan penuh ketakutan.
Aetius menatap liranya yang putus, tetapi tak ada ketenangan yang bisa ia temukan di sana. Senar-senar yang terurai itu seakan mencerminkan kebimbangan dalam jiwanya yang retak, tak lagi mampu mengalunkan harmoni. Jemarinya yang terbalut perban sedikit bergetar saat ia mengepalkannya erat-erat. Luka di tangannya masih berdenyut perih, bekas goresan dawainya yang putus kemarin. Namun, rasa sakit itu bukan apa-apa dibandingkan dengan pergulatan batinnya. Kebohongan yang selama ini ia ciptakan harus berakhir. Sekarang juga.
Dia melangkah mendekati meja, tangannya terulur untuk mengambil sepotong batu mulia yang selama ini menjadi pelariannya saat merenung. Ia menggenggamnya erat, menggosok permukaannya di telapak tangan seakan mencari keteguhan di dalamnya. Kerasnya batu itu sejenak memberinya ilusi kekuatan, tapi tak bisa menghapus kegelisahan yang merayapi hatinya. Kekuatan itu terasa rapuh, seperti kepercayaan yang perlahan terkikis oleh kebohongan yang selama ini ia pertahankan.
Ini bukan hanya tentang dirinya dan Leora. Bukan hanya tentang perasaan mereka. Ini juga tentang takdir yang telah ia langgar, hukum para dewa yang ia tantang demi cinta. Namun, di atas segalanya, ini adalah tentang hubungan yang telah mereka bangun. Tentang janji yang mungkin saja akan hancur sebentar lagi.
Aetius menarik napas panjang, berusaha mengumpulkan keberanian yang terasa semakin sulit ia genggam. Apa yang akan ia lakukan malam ini akan mengubah segalanya. Takdir, kepercayaan, cinta—semuanya akan dipertaruhkan. Namun, ia masih berharap, Leora bisa melihatnya sebagai seorang pria yang benar-benar mencintainya—dengan segala kelemahan dan kesalahannya.
Dengan tekad yang baru, Aetius meninggalkan kamarnya dan berjalan menuju tempat yang telah ia janjikan. Ketika langkahnya semakin dekat ke tempat mereka akan bertemu, ia merasakan detak jantungnya berdegup kencang. Kini tidak ada lagi yang bisa disembunyikan, segala yang terpendam akan keluar.
Malam semakin larut, mencengkram mereka dalam kegelapan. Meskipun gemintang masih gemerlap dalam gugusan yang berpendar, tetapi kabut malam tak bisa dielak. Setiap langkah terasa mendebarkan, seolah mereka sedang berjalan tertutup mata di antara jurang yang curam.
Aetius berdiri di balik bayangan malam, matanya mencari sosok Leora yang berdiri di antara bunga bugenvil. Wajah gadis itu tampak lembut tatkala angin malam yang menyapu lembut rambutnya. Meskipun demikian, ketegangan masih tercetak jelas di sana.