⚠️⚠️CERITA MENGANDUNG BAWANG⚠️⚠️
ALUR SUDAH DIREVISI
TRIPTHA SERIES 1 : EVIDEN Memandang Semesta Dari Mata Yang Terluka
Semesta itu indah jika dilihat dari mata orang-orang yang bahagia, tapi bagaimana jika keindahan semesta dilihat dari mata yang...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ujian sudah berakhir. Abel dan Aidan akhirnya bersama. Papa kembali dari pekerjaannya yang cukup lama. Seharusnya semua itu membuatku lega. Namun entah kenapa rasanya masih ada begitu banyak beban yang kutanggung.
Pasca ujian, anak-anak kelas 12 disibukkan dengan seleksi universitas. Aku di sini, di atas atap gedung IPS, tepatnya di rooftop. Bersama dengan Vicky.
Tidak ada hal yang baru. Hanya saja langit mendung siang ini. Asap kendaraan mengaburkan jarak pandang.
"Abel telfon kemarin, katanya dia udah persiapan operasi. Mungkin hari ini dia lagi operasi." Aku menopangkan dagu di punggung tangan.
"Semoga semuanya berjalan dengan lancar. Semoga Abel mendapatkan apa yang dia mau." Aku teringat kalung yang Aidan simpan. Aku membayangkan jadi Abel, pasti akan kaget diberi hadiah yang sama seperti hadiah yang dia dapatkan sebelumnya, "Kalung lagi?" aku akan bilang begitu.
"Gimana perasaan lo?" tanya Vicky. Aku senang akhirnya dia punya kemauan untuk menjawab curahatanku alih-alih hanya mendengarkan seperti biasanya.
"I dont know." Bahuku berkedik. Senyumku hambar. "Lo tau nggak, ketika lo nggak ngerasain apa-apa? Sedih enggak, seneng juga enggak, lega juga enggak. Pokoknya aneh, lah. Gue nggak bisa jelasin."
Vicky menopangkan tangannya di teralis. Matanya berkedip, memancarkan kemisteriusan. Dia diam, tapi juga banyak bicara dalam waktu yang sama. Mulutnya memang terkatup, tapi ada begitu banyak kata yang dia ungkapkan lewat matanya.
"Sampai kapan lo bakalan gini?"
Aku mengedik sekali lagi. "Sampai gue bisa move on dari Aidan."
"Sampai kapan lo bakalan nyembunyiin semua ini dari Aidan sama Abel?"
Entah perasaanku atau tidak. Siang ini Vicky terlihat lebih ekspresif daripada biasanya. Nada bicaranya seperti bukan Vicky.
"Gue nggak tau, Ki. Gue nggak punya jawaban."
Vicky menyipitkan mata. "Jadi, suatu saat lo berencana bilang tentang perasaan lo ke Aidan?"
Aku menelan ludah. Aku ingin menjawab ya, tapi aku tidak tau apakah aku bisa berpegang pada ucapanku. "Mungkin enggak."
Vicky membuang muka. Aku tau dia mendengus. "You should speak up."
"Nggak. Nggak akan pernah."
"Lo selalu kayak gitu, Ra. Lo nggak pernah berani buat speak up. Lo selalu nyakitin diri lo sendiri demi orang lain. Lo pikir Abel bakalan ngelakuin hal yang sama kalau dia di posisi lo? Lo punya banyak kesempatan---"