48 || Siapa?

238 42 8
                                        

❃❃❃

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

❃❃❃

LANGIT Thebes berpendar merah ketika matahari mulai condong ke barat, seakan menandakan bahwa sebuah babak baru akan dimulai. Debu beterbangan di udara saat iring-iringan kloter terakhir memasuki kota, menarik perhatian rakyat yang telah memenuhi jalan besar menuju istana.

Di depan sana, sebuah pedati besar bergerak perlahan, ditarik oleh kuda-kuda yang tampak kelelahan setelah perjalanan panjang dari Gunung Helikon. Terpal yang menutupi pedati itu menggembung, memperlihatkan sesuatu yang besar di dalamnya. Gumam penasaran bergema di udara, orang-orang berbisik, menerka-nerka apa yang tersembunyi di balik kain itu.

Kerumunan di sepanjang jalan utama menahan napas ketika para prajurit menghentikan langkah tepat di pelataran istana. Bisikan semakin menyebar, membelah udara yang kering. Siapa yang telah menaklukkan Singa Cadmea? Apakah sayembara yang melelahkan ini benar-benar telah berakhir?

Banyak yang terpana, tak percaya bahwa makhluk yang begitu ditakuti kini telah ditaklukkan. Sebelum ini, belum pernah ada yang berhasil menundukkan monster itu, kecuali seseorang seperti Herakles-manusia setengah dewa. Apakah itu artinya Thebes telah mendapatkan anugrah dari para dewa?

Timon yang menjadi pemimpin perburuan pun maju ke tengah pelataran. Dengan satu gerakan, ia berlutut dan memberi hormat kepada rajanya. "Salam, Yang Mulia. Saya melaporkan bahwa perburuan telah selesai dilaksanakan."

Raja Eneas mengangguk. "Baik. Tunjukkan."

Timon memberi isyarat kepada beberapa prajurit. Mereka menarik terpal yang menutupi pedati dengan cekatan. Saat itu juga, mata semua orang terbelalak. Sejenak, keheningan menyelimuti alun-alun sebelum akhirnya sorak-sorai menggema.

Tubuh besar Singa Cadmea tergeletak kaku, luka-luka menganga di tubuhnya menjadi saksi bisu pertempuran sengit yang telah berlangsung. Bulunya yang dahulu berkilau keemasan kini ternoda darah dan debu. Beberapa anak panah dan sebilah tombak masih tertancap dalam dagingnya, mengabadikan jejak perlawanan terakhirnya.

Sayanganya, kegembiraan itu masih diselimuti oleh kebingungan. "Siapa yang membunuhnya?" Pertanyaan itu masih menggantung di udara.

"Siapa yang membunuhnya?" suara seseorang pecah di antara kerumunan.

Tatapan semua orang beralih ke dua sosok yang berdiri di belakang pedati-Jonas dan Aetius. Keduanya terluka, kelelahan, tetapi sikap mereka sangat kontras. Jonas berdiri tegak, dagunya terangkat tinggi seolah menunggu pengakuan atas keberhasilannya. Sementara Aetius tetap diam, sorot matanya tenang namun sulit ditebak.

Dari balkon istana, Leora menyaksikan segalanya dengan jantung berdebar kencang. Matanya membulat, terpatri pada satu sosok yang selama ini hanya bisa ia bayangkan. Setelah sekian lama, akhirnya ia dapat melihat Aetius lagi. Kehangatan itu pun menjalar di hatinya, sebuah kelegaan yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Namun, bayangan tentang apa yang terjadi kemarin kembali mengusik pikirannya.

THE HEART OF PHOEBUSCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang