[Rated M | Romance Fantasi Mitologi]
Thebes adalah tanah kelahirannya. Tidak ada hal lain yang Leora inginkan sebagai Putri Thebes, selain mengabdikan dirinya kepada dewa dan menjaga kesuciannya hingga pernikahan. Sayangnya, manusia tidak bisa meneb...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
❃❃❃
THEBES malam itu terasa seperti dunia yang terhenti. Angin malam berhembus kencang, membawa hawa dingin yang mengiris. Keheningan menyelimuti kuil itu, hanya ada suara angin yang menderu lembut melalui celah-celah batu.
Aroma dupa samar memenuhi udara, menciptakan kesan damai yang kontras dengan gejolak di hati Aetius. Dia melangkah masuk dengan langkah berat, jubahnya berkibar kasar oleh embusan angin. Matanya menatap jauh ke dalam bayangan, sementara pikirannya berputar tentang masa depan, tentang Leora, dan tentang peranannya dalam perubahan takdir ini.
Di hadapannya, sosok yang berselimut cahaya lembut dari obor itu menatapnya. Wajahnya tetap penuh ketenangan, meskipun ada ketegangan yang melingkupi rautnya. Namun, sorot lembut itu seolah berkata bahwa ia sudah menanti kedatangannya.
"Aku tahu kau akan kemari," ujarnya dengan tenang.
Aetius berhenti beberapa langkah di depannya. Napasnya masih tersengal, terbebani oleh emosi yang belum reda. Ia diam sejenak, menatap kosong sosok yang masih memperhatikannya.
"Apollo," panggil Artemis yang menarik perhatian Apollo dari lamunannya. "Zeus mencarimu."
Mata Apollo bersinar tajam, tetapi ada sentuhan kebosanan yang terlihat. "Zeus ... seharusnya aku tidak terkejut," jawabnya terkekeh ringan. "Aku tahu dia tidak akan menyukai hasil dari sayembara itu. Tapi aku tidak peduli. Aku punya urusan lain."
Artemis menghela napas lalu mendekat. "Jangan begitu. Kau tetap harus menghadap dan memberinya penjelasan."
"Tentang apa? Tentang bagaimana seorang manusia biasa berhasil mengacaukan rancangan dewa?" balas Apollo dengan tatapan menyeringai, penuh kebimbangan dan ketidakpedulian. "Aku tahu apa yang Zeus inginkan, Artemis. Tapi yang lebih penting saat ini, aku ingin tahu apa yang kau lakukan dengan Leora saat aku pergi."
Artemis terkejut, seolah tidak menyangka Apollo akan langsung mengarah ke sana. "Aku hanya...," kata-katanya terhenti sejenak, "aku hanya melindunginya."
"Melindunginya?" Apollo menyahut, suaranya penuh dengan sarkasme yang menyengat. "Aku tahu apa yang kau lakukan, Artemis. Kau yang membuatnya ragu pada diriku dengan memanipulasinya, kan?"
Artemis terdiam. Ada perasaan yang melanda dirinya saat mendengar kata-kata Apollo. Dia tahu benar bahwa keputusan yang diambilnya—saat ia menyamar sebagai ibu Leora—bukan tanpa pertimbangan.
"Aku hanya ingin dia tahu kebenarannya," jawab Artemis dengan suara yang lebih lemah. "Aku tidak ingin dia terjebak dalam dunia yang tidak ia pahami sepenuhnya."
"Tapi kau melangkah terlalu jauh!" sergah Apollo sehingga Artemis tersentak dari tempatnya.
"Mengapa?" suara Apollo kemudian pecah dalam kemarahan yang tertahan. Seharusnya ia tahu kalau saudari kembarnya, meskipun telah menolongnya dalam menangkap Singa Cadmea, tetap menentang pilihannya. Ia hanya merasa terkhianati setelah semua yang terjadi.