Zio really fell in love

2K 244 91
                                        

Zio menghela napasnya perlahan, cucian bajunya yang menumpuk sudah selesai ia cuci, dan berbagai pekerjaan rumah lainnya sudah selesai ia lakukan.

Lelaki ini tersenyum bangga. Namun baru saja hendak menuju kamarnya, ia menatap bingung pada pintu yang diketuk.

Membukanya perlahan, guratan bingung pada wajah Zio semakin menjadi kala mendapati Radika ada di sana, "Kak Radika." Katanya pelan.

Keduanya menuju sofa, Radika membawa beberapa makanan, "Tadi Hanif telfon katanya lo sendirian di apart, makanya gue disuruh kesini."

Zio mengangkat alis bingung, "Kak Hanif emang lagi pergi sih."

Menganggukkan kepalanya perlahan, sambil membuka bungkus makanan, Radika kembali berucap, "Makanya gue kesini, biar lo gak sendirian."

Zio diam, dikepalanya berkecamuk berbagai macam kemungkinan kenapa Hanif menyuruh Radika datang ke apartemen, Zio tak ingin merasa Hanif khawatir terhadapnya, ia tak mau terlalu percaya diri.

Radika memberikan sebuah burger pada Zio, yang langsung diambil lelaki itu dengan senyum, "Gak usah mikir macem-macem, Hanif itu peduli sama lo, Zi. Udah, lo cukup mikir begitu aja."

Mendengar itu, yang lebih muda nampak cemberut, Radika selalu bisa membaca pikirannya, "Gue boleh tanya gak, Kak Dika?"

"Tanya apa?"

Diam sesaat, Zio meringis, "Tentang Kak Hanif." Katanya pelan, yang langsung dibalas anggukan kepala oleh Radika. "Hm—Dia punya pacar gak ya, atau udah punya tunangan?"

Masih mengunyah makanan, Radika menggeleng, "Kalo punya tunangan atau pacar, dia gak bakalan tinggal bareng sama lo, Zi." Jawaban Radika itu membuat Zio berfikir.

Benar apa yang Radika sampaikan, berarti Hanif masih sendiri?

"Kalau mantan, Kak Hanif punya?" Tanya Zio hati-hati.

Namun kali ini Radika tak langsung menjawab, lelaki itu menatap Zio lama, sebelum kembali menggigit burger yang ada ditangannya, "Lo naksir Hanif, ya?" Tanyanya balik.

Zio kelabakan, tapi bukankah tingkahnya yang seperti ini memang membuat siapa saja berpikiran demikian, makanya Zio berpikir daripada mengelak, kenapa tak langsung mengaku saja pada Radika, toh orang didepannya ini adalah sahabat Hanif, orang yang tau banyak tentang Hanif, Zio bisa memanfaatkan Radika untuk mengulik informasi.

Menatap burger yang berada ditangannya, Zio menunduk, "Bohong gak sih Kak, kalo misalnya gue bilang gak suka dia, setelah semua perhatian yang udah dia kasih." Zio tak mampu menatap Radika, "Gue tau dia orang yang baik, gue mungkin udah salah mengartikan semua kebaikan dia selama ini." Lelaki ini terkekeh, "Gue malah diem-diem nyimpen perasaan buat dia."

Baru saja Radika hendak menjawab, Zio kembali berucap, "Gue udah siap kok sama semua kemungkinan jawaban yang bakal Kak Radika kasih, gue juga gak terlalu memaksakan perasaan gue."

Radika menghela napas, "Hanif pernah naksir orang waktu masih SMA." Radika meminum minumannya, "Itu lumayan nyakitin buat Hanif sih, makanya sampe sekarang dia milih buat sendiri."

"Oh ya?" Zio penasaran bukan main, "Mereka putus kenapa?"

Mencoba merangkai kata-kata, Radika menoleh kearah langit-langit seperti mengingat sesuatu, "Gak putus kok, mereka malah gak pernah jadian." Jawabnya, "Gue gak bisa cerita banyak, Zi, ini menyangkut hal pribadi Hanif, tapi gue pengen ngomong satu hal sama lo." Radika menghadap Zio, membuat yang lebih muda menatapnya bingung, "Semakin lo kenal Hanif, lo bakalan banyak dapet jawaban dari semua pertanyaan lo tentang Hanif selama ini. Tapi lo gak boleh terburu-buru, lo gak boleh percaya apapun yang orang lain bilang tentang Hanif kalo bukan Hanif sendiri yang bilang." Menghela napasnya, Radika perlahan tersenyum, "Tapi yang pasti, Hanif udah selesai sama masa lalunya. Lo harus percaya itu."

🏷️

"Tadi Radika kesini, ya?" Tanya Hanif yang baru saja duduk disebelah Zio, lelaki ini baru saja pulang setelah pergi dari siang tadi.

Zio menganggukkan kepala, "Baru aja pulang, Kak." Balas Zio, "Kak Hanif udah makan malem? mau dipesenin makan?"

Terkekeh sesaat, Hanif menggeleng pelan, "Udah makan di rumah Papa tadi, Zi." Katanya, "Padahal tadi siang saya ajakin kamu tuh sekalian mau ngenalin kamu ke Papa."

Zio reflek menoleh mendengarnya.

"Tapi gapapa kalo hari ini emang belum sempet, besok-besok aja." Lanjutnya.

Sedangkan Zio merutuki dirinya didalam hati, kan nyucinya bisa besok-besok, ketemu Papanya Kak Hanif kapan lagi?

"Hehe iya, besok-besok." Zio masih meringis dalam hati.

Keduanya dilanda hening, Zio masih merasa kesal pada diri sendiri, sedangkan Hanif bingung ingin mengajak Zio berbincang tapi lelaki itu terlihat sangat fokus pada acara yang ada ditelevisi.

Hanif menoleh pada Zio, "Sebenernya—" Lelaki ini menghela napas, "Besok saya ada acara makan malem keluarga, Zi. Kalo kamu gak ada acara lain, mau ikut sama saya, gak?"

Zio balas menatap Hanif, lelaki ini diam, namun tak menampik rasa senang dihati. "Emangnya boleh?" Zio balik bertanya.

"Kenapa nggak?" Hanif tersenyum.

Kemudian anggukan kepala dari yang lebih muda, Zio merasa antusias. Mengetahui bahwa ia akan makan bersama keluarga Hanif membuat Zio sangat bersemangat.

"Yaudah kalo gitu, saya mau ke kamar dulu, ya." Hanif bangkit dari duduknya.

Lelaki ini berlalu, namun sebelum itu, tangan kanannya sempat mengacak rambut Zio perlahan, sepertinya ia menangkap binar dari mata Zio pertanda lelaki itu sangat senang.

Sedangkan Zio mematung, benar-benar diam tak bergerak, baru lah ketika pintu kamar Hanif berbunyi, lelaki ini menutup wajahnya yang ia yakini sangat merah, "Muka gue keliatan naksir dia banget kah? Kok jadi gini, kok kayak ngegas gini, aduh." Zio mencoba bangkit menuju kamarnya, "Hancur lebur hati gue, Kak, ya Tuhan." Monolognya.

Sejak menyadari perasaannya pada Hanif, dan mengakui semuanya pada Radika, Zio merasa tak apa-apa apapun hasilnya nanti, yang penting ketika keduanya bersama, Zio akan selalu memanfaatkan saat-saat kebersamaannya bersama Hanif, karna lelaki ini tidak pernah tau kapan semuanya akan berakhir.

Zio sempat menoleh kearah kamar Hanif sebelum memasuki kamarnya, "Lama ngejomblo kayaknya sekarang makin jago deh bikin hati orang berantakan." Ucapnya, lalu tertawa sendiri, "Misyella harus tau semua ini sih." Ucapnya sebelum menutup pintu.

" Ucapnya sebelum menutup pintu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

To be continued...

terharu bangettt 😥

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

terharu bangettt 😥

DisparateCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang