Dua Tujuh

2.8K 213 22
                                        


"Pah, Jungkook... dia sakit kanker pankreas." ucap Jimin.

Semuanya terdiam, mencerna apa yang barusan mereka dengar. Hingga keheningan itu terpecah ketika semua mendengar tangisan dari sang mama. Semua menatap Joohun menuntut sebuah kepastian dari apa yang Jimin katakan namun dia masih membisu, lebih tepatnya tak tau apa yang harus dia katakan kepada anak-anaknya saat dirinya pun tak mampu menerima kenyataan ini.

"Jungkook mungkin sudah merasakan gejalanya sejak dulu, dan dia hanya bilang itu adalah maag, ditambah dia juga dirawat beberapa hari saat di asrama. Jin juga menemukan resep ditanggal yang sama saat ayah menghukumnya terakhir kali, dan Tae juga bilang Jungkook dirawat di rumah sakit beberapa hari yang lalu. Kita semua terkejut bukan ?, dia benar-benar menerima segalanya, SENDIRIAN." Penekanan di akhir kaliamat Seokjin membuat semuanya tersadar, sejak Kim Hana meninggal, Jungkook tak pernah lagi membagi keluh kesah kepada semua yang dianggap keluarga.

"Semuanya telah terjadi," ucap Joohun. "Jungkook putraku yang hebat, papa yakin dia anak yang kuat. Kita hanya perlu mendukungnya memberikan kebahagiaan untuk proses penyembuhannya. Jangan pernah memasang wajah khawatir ataupun sedih di depannya, papa yakin dia tak mengingginkan hal itu." tambahnya.

Taehyung berdiri dia beranjak dari sana, "Bi, mana buburnya biar Tae antar sekarang." Dia merasa kecewa, entah pada dirinya sendiri atau dengan reaksi papanya. Semuanya telah terjadi, memang benar, tapi kenapa kata-kata itu terasa menyakitkan ?.

Satu-persatu dari mereka meninggalkan meja makan, menyisakan Joohun dan Soomi yang masih menangis.

"Sstt... jangan menangis, Jungkook pasti akan baik-baik saja," ucap Joohun menenangkan Soomi yang masih menangis.

"Aku bahkan belum pernah bisa berbicara dengan Jungkook, Mas. Mungkin dia sakit juga gara-gara aku."

"Hei, tak ada yang salah disini. Jungkook sakit karena takdir. Dia pasti sembuh, aku pastikan itu. Aku akan mengeluarkan biaya berapapun untuk membuatnya sehat kembali."

"Bisakah urusan butik ditunda 2 atau 3 hari kedepan ?. Aku ingin merawat Jungkook, atau setidaknya menemaninya." pinta Soomi.

Joohun berpikir sejenak, butik yang dulunya milik mendiang istrinya memang sedang sibuk untuk proses pemindahan atas nama Soomi yang akan mengelola kedepannya, dan Joohun belum bisa melepaskan Soomi begitu saja untuk merawat Jungkook karena kejadian masa lalu. "Enggak, biar aku yang di rumah mengurus Jungkook. Bukannya aku tak mempercayaimu, aku hanya tak ingin hal-hal buruk terjadi antara kamu dan Jungkook." jawabnya.

Soomi mendengus sedikit kesal, sifat Joohun yang seperti inilah yang membuanya susah untuk mendekati Jungkook. Dia selalu melarang untuk dekat dengan Jungkook dengan alasan bukan waktu yang tepat dan karena kejadian masa lalu dimana Jungkook mengacungkan pisau mengancam akan membunuhnya.

"Setelah uurusan butik selesai kita cuti beberapa minggu untuk merawat Jungkook. Aku janji." ucap Joohun setelah melihat raut kecewa di wajah istrinya.

.

.

.

.

.

Suasana rumah kembali sepi, hanya menyisakan Joohun yang sibuk dengan laptopnya di ruang keluarga, dan Jungkook yang belum keluar dari kamarnya. Joohun belum siap untuk bertemu putra bungsunya itu, perasaannya begitu campur aduk.

Setelah beberapa jam selesai dengan pekerjaan dan pikirannya, Joohun pun memberanikan diri untuk bertemu putra bungsunya sekaligus mengecek keadaannya.

Menaiki satu persatu anak tangga hingga akhirnya berdiri tepat di depan pintu kamar Jungkook. Dibukanya pintu ruangan itu dan terlihat Jungkook dengan tidurnya yang gelisah.

Shine on MeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang