Zio and hanif's feelings

2K 234 36
                                        

Sesampainya di apartemen, Hanif langsung menelisik wajah Zio yang masih memerah, meletakkan punggung tangannya di jidat yang lebih muda, bahkan belakang lehernya, guna memeriksa suhu tubuh.

Zio tersenyum canggung, tau betul bahwa dirinya baik-baik saja, dan Hanif lah penyebab utama wajahnya yang memerah seperti ini.

"Kita gak usah makan malem sama Radika deh kalo gitu, kamu istirahat aja." Ucapnya, sedangkan Zio mengangkat alis terkejut, "Kamu mau makan apa, nanti saya pesen sekalian beli obat juga."

Zio mengerjap, "Loh, saya baik-baik aja, Kak Hanif." Ia memberitahu, "Jangan dibatalin makan malemnya, gak enak sama Kak Radika."

"Ya, gapapa. Kalo emang gak enak badan gak usah maksain."

Harus bagaimana lagi Zio menjelaskannya, "Saya gapapa Kak Hanif, saya sehat, ini mungkin karna panas aja. Nanti selesai mandi udah biasa lagi." Tak lupa senyum terbaiknya ia berikan, membuat Hanif menghembuskan napasnya pelan.

"Beneran gapapa?" Tanya Hanif sekali lagi, dan Zio mengangguk cepat. "Yaudah, kalo gitu makan malemnya di sini aja, nanti saya pesankan makanan."

Alis yang lebih muda menyatu, kenapa jadi seperti ini, ucapnya dalam hati. Tapi tak lagi membantah ucapan Hanif, Zio hanya mengangguk pelan, sebelum berpamitan menuju kamar terlebih dahulu.

🏷️

Tersenyum canggung menatap empat orang didepannya ini, jujur saja tak ada yang bisa Zio lakukan selain memainkan kuku-kukunya.

Tadi sore Hanif hanya bilang akan makan malam bersama Radika dan pacarnya, Sekala. Namun entah bagaimana ceritanya, ketika Zio keluar kamar, sudah ada Hadif dan juga Jana di sana memandang penasaran padanya.

Radika berdehem, memecah keheningan. "W—wow banyak juga nih makanan." Ucapnya kaku, Kala sampai menundukkan kepala.

"Let's talk about this couple first." Sambung Hadif, membuat Radika yang hendak menyuapkan sepotong pizza kedalam mulutnya jadi terhenti. "Lo gak bilang kalo tinggal bareng Zio." Katanya pada Hanif yang menampakkan wajah datarnya.

Zio melirik kearah Radika terlihat pasrah diraut wajahnya.

Hanif menghela napas, "Gue udah bilang Papa waktu makan malem itu." Jawab Hanif santai.

Sang lawan bicara menaikkan alis, "Jadi udah selama itu." Hadif berucap pelan, membuat Hanif melirik, "Trus, udah official?" Ia bertanya.

Zio tertawa canggung mendengarnya, dengan cepat ingin menjawab, namun jawaban Hanif membuat lelaki ini terdiam.

"Iya, udah official."

Radika dan Sekala melotot, bahkan Zio bisa melihat tatapan menuntut yang diberikan Radika padanya, juga senyum menggoda milik Jana yang duduk diam sedari tadi disebelah Hadif.

Bakal jadi masalah baru nih, batin Zio. Lelaki ini menunduk dalam, tak ada rasa senang sama sekali dihatinya ketika Hanif mengakui dirinya sebagai pacar, karna memang kenyataannya tak seperti itu kan?

Hadif terkekeh, Zio menoleh ketika mendengar itu, "Hanif dan segala tindakannya yang tak terduga." Ucapnya, "Jadi, makan malem ini sebagai sebuah perayaan?"

Zio menoleh cepat ketika lagi dan lagi jawaban dari Hanif benar-benar diluar dugaannya, "Iya." Kata lelaki disebelahnya itu, "Jadi, ayo cepet nikmatin makan malemnya, karna pacar gue lagi gak enak badan dan perlu istirahat."

Mendengar penekanan dalam setiap kata yang Hanif keluarkan, Hadif dibuat tertawa pelan, lalu mempersilahkan semua orang untuk makan. Sedangkan Zio tersenyum canggung, pastilah setelah ini Radika akan membombardir dirinya dengan berbagai pertanyaan.

DisparateCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang